Kopi Langka Lereng Gunung Raung, “Emas Hijau” Banyuwangi Tembus Pasar Premium

Lereng Gunung Raung Banyuwangi menyimpan kopi langka Arabika Yellow Caturra dan Yellow Bourbon. Varietas premium ini jadi emas hijau baru penopang ekonomi petani.

Feb 5, 2026 - 18:51
 0  3
Kopi Langka Lereng Gunung Raung, “Emas Hijau” Banyuwangi Tembus Pasar Premium
sumber foto : gg

Eksplora.id - Lereng Gunung Raung di wilayah Kecamatan Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menyimpan potensi besar komoditas pertanian bernilai tinggi yang kini dijuluki sebagai “emas hijau” Banyuwangi. Di jalur pendakian gunung berapi aktif tersebut, tumbuh kopi langka jenis Arabika Yellow Caturra dan Arabika Yellow Bourbon, dua varietas premium yang memiliki nilai jual tinggi di pasar kopi kelas atas dunia.

Keberadaan kopi ini menjadi bukti bahwa Banyuwangi tidak hanya dikenal sebagai daerah wisata, tetapi juga sebagai sentra penghasil kopi berkualitas ekspor dengan karakter rasa yang khas dan berbeda dari daerah lain di Indonesia.

Varietas Langka Bernilai Tinggi

Kopi Arabika Yellow Caturra dan Yellow Bourbon tergolong varietas langka di Indonesia. Di pasar internasional, kedua jenis kopi ini masuk kategori specialty coffee yang banyak diburu oleh roaster dan penikmat kopi kelas premium.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyebut keberadaan kopi ini sebagai keunggulan strategis daerah.

“Ini salah satu jenis kopi premium yang dimiliki Banyuwangi. Tidak banyak daerah di Indonesia yang bisa mengembangkan Yellow Caturra dan Yellow Bourbon dengan kualitas baik. Tapi Banyuwangi punya keunggulan itu,” ujar Ipuk, Senin (2/2/2026).

Menurut Ipuk, kopi langka ini menjadi aset penting dalam penguatan identitas Banyuwangi sebagai daerah penghasil produk pertanian bernilai tinggi.

Produksi Terbatas, Kualitas Tinggi

Saat ini, kopi Arabika Yellow Caturra dan Yellow Bourbon di Kalibaru ditanam di lahan seluas 7 hektare. Meski luasnya relatif terbatas, produktivitas kopi ini terbilang tinggi dengan rata-rata 1 ton per hektare.

Dari luasan tersebut, total produksi biji kopi mentah atau green bean mencapai sekitar 7 ton per tahun. Angka ini dinilai sangat potensial mengingat segmen pasar yang dibidik adalah pasar premium dengan harga jual jauh di atas kopi konvensional.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kabupaten Banyuwangi, Danang Hartanto, menjelaskan bahwa pengembangan kopi langka ini kini dilakukan secara lebih serius dan terarah.

Dukungan Alam Lereng Raung

Menurut Danang, kondisi geografis lereng Gunung Raung sangat ideal untuk pertumbuhan kopi Arabika berkualitas tinggi.

“Topografi di Kalibaru sangat ideal. Tanahnya subur, iklimnya cocok, sehingga menghasilkan kopi dengan cita rasa yang khas dan berpotensi besar untuk pasar internasional,” jelasnya.

Tanah vulkanik Gunung Raung yang kaya mineral, ketinggian wilayah, serta suhu yang sejuk menjadi kombinasi penting dalam membentuk karakter rasa kopi. Faktor-faktor tersebut menghasilkan profil cita rasa yang kompleks, seimbang, dan memiliki keunikan tersendiri.

Asal Usul Kopi Yellow Caturra dan Yellow Bourbon

Berdasarkan sejarahnya, varietas Yellow Caturra diyakini berasal dari kawasan Amerika Latin seperti Kolombia, Kosta Rika, dan Nikaragua, sebelum kemudian banyak dikembangkan di Brasil.

Sementara itu, Yellow Bourbon juga berasal dari Brasil dan dikenal sebagai salah satu varietas Arabika terbaik di dunia. Di Indonesia, kedua varietas ini dibawa pada masa kolonial Belanda dan hanya dapat ditemukan di beberapa wilayah dataran tinggi tertentu.

Selain Banyuwangi, kopi jenis ini tercatat tumbuh terbatas di beberapa daerah seperti Jawa Barat, Jawa Timur, serta Nusa Tenggara Timur (Flores dan Bajawa).

Salah satu ciri khas utama kopi ini adalah warna buah kopi (ceri) yang kuning saat matang, berbeda dari kopi pada umumnya yang berwarna merah. Dari buah inilah dihasilkan rasa manis alami dengan tingkat keasaman yang seimbang dan bersih.

Strategi Diversifikasi dan Kesejahteraan Petani

Danang menegaskan bahwa pengembangan kopi langka ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi produk pertanian Banyuwangi. Tujuannya tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas, tetapi juga memperkuat kesejahteraan petani di wilayah lereng Gunung Raung.

Dengan menggarap segmen kopi premium, petani tidak lagi hanya bergantung pada volume produksi, melainkan pada kualitas dan nilai jual. Hal ini sejalan dengan arah pembangunan pertanian Banyuwangi yang menekankan keberlanjutan, kualitas, dan daya saing global.

Ke depan, kopi Arabika Yellow Caturra dan Yellow Bourbon dari Banyuwangi diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia di pasar kopi spesialti dunia, sekaligus menjadikan lereng Gunung Raung sebagai salah satu ikon kopi premium Nusantara.**DS

Baca juga artikel lainnya :

ngopi-yuk-dari-ajakan-sederhana-menjadi-cermin-budaya-kebersamaan-di-indonesia