Serangga, Protein dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Jan 30, 2025 - 19:00
 0  7
Serangga, Protein dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Eksplora.id - Dadan Hindayana, Kepala Badan Gizi Nasional, mengungkapkan bahwa serangga, seperti ulat sagu dan belalang, bisa menjadi sumber protein yang layak konsumsi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut Dadan, serangga tidak hanya kaya protein tetapi juga dapat menjadi alternatif pangan yang terjangkau dan mudah terakses, terutama pada daerah-daerah yang warganya sudah terbiasa mengonsumsinya. Badan Gizi Nasional tidak menetapkan menu nasional untuk MBG, tetapi lebih fokus pada standar komposisi gizi yang harus terpenuhi. Oleh karena itu, penentuan menu bergizi dalam program ini sangat bergantung pada potensi sumber daya lokal dan kebiasaan makan masyarakat setempat. Keberagaman pangan pada setiap daerah, termasuk serangga, bisa menajdi manfaat sebagai bahan pangan utama dalam menu MBG.

Keunggulan Serangga Sebagai Sumber Protein

Serangga, seperti ulat sagu dan belalang, memiliki kandungan protein yang tinggi dan dapat menjadi alternatif pangan bergizi. Ulat sagu, misalnya, mengandung protein setara dengan daging sapi dan memiliki kandungan lemak sehat serta mikronutrien penting lainnya. Belalang juga kaya akan protein berkualitas tinggi dengan kandungan lemak yang lebih rendah daripada sumber protein hewani lainnya. Pada daerah-daerah yang memiliki tradisi mengonsumsi serangga, seperti ulat sagu dan belalang, sangat mudah menemukan bahan pangan ini. Oleh karena itu, serangga bisa menjadi pilihan utama dalam menu MBG, terutama pada wilayah yang memiliki potensi sumber daya serangga yang melimpah. Serangga juga mendukung keberlanjutan pangan karena jejak ekologisnya yang lebih rendah daripada dengan daging atau ikan, yang membutuhkan lebih banyak sumber daya alam untuk produksinya.

Tantangan Sosial dan Budaya dalam Mengonsumsi Serangga

Meskipun serangga memiliki banyak manfaat gizi, penerimaan masyarakat terhadap serangga sebagai bahan pangan bisa menjadi tantangan. Beberapa wilayah yang belum terbiasa mengonsumsinya mungkin mengalami penolakan. Untuk itu, penting untuk melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai manfaat gizi serangga dan cara pengolahannya yang aman dan bersih. Edukasi yang melibatkan masyarakat dapat membantu mengenalkan serangga sebagai sumber protein yang tidak hanya bergizi, tetapi juga mudah diolah. Dengan pendekatan yang tepat, masyarakat bisa lebih terbuka untuk mencoba serangga sebagai alternatif pangan yang sehat dan bergizi.

Standar Komposisi Gizi dalam Program MBG

Badan Gizi Nasional menetapkan standar komposisi gizi yang mencakup protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral  untuk menciptakan pola makan bergizi. Program MBG dirancang untuk menyediakan keseimbangan gizi yang tepat sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, seperti serangga, program ini dapat memberikan menu makan yang bergizi dan terjangkau, sekaligus mendukung keberlanjutan pangan.

Keberagaman Pangan Lokal untuk Ketahanan Pangan

Keberagaman pangan lokal menjadi kunci dalam mendukung ketahanan pangan di daerah-daerah. Program MBG dapat memanfaatkan berbagai produk pangan lokal yang mudah didapat di setiap wilayah. Di daerah yang kaya akan sagu, misalnya, ulat sagu bisa menjadi pilihan utama. Sementara itu, pada daerah dengan banyak serangga lain, seperti belalang, bahan pangan ini bisa menjadi opsi tambahan dalam menu MBG.

Serangga Sebagai Masa Depan Pangan Bergizi

Pengenalan serangga sebagai sumber protein dalam program MBG memiliki potensi besar untuk menciptakan pola makan bergizi yang berbasis pada sumber daya lokal. Hal ini tidak hanya mengatasi masalah kekurangan gizi, tetapi juga memperkenalkan alternatif pangan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dengan dukungan pemerintah, masyarakat, dan para ahli, serangga bisamenjadi sumber pangan yang sehat dan bergizi. Edukasi yang tepat dan pemahaman mengenai manfaat serangga akan membuka peluang besar untuk menciptakan program MBG yang sukses dan berkelanjutan, serta mengurangi ketergantungan pada pangan impor.