Tradisi Wiwitan di Sajian Kembang Turi: Simbol Rasa Syukur Petani

Tradisi Wiwitan merupakan salah satu ritual adat yang masih lestari di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di Jawa.

Mar 15, 2025 - 09:33
 0  8
Tradisi Wiwitan di Sajian Kembang Turi: Simbol Rasa Syukur Petani
sumber foto : gg

Eksplora.id - Tradisi Wiwitan merupakan salah satu ritual adat yang masih lestari di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di Jawa. Tradisi ini dilakukan oleh para petani sebelum memulai panen sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil bumi yang melimpah. Dalam pelaksanaannya, Wiwitan kerap disertai dengan sesaji khas, salah satunya adalah kembang turi.

Makna Wiwitan dan Peran Kembang Turi

Wiwitan berasal dari kata "wiwit" dalam bahasa Jawa yang berarti "memulai" atau "awal". Ritual ini menjadi bentuk doa bersama agar proses panen berjalan lancar dan hasil yang diperoleh berkah. Salah satu sajian yang sering disiapkan dalam ritual ini adalah kembang turi, yaitu bunga dari pohon turi (Sesbania grandiflora) yang memiliki makna filosofis tersendiri.

Kembang turi dalam tradisi Jawa melambangkan kesederhanaan, keikhlasan, dan harapan baik. Bunga ini memiliki rasa sedikit pahit, tetapi dipercaya dapat membawa ketenangan dan kesehatan. Oleh sebab itu, kembang turi sering disajikan dalam bentuk sayur atau urap sebagai bagian dari makanan tradisional yang dihidangkan dalam Wiwitan.

Prosesi Wiwitan dengan Sajian Kembang Turi

Prosesi Wiwitan biasanya dilakukan di sawah sebelum padi mulai dipanen. Para petani akan berkumpul dan membawa sesaji yang berisi berbagai makanan khas, seperti:

  • Tumpeng kecil, simbol harapan dan doa kepada Tuhan
  • Sego wiwit (nasi wiwitan), yang sering disajikan dengan lauk sederhana seperti tahu, tempe, dan urap sayur
  • Kembang turi, baik dalam bentuk rebusan maupun sayur urap sebagai perlambang ketulusan dalam menerima rezeki
  • Air kelapa muda, sebagai penanda kesucian dan pembaruan semangat

Ritual dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh tetua adat atau sesepuh desa. Setelah doa, sesaji diberikan kepada alam sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Sri, yang diyakini sebagai dewi padi dan kesuburan. Setelah itu, makanan yang telah disiapkan akan disantap bersama-sama oleh para petani.

Pelestarian Tradisi Wiwitan

Di era modern ini, tradisi Wiwitan masih dijaga oleh masyarakat pedesaan yang memegang teguh nilai-nilai budaya leluhur. Sajian kembang turi tetap menjadi bagian penting dalam ritual ini, tidak hanya karena makna filosofisnya, tetapi juga karena manfaat kesehatannya.

Selain sebagai simbol kesederhanaan, kembang turi juga dikenal memiliki khasiat obat, seperti mengurangi peradangan dan memperkuat daya tahan tubuh. Oleh karena itu, pelestarian tradisi Wiwitan tidak hanya berdampak pada budaya, tetapi juga pada keberlanjutan konsumsi makanan sehat berbasis lokal.

Dengan mempertahankan tradisi Wiwitan beserta sajian khasnya seperti kembang turi, masyarakat tidak hanya menjaga kearifan lokal tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan dan rasa syukur atas hasil bumi yang diperoleh. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa keberkahan sejati datang dari kesederhanaan, keikhlasan, dan rasa syukur kepada Tuhan serta alam semesta.

Baca juga artikel lainnya :

tradisi nyale ritual menangkap cacing laut di lombok dan pesonanya sebagai daya tarik wisata