Tradisi Nyale: Ritual Menangkap Cacing Laut di Lombok dan Pesonanya sebagai Daya Tarik Wisata
Nyale merupakan tradisi tahunan masyarakat Sasak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang melibatkan ritual menangkap cacing laut (nyale).

Eksplora.id - Nyale merupakan tradisi tahunan masyarakat Sasak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang melibatkan ritual menangkap cacing laut (nyale). Perayaan ini tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga daya tarik wisata yang menarik banyak pengunjung, baik dari dalam maupun luar negeri.
Legenda Putri Mandalika
Tradisi Bau Nyale berasal dari kisah Putri Mandalika, seorang putri cantik yang diperebutkan oleh banyak pangeran. Demi menghindari konflik, ia mengorbankan dirinya dengan melompat ke laut. Masyarakat percaya bahwa Putri Mandalika menjelma menjadi nyale, dan kemunculan cacing laut ini dianggap sebagai berkah bagi kehidupan mereka.
Prosesi Bau Nyale
Bau Nyale berarti "menangkap cacing laut" dalam bahasa Sasak. Ritual ini dilakukan di beberapa pantai di Lombok, seperti Pantai Seger, Pantai Kuta Mandalika, Pantai Kaliantan, dan Pantai Selong Belanak. Warga berkumpul sejak dini hari untuk menangkap nyale menggunakan jaring, ember, atau langsung dengan tangan.
Menariknya, tradisi Bau Nyale tidak hanya berlangsung satu kali dalam setahun, tetapi dua kali, yakni pada bulan Februari dan November. Perbedaan ini disebabkan oleh siklus kemunculan nyale yang mengikuti fase bulan dan kondisi laut. Bau Nyale yang lebih dikenal secara nasional biasanya terjadi pada Februari atau Maret, sementara ritual yang lebih lokal dan sakral berlangsung pada November.
Nyale yang ditangkap dipercaya memiliki berbagai manfaat, termasuk menyuburkan tanah pertanian, membawa keberuntungan, dan menjaga kesehatan. Selain itu, cacing laut ini juga dikonsumsi sebagai hidangan khas, seperti pepes nyale atau digoreng dengan bumbu tradisional.
Daya Tarik Wisata dan Festival Budaya
Bau Nyale tidak hanya sekadar ritual menangkap cacing laut, tetapi juga menjadi festival budaya yang meriah. Acara ini menampilkan berbagai pertunjukan seni tradisional, seperti tari-tarian, musik gamelan Sasak, serta teater yang mengisahkan legenda Putri Mandalika. Selain itu, ada lomba perahu hias, pertunjukan peresean (adu rotan khas Lombok), dan bazar kuliner khas daerah.
Pemerintah daerah Lombok juga memanfaatkan tradisi ini sebagai ajang promosi wisata. Festival Bau Nyale kini menjadi bagian dari kalender pariwisata nasional, menarik wisatawan yang ingin menikmati keindahan pantai selatan Lombok sekaligus menyaksikan budaya lokal yang unik.
Kuliner Berbahan Nyale
Selain sebagai bagian dari ritual, nyale juga memiliki nilai kuliner yang khas. Masyarakat Sasak mengolah nyale menjadi berbagai hidangan lezat, seperti:
- Pepes Nyale – Nyale dibumbui rempah-rempah, dibungkus daun pisang, lalu dikukus atau dibakar.
- Nyale Goreng – Cacing laut ini digoreng hingga renyah dan disajikan dengan sambal pedas.
- Tumis Nyale – Nyale dimasak dengan bumbu khas Sasak, seperti bawang merah, cabai, dan serai.
Makna Filosofis dalam Kehidupan Masyarakat Sasak
Bagi masyarakat Sasak, tradisi Bau Nyale bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi juga simbol persatuan dan penghormatan terhadap alam. Mereka percaya bahwa menjaga tradisi ini berarti melestarikan warisan leluhur sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem laut.
Dengan semakin populernya festival ini, harapannya tradisi Bau Nyale tetap lestari dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Lombok tidak hanya dikenal karena keindahan pantainya, tetapi juga karena kekayaan budaya yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Baca juga artikel lainnya :