Lampoep: Inovasi Lampu Ramah Lingkungan dari Limbah Tahu dan Kotoran Sapi

Dalam dunia desain yang semakin mengedepankan keberlanjutan, Lampoep hadir sebagai inovasi unik yang mengubah limbah menjadi produk bernilai tinggi.

Mar 15, 2025 - 13:09
 0  11
Lampoep: Inovasi Lampu Ramah Lingkungan dari Limbah Tahu dan Kotoran Sapi
sumber foto : gg

Eksplora.id - Dalam dunia desain yang semakin mengedepankan keberlanjutan, Lampoep hadir sebagai inovasi unik yang mengubah limbah menjadi produk bernilai tinggi. Lampu ini merupakan hasil kolaborasi antara Cowka, desainer asal Amsterdam Pim van Baarsen, dan desainer Indonesia Ratna Djuwita. Proyek ini menantang anggapan bahwa limbah tidak memiliki nilai dengan mengubah limbah cair tahu dan kotoran sapi—dua sumber yang sering diabaikan—menjadi sebuah lampu kontemporer yang dibuat dengan tangan.

Transformasi Limbah Menjadi Material Berkualitas

Limbah cair tahu dan kotoran sapi biasanya dibuang begitu saja, mencemari lingkungan dan menambah volume limbah organik. Namun, para desainer di balik Lampoep melihat potensi tersembunyi dalam material ini. Limbah cair tahu diolah menjadi nanocellulose, bahan yang memiliki sifat ringan, kuat, dan dapat menyaring cahaya dengan sempurna. Hasilnya adalah permukaan lampu yang halus dengan pencahayaan yang lembut dan alami.

Sementara itu, kotoran sapi diproses menjadi tanah liat alami yang kemudian dijadikan lapisan luar lampu. Proses ini tidak hanya memberikan tekstur alami yang unik tetapi juga memperkuat struktur lampu. Kombinasi nanocellulose dari limbah tahu dan tanah liat berbasis kotoran sapi menciptakan produk yang estetis, fungsional, dan ramah lingkungan.

Filosofi Desain dan Keberlanjutan

Proyek ini sejalan dengan manifesto kesadaran ekologis Cowka, yang berfokus pada upaya mengubah limbah menjadi karya desain, melindungi planet, dan menginspirasi gaya hidup berkelanjutan. Lampoep tidak hanya sekadar produk, tetapi juga gerakan yang mendorong industri untuk mengadopsi desain sirkular.

Dengan filosofi "Tangan Lokal, Dampak Global," proyek ini melibatkan para pengrajin dari Kampung Bukatanah, Lembang, Bandung Barat, dalam proses produksinya. Dengan memberdayakan pengrajin lokal, Lampoep juga menciptakan dampak sosial positif, memberikan peluang ekonomi baru, dan memperkenalkan teknik pengolahan limbah yang inovatif.

Pameran dan Pengakuan Global

Lampoep dipamerkan di Erasmus Huis di Jakarta sebagai bagian dari pameran Design Matters LAB (28 Februari–3 Mei 2025). Pameran ini menghadirkan berbagai inovasi desain berkelanjutan dari seluruh dunia, menjadikan Lampoep sebagai salah satu sorotan utama. Keunikan dan konsep berkelanjutan yang diusungnya menarik perhatian banyak pihak, termasuk desainer, akademisi, dan industri manufaktur.

Pim van Baarsen, desainer senior dan co-founder Super Local, membawa pengalaman global dalam desain keberlanjutan, dengan proyek-proyek yang telah ia kembangkan di Nepal, Malawi, dan Rwanda. Sementara itu, Ratna Djuwita, seorang arsitek dan seniman dari Indonesia, menghadirkan pendekatan desain berbasis warisan budaya dan bahan alami. Kombinasi keahlian mereka menghasilkan produk yang tidak hanya inovatif tetapi juga relevan dengan kebutuhan lingkungan dan sosial saat ini.

Harapan Masa Depan untuk Desain Berkelanjutan

Lampoep adalah bukti bahwa limbah dapat diubah menjadi sumber daya berharga melalui pendekatan desain yang kreatif. Dengan meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan, diharapkan inovasi seperti ini dapat menginspirasi lebih banyak industri untuk beralih ke material ramah lingkungan dan mengadopsi konsep ekonomi sirkular.

Proyek ini menjadi langkah penting dalam menciptakan solusi terhadap permasalahan limbah sekaligus membuka peluang baru dalam dunia desain dan manufaktur berbasis material alternatif. Dengan kolaborasi antara desainer, pengrajin, dan komunitas, masa depan desain berkelanjutan semakin cerah dan penuh kemungkinan.

Baca juga artikel lainnya :

india ciptakan pembalut biodegradable dari serat bambu serat pisang dan pati jagung