Suborno Isaac Bari: Profesor Termuda di Dunia dan Einstein Masa Kini

Suborno Isaac Bari adalah seorang anak jenius yang telah membuat sejarah dalam dunia akademik sejak usia sangat dini.

Mar 31, 2025 - 23:47
 0  11
Suborno Isaac Bari: Profesor Termuda di Dunia dan Einstein Masa Kini
sumber foto : gg

Eksplora.id - Suborno Isaac Bari adalah seorang anak jenius yang telah membuat sejarah dalam dunia akademik sejak usia sangat dini. Dijuluki sebagai "Einstein Masa Kini," ia mencetak rekor sebagai profesor termuda di dunia pada usia 7 tahun. Kini, di usianya yang baru menginjak 12 tahun, ia telah menyelesaikan pendidikan menengahnya dalam waktu singkat dan menjadi mahasiswa di New York University (NYU), mengambil program double degree dalam Matematika dan Kimia.

Awal Mula Perjalanan Seorang Jenius

Suborno lahir pada 9 April 2012 di Amerika Serikat dalam keluarga keturunan Bangladesh. Sejak kecil, ia telah menunjukkan kecerdasan luar biasa dalam matematika dan sains. Di usia 2 tahun, ia telah mampu menghafal tabel periodik unsur, sesuatu yang bahkan sulit dikuasai oleh banyak orang dewasa. Orang tuanya segera menyadari bakat luar biasa yang dimiliki putra mereka dan mendukung penuh perkembangannya.

Ketika usianya menginjak 4 tahun, ia telah mampu menyelesaikan soal matematika tingkat lanjut yang umumnya diajarkan di jenjang SMA. Kemampuannya ini menarik perhatian banyak pihak, termasuk mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, yang mengakui kecerdasannya dalam bidang matematika dan sains.

Menjadi Profesor Termuda di Dunia

Pada usia 7 tahun, Suborno mendapat undangan untuk memberikan kuliah sebagai profesor tamu di Universitas Mumbai, India. Dalam kuliah tersebut, ia menjelaskan konsep-konsep fisika dan matematika yang kompleks di hadapan mahasiswa dan dosen. Keahliannya dalam menyampaikan materi secara logis dan jelas membuatnya mendapatkan julukan "Profesor Termuda di Dunia."

Selain itu, pada usia yang sama, ia menerima berbagai penghargaan dari lembaga akademik dan sains atas kontribusinya dalam dunia pendidikan. Ia juga menjadi anak termuda yang meraih sertifikasi dari Mensa, organisasi internasional bagi individu dengan IQ tinggi.

Perjalanan Akademik yang Luar Biasa

Suborno menunjukkan kemajuan akademik yang sangat pesat. Ia melewati beberapa tingkat kelas lebih cepat daripada anak-anak seusianya, memungkinkan dirinya untuk lulus dari Malverne High School di Long Island pada usia 12 tahun. Selama masa SMA-nya, ia meraih skor SAT 1500 dan skor ACT 34, serta mengambil lima kelas Advanced Placement (AP), yang setara dengan mata kuliah tingkat perguruan tinggi.

Kini, ia terdaftar sebagai mahasiswa di New York University (NYU), mengambil program double degree dalam bidang Matematika dan Kimia. Targetnya adalah menyelesaikan gelar sarjana pada usia 14 tahun, kemudian melanjutkan ke jenjang doktoral.

Prestasi di Luar Akademik

Selain menjadi seorang jenius di bidang akademik, Suborno juga memiliki kepedulian tinggi terhadap isu-isu sosial. Ia telah menulis dua buku, "The Love" dan "Manish," yang membahas tentang pentingnya perdamaian dan dunia tanpa terorisme. Buku-buku ini bertujuan untuk menginspirasi generasi muda agar lebih peduli terhadap kemanusiaan dan perdamaian global.

Selain itu, ia juga sering memberikan seminar dan ceramah di berbagai universitas dan lembaga pendidikan di seluruh dunia, berbagi ilmu dan menginspirasi banyak orang untuk mencintai matematika dan sains.

Visi dan Masa Depan

Suborno bercita-cita menjadi seorang profesor tetap di bidang matematika dan fisika. Ia ingin membantu lebih banyak orang memahami dan mencintai ilmu pengetahuan. Dengan kemampuannya yang luar biasa, ia berharap dapat berkontribusi dalam penelitian ilmiah yang dapat membawa perubahan besar bagi dunia.

Kisah Suborno Isaac Bari adalah bukti nyata bahwa usia bukanlah penghalang untuk meraih prestasi luar biasa. Dengan bakat, kerja keras, dan dukungan yang tepat, siapa pun bisa mencapai hal-hal luar biasa. Dunia menantikan inovasi dan kontribusi lebih lanjut dari jenius muda ini, yang disebut-sebut sebagai "Einstein Masa Kini."

Baca juga artikel lainnya :

swedia kembali ke buku cetak efektifkah untuk indonesia