Swedia Kembali ke Buku Cetak: Efektifkah untuk Indonesia?

Setelah lebih dari 15 tahun menerapkan digitalisasi dalam sistem pendidikannya, Swedia mengambil langkah mengejutkan dengan kembali ke metode pembelajaran tradisional menggunakan buku cetak, pena, dan kertas.

Mar 24, 2025 - 23:13
 0  12
Swedia Kembali ke Buku Cetak: Efektifkah untuk Indonesia?
sumber foto : pixabay

Eksplora.id - Setelah lebih dari 15 tahun menerapkan digitalisasi dalam sistem pendidikannya, Swedia mengambil langkah mengejutkan dengan kembali ke metode pembelajaran tradisional menggunakan buku cetak, pena, dan kertas. Keputusan ini muncul setelah sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan media fisik lebih efektif dalam meningkatkan konsentrasi dan keterampilan membaca siswa dibandingkan dengan pembelajaran berbasis digital.

Keputusan ini menjadi perbincangan global, terutama karena Swedia selama ini dianggap sebagai salah satu negara terdepan dalam integrasi teknologi ke dalam pendidikan. Lantas, apa alasan di balik kebijakan ini? Dan apakah langkah yang sama cocok diterapkan di Indonesia?

Mengapa Swedia Kembali ke Buku Cetak?

Swedia pernah menjadi pionir dalam penerapan pendidikan berbasis teknologi. Banyak sekolah di sana telah beralih dari buku teks ke tablet dan laptop sebagai alat utama dalam pembelajaran. Namun, seiring berjalannya waktu, berbagai penelitian mengungkapkan bahwa metode ini memiliki dampak negatif terhadap kualitas pembelajaran siswa.

Salah satu penelitian yang dilakukan oleh National Agency for Education di Swedia menemukan bahwa hasil tes membaca siswa menurun setelah pendidikan semakin mengandalkan perangkat digital. Anak-anak yang belajar menggunakan buku cetak cenderung memiliki pemahaman lebih baik dibandingkan mereka yang membaca melalui layar.

Selain itu, penggunaan perangkat digital dalam waktu lama juga dikaitkan dengan berkurangnya kemampuan konsentrasi. Siswa yang membaca dari layar cenderung lebih mudah terdistraksi oleh notifikasi atau fitur lain yang ada dalam perangkat mereka. Di sisi lain, membaca buku fisik dan menulis dengan tangan membantu memperkuat daya ingat, meningkatkan pemahaman, serta membangun hubungan yang lebih baik antara konsep dan ingatan jangka panjang.

Tak hanya itu, beberapa pakar pendidikan Swedia juga menyoroti bahwa ketergantungan pada teknologi dalam pembelajaran dapat mengurangi interaksi sosial antara siswa dan guru. Proses belajar yang lebih banyak terjadi melalui layar cenderung membuat anak-anak kurang terbiasa dengan diskusi langsung dan kerja sama kelompok yang merupakan keterampilan penting dalam kehidupan sosial dan profesional.

Bagaimana dengan Indonesia?

Di Indonesia, tren digitalisasi pendidikan juga semakin berkembang, terutama sejak pandemi COVID-19 yang memaksa sistem pembelajaran beradaptasi dengan metode daring. Banyak sekolah yang mulai mengandalkan perangkat digital seperti tablet, laptop, dan aplikasi belajar online sebagai bagian dari sistem pembelajaran mereka.

Namun, tantangan di Indonesia berbeda dengan di Swedia. Infrastruktur digital di Indonesia masih belum merata. Banyak daerah yang masih mengalami keterbatasan akses internet, sehingga penggunaan perangkat digital dalam pembelajaran tidak selalu bisa diandalkan. Selain itu, tidak semua siswa memiliki akses ke perangkat elektronik yang memadai.

Dari segi literasi, Indonesia juga menghadapi tantangan besar. Menurut laporan PISA (Programme for International Student Assessment), tingkat literasi siswa Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Jika digitalisasi pendidikan tidak diimbangi dengan metode pembelajaran yang efektif, maka bukan tidak mungkin kualitas literasi akan semakin menurun, seperti yang dialami Swedia.

Namun, apakah kembali sepenuhnya ke buku cetak adalah solusi terbaik bagi Indonesia?

Pendekatan Hybrid: Solusi untuk Pendidikan Indonesia?

Mengadopsi kebijakan Swedia secara langsung mungkin bukan solusi yang ideal bagi Indonesia. Meskipun pembelajaran tradisional dengan buku cetak memiliki banyak manfaat, teknologi tetap memiliki peran penting dalam pendidikan modern. Oleh karena itu, pendekatan hybrid atau kombinasi antara metode tradisional dan digital bisa menjadi solusi yang lebih sesuai.

Sebagai contoh, siswa bisa tetap belajar membaca dan menulis menggunakan buku cetak untuk meningkatkan pemahaman dan konsentrasi mereka, sementara teknologi digunakan sebagai alat bantu untuk memberikan akses ke sumber belajar yang lebih luas. Video pembelajaran, simulasi interaktif, dan aplikasi edukatif dapat menjadi pelengkap dalam proses belajar, bukan sebagai pengganti buku teks sepenuhnya.

Penting juga bagi Indonesia untuk memastikan bahwa digitalisasi pendidikan dilakukan dengan strategi yang tepat. Guru harus mendapatkan pelatihan dalam memanfaatkan teknologi secara efektif, sehingga bukan hanya sekadar menggantikan buku teks dengan layar, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna bagi siswa.

Selain itu, orang tua juga perlu dilibatkan dalam mendukung anak-anak dalam penggunaan teknologi. Edukasi mengenai manajemen waktu layar dan pentingnya membaca buku cetak bisa membantu memastikan bahwa siswa tetap mendapatkan manfaat maksimal dari kedua metode pembelajaran.

Keputusan Swedia untuk kembali ke buku cetak menunjukkan bahwa digitalisasi pendidikan tidak selalu menjadi solusi terbaik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Keterampilan membaca dan konsentrasi anak-anak terbukti lebih baik saat menggunakan buku cetak dan menulis dengan tangan.

Namun, bagi Indonesia, kembali sepenuhnya ke metode tradisional mungkin bukan pilihan yang tepat mengingat masih banyak manfaat yang bisa diperoleh dari teknologi pendidikan. Pendekatan hybrid yang mengombinasikan keunggulan buku cetak dan teknologi bisa menjadi solusi yang lebih relevan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Bagaimana menurut kamu? Apakah Indonesia sebaiknya mengikuti jejak Swedia atau tetap fokus pada digitalisasi pendidikan?

Baca juga artikel lainnya :

pemprov dki jakarta buka pendaftaran pelatihan las bawah air gratis cek syarat dan jadwalnya