Sejarah Tukang Minyak Keliling di Indonesia

Sejarah tukang minyak keliling di Indonesia sebelum konversi elpiji 2007, dari peran distribusi minyak tanah hingga hilangnya profesi akibat perubahan kebijakan energi.

Jan 31, 2026 - 12:35
 0  0
Sejarah Tukang Minyak Keliling di Indonesia
sumber foto : gg

Eksplora.id - Sebelum elpiji menjadi sumber energi utama rumah tangga, minyak tanah memegang peran sentral dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sejak dekade 1960-an hingga awal 2000-an, minyak tanah digunakan secara luas untuk memasak, penerangan, hingga kebutuhan usaha kecil.

Di tengah keterbatasan infrastruktur distribusi, terutama di kawasan permukiman padat dan perkampungan, muncullah tukang minyak keliling sebagai solusi distribusi paling efektif. Mereka menjadi penghubung langsung antara agen minyak tanah dan konsumen rumah tangga.

Peran Tukang Minyak Keliling dalam Sistem Distribusi Energi

Tukang minyak keliling beroperasi secara mandiri atau sebagai pengecer kecil. Mereka membeli minyak tanah dari agen resmi atau pangkalan, lalu menjualnya kembali dengan margin tipis kepada warga. Model ini memungkinkan masyarakat mendapatkan minyak tanah tanpa harus pergi jauh ke pasar atau depot.

Dalam satu hari, seorang tukang minyak keliling bisa menjangkau puluhan rumah. Distribusi dilakukan menggunakan gerobak dorong, sepeda, atau kendaraan sederhana lainnya. Satu gerobak umumnya memuat 10–12 jeriken, yang masing-masing berisi sekitar 20 liter minyak tanah.

Keberadaan mereka sangat krusial, terutama bagi:

  • Warga lanjut usia

  • Ibu rumah tangga

  • Masyarakat di gang sempit dan wilayah padat

Subsidi Pemerintah dan Ketergantungan Masyarakat

Selama puluhan tahun, pemerintah menerapkan subsidi harga minyak tanah agar terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Kebijakan ini menjadikan minyak tanah sebagai bahan bakar paling populer di Indonesia.

Akibatnya, permintaan terus meningkat, dan tukang minyak keliling menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem energi rumah tangga. Profesi ini berkembang bukan hanya karena kebutuhan ekonomi, tetapi juga karena ketergantungan struktural masyarakat terhadap minyak tanah bersubsidi.

Tantangan dan Beban Anggaran Negara

Memasuki awal 2000-an, konsumsi minyak tanah yang tinggi mulai menimbulkan persoalan serius. Beban subsidi membengkak, sementara pasokan minyak tanah kian terbatas. Selain itu, praktik penyelewengan subsidi dan distribusi tidak merata menjadi masalah yang sulit dikendalikan.

Pemerintah menilai bahwa sistem energi berbasis minyak tanah tidak lagi efisien dan berkelanjutan, baik dari sisi fiskal maupun ketahanan energi nasional.

Program Konversi Minyak Tanah ke Elpiji

Pada tahun 2007, pemerintah resmi meluncurkan Program Konversi Minyak Tanah ke Elpiji. Program ini bertujuan mengalihkan konsumsi energi rumah tangga ke elpiji yang dianggap lebih efisien, bersih, dan mudah dikendalikan distribusinya.

Dalam waktu relatif singkat, minyak tanah mulai ditarik dari peredaran, pangkalan ditutup, dan subsidi dialihkan ke tabung elpiji 3 kg. Perubahan kebijakan ini berdampak langsung pada mata pencaharian tukang minyak keliling.

Hilangnya Profesi Tukang Minyak Keliling

Seiring berkurangnya pasokan minyak tanah, tukang minyak keliling perlahan menghilang. Banyak dari mereka beralih profesi menjadi pedagang lain, buruh, atau membuka usaha kecil. Sebagian tidak mampu beradaptasi dengan perubahan sistem distribusi energi yang lebih terpusat.

Meski tidak lagi terlihat, peran tukang minyak keliling tetap memiliki nilai historis penting. Mereka adalah bagian dari fase transisi pembangunan energi nasional, ketika distribusi masih mengandalkan hubungan langsung antara penjual dan warga.

Warisan Sosial dalam Sejarah Energi Indonesia

Sejarah tukang minyak keliling mencerminkan bagaimana masyarakat Indonesia bertahan dan beradaptasi dalam keterbatasan. Profesi ini menjadi simbol ekonomi rakyat kecil sekaligus cerminan kebijakan energi negara di masa lalu.

Kini, tukang minyak keliling mungkin hanya tinggal dalam ingatan dan dokumentasi sejarah. Namun, tanpa peran mereka, kehidupan rumah tangga jutaan warga Indonesia pada masanya tidak akan berjalan semudah yang pernah dirasakan.**DS

Baca juga artikel lainnya :

program-green-movement-uco-kelola-minyak-jelantah