Program Makan Bergizi Gratis di Kamal Bangkalan Disorot, Ditemukan Ulat di Sayur Daun Singkong

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Kamal, Bangkalan, Jawa Timur, menjadi sorotan publik setelah ditemukan ulat dalam sajian sayur daun singkong. Pengelola gizi menjelaskan ulat tersebut aman dikonsumsi dan kaya protein, namun mengakui adanya kelalaian dalam proses penyajian.

Jan 31, 2026 - 13:11
 0  1
Program Makan Bergizi Gratis di Kamal Bangkalan Disorot, Ditemukan Ulat di Sayur Daun Singkong
Sumber foto : Instagram

Eksplora.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan untuk mendukung pemenuhan gizi siswa di Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, sempat menuai perhatian publik. Hal ini menyusul ditemukannya seekor ulat dalam sajian sayur daun singkong yang dibagikan kepada siswa penerima manfaat.

Temuan tersebut dengan cepat menyebar di masyarakat dan media sosial, memicu beragam reaksi dari orang tua siswa hingga pemerhati program pangan sekolah. Meski tidak menimbulkan korban atau gangguan kesehatan serius, insiden ini dinilai mencoreng kepercayaan publik terhadap pelaksanaan program yang sejatinya bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah.


Penjelasan Pengelola Gizi Terkait Temuan Ulat

Menanggapi hal tersebut, Kepala Sekolah Penggerak dan Pengelola Gizi (SPPG) Gili Timur, Diandra Dieva Pertiwi, memberikan klarifikasi. Ia membenarkan adanya ulat yang ditemukan di dalam ompreng makanan siswa, khususnya pada menu sayur daun singkong.

Menurut Diandra, ulat tersebut merupakan jenis Samia Cynthia Ricini, yakni ulat yang secara alami hidup di batang maupun daun tanaman singkong. Ia menegaskan bahwa secara ilmiah, ulat jenis ini dikenal aman untuk dikonsumsi dan bahkan memiliki kandungan protein yang cukup tinggi.

“Berdasarkan beberapa penelitian, ulat Samia Cynthia Ricini ini tergolong aman dikonsumsi dan memiliki nilai protein yang baik. Namun demikian, kejadian ini tetap merupakan bentuk kelalaian dalam proses penyajian makanan,” ujar Diandra.


Diakui Ada Kelalaian dalam Proses Penyajian

Meski menyebut ulat tersebut aman secara biologis, pihak SPPG Gili Timur tidak menutup mata terhadap kesalahan prosedur yang terjadi. Diandra mengakui bahwa keberadaan ulat dalam makanan siswa menunjukkan lemahnya proses sortasi dan pencucian bahan pangan sebelum diolah dan disajikan.

Ia menegaskan bahwa standar keamanan pangan dalam program MBG seharusnya tidak hanya mempertimbangkan nilai gizi, tetapi juga kebersihan, kenyamanan, dan aspek psikologis siswa sebagai penerima manfaat.

“Untuk konsumsi siswa, apalagi anak-anak, standar kebersihan harus sangat ketat. Walaupun ulat tersebut aman, tetap tidak pantas tersaji dalam makanan sekolah,” tambahnya.


Evaluasi dan Perbaikan Sistem Pengolahan Makanan

Sebagai tindak lanjut, SPPG Gili Timur menyatakan telah melakukan evaluasi internal terhadap seluruh tahapan pengolahan makanan, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pencucian, pengolahan, hingga distribusi ke sekolah-sekolah.

Pihak pengelola juga berencana memperketat pengawasan serta memberikan pelatihan ulang kepada petugas dapur dan relawan yang terlibat dalam program MBG. Langkah ini diambil agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Selain itu, koordinasi dengan pihak sekolah dan pengawas lapangan juga akan ditingkatkan guna memastikan kualitas makanan yang disajikan benar-benar layak dan aman dikonsumsi oleh siswa.


Program MBG Tetap Dilanjutkan

Di tengah sorotan publik, Diandra memastikan bahwa Program Makan Bergizi Gratis di Kecamatan Kamal tetap akan dilanjutkan. Ia menilai insiden ini menjadi bahan evaluasi penting agar pelaksanaan program ke depan lebih baik dan profesional.

Program MBG sendiri merupakan salah satu upaya pemerintah dan pemangku kepentingan lokal dalam menekan angka kekurangan gizi serta mendukung tumbuh kembang anak usia sekolah, khususnya di wilayah dengan keterbatasan akses pangan bergizi.

“Kami menjadikan kejadian ini sebagai pelajaran. Komitmen kami adalah menghadirkan makanan yang tidak hanya bergizi, tetapi juga bersih, aman, dan layak secara standar konsumsi anak,” tegas Diandra.


Harapan ke Depan

Masyarakat diharapkan tetap memberikan dukungan kritis terhadap Program Makan Bergizi Gratis, sembari mendorong peningkatan kualitas pelaksanaan di lapangan. Transparansi, evaluasi berkelanjutan, serta keterlibatan semua pihak dinilai menjadi kunci agar program ini benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi siswa.

Insiden temuan ulat dalam makanan menjadi pengingat bahwa keberhasilan program pangan sekolah tidak hanya diukur dari niat baik dan kandungan gizi, tetapi juga dari ketelitian dan tanggung jawab dalam setiap proses penyajiannya.**DS

Baca juga artikel lainnya :

program-makan-bergizi-gratis-tingkatkan-kehadiran-pelajar-di-jayapura