Inggris Perkenalkan Kurikulum Pendidikan Rasa Hormat Sejak Dini di Sekolah
Inggris memperkenalkan kurikulum baru di sekolah yang berfokus pada pendidikan rasa hormat, kesetaraan gender, dan hubungan sehat untuk mencegah misogini dan perilaku berbahaya sejak dini.
Eksplora.id - Pemerintah Inggris memperkenalkan kurikulum baru di sekolah yang berfokus pada pendidikan rasa hormat sejak usia dini. Program ini dirancang untuk membekali anak-anak dengan pemahaman tentang kesetaraan, empati, serta hubungan yang sehat, khususnya dalam interaksi antara laki-laki dan perempuan.
Kurikulum ini menekankan pentingnya mengajarkan anak laki-laki untuk memperlakukan perempuan dengan setara, aman, dan penuh rasa hormat, sekaligus membekali anak perempuan dengan pemahaman tentang hak, batasan pribadi, dan keamanan diri.
Fokus pada Persetujuan dan Batasan Pribadi
Materi pembelajaran mencakup topik-topik mendasar seperti persetujuan (consent), penghormatan terhadap batasan pribadi, serta cara membangun hubungan yang sehat dan saling menghargai. Pendidikan ini diberikan secara bertahap sesuai dengan usia dan perkembangan anak.
Pemerintah Inggris menilai pemahaman sejak dini tentang batasan dan rasa hormat sangat penting untuk membentuk perilaku sosial yang positif di masa depan.
Menangkal Pengaruh Online yang Toxic
Selain interaksi langsung, kurikulum baru ini juga membahas pengaruh dunia digital. Siswa diajarkan untuk mengenali konten online yang bersifat toxic, termasuk ujaran kebencian, stereotip gender, dan narasi yang dapat memicu misogini atau perilaku agresif.
Pendekatan ini diambil seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak media sosial dan platform digital terhadap pola pikir anak dan remaja.
Upaya Pencegahan Sejak Dini
Kurikulum ini bertujuan sebagai langkah pencegahan, agar misogini, intimidasi, dan perilaku berbahaya dapat dicegah sebelum berkembang menjadi pola yang lebih serius. Pemerintah berharap pendidikan karakter dan empati sejak dini mampu menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman dan inklusif.
Pendekatan preventif ini dipandang lebih efektif dibandingkan penanganan setelah masalah muncul.
Guru Dibekali Pelatihan Khusus
Untuk mendukung implementasi kurikulum, para guru akan mendapatkan pelatihan khusus. Pelatihan ini mencakup kemampuan mengenali tanda-tanda peringatan dini, seperti perubahan perilaku, sikap agresif, atau indikasi pengaruh negatif dari lingkungan sekitar.
Guru juga didorong untuk menciptakan ruang dialog yang aman bagi siswa agar dapat berbicara terbuka tentang perasaan, hubungan sosial, dan tekanan yang mereka hadapi.
Membangun Generasi yang Lebih Empatik
Melalui kurikulum ini, Inggris menegaskan komitmennya dalam membangun generasi yang lebih empatik, setara, dan saling menghormati. Pendidikan tidak hanya dipandang sebagai transfer pengetahuan akademik, tetapi juga sebagai fondasi pembentukan karakter dan nilai kemanusiaan.
Kebijakan ini diharapkan menjadi contoh bagi negara lain dalam menghadapi tantangan sosial yang semakin kompleks di era modern.**DS
Baca juga artikel lainnya :
inggris-rilis-travel-warning-2026-indonesia-masuk-daftar-waspada

