Misteri Pohon Tarumenyan di Desa Trunyan: Penjaga Alam yang Menyerap Bau Jenazah

Desa Trunyan, yang terletak di tepi Danau Batur, Kabupaten Bangli, Bali, dikenal dengan tradisi pemakamannya yang unik dan berbeda dari daerah lain di Indonesia.

Apr 3, 2025 - 02:46
 0  10
Misteri Pohon Tarumenyan di Desa Trunyan: Penjaga Alam yang Menyerap Bau Jenazah
sumber foto : wikipedia

Eksplora.id - Desa Trunyan, sebuah desa kuno di tepi Danau Batur, Kabupaten Bangli, Bali, memiliki tradisi pemakaman yang unik dan berbeda dari daerah lain di Indonesia, bahkan dunia. Alih-alih menguburkan atau mengkremasi jenazah, masyarakat setempat meletakkannya begitu saja di permukaan tanah di bawah sebuah pohon besar bernama Tarumenyan. Yang mengejutkan, meskipun jenazah dibiarkan membusuk di tempat terbuka, tidak tercium bau busuk sama sekali. Hal ini diyakini karena keberadaan pohon Tarumenyan yang mampu menyerap bau jenazah.

Tradisi Pemakaman Unik di Desa Trunyan

Berbeda dengan tradisi Hindu di Bali yang umumnya melakukan Ngaben (kremasi), masyarakat Desa Trunyan memiliki sistem pemakaman khas yang masih dipraktikkan turun-temurun. Ada beberapa jenis pemakaman di desa ini, yaitu:

  1. Sema Wayah – untuk orang yang meninggal secara wajar (karena usia tua atau sakit), jenazah diletakkan di atas tanah dan hanya ditutup dengan anyaman bambu berbentuk sangkar yang disebut ancak saji.

  2. Sema Bantas – untuk orang yang meninggal tidak wajar, seperti akibat kecelakaan atau pembunuhan, mereka akan dikuburkan.

  3. Sema Muda – untuk bayi atau anak kecil yang meninggal sebelum dewasa serta mereka yang belum menikah.

Di Sema Wayah, jenazah tidak dikubur, tetapi dibiarkan terbaring di bawah pohon Tarumenyan hingga akhirnya hanya menyisakan tulang belulang. Ketika jenazah baru datang, yang lama akan dipindahkan ke tempat khusus dan tengkoraknya disusun rapi di sebuah altar batu.

Keajaiban Pohon Tarumenyan

Pohon Tarumenyan adalah satu-satunya pohon di Pulau Bali, bahkan di Indonesia, yang memiliki kemampuan alami untuk menyerap bau busuk dari jenazah. Nama "Trunyan" sendiri berasal dari gabungan kata “Taru” yang berarti pohon dan “Menyan” yang merujuk pada wewangian seperti kemenyan. Pohon ini mengeluarkan aroma khas yang sangat kuat, sehingga mampu menetralisir bau busuk dari proses pembusukan mayat.

Keberadaan pohon ini telah menjadi misteri bagi para peneliti. Tidak ada yang tahu persis bagaimana mekanisme biologis pohon ini bisa menyerap bau dengan begitu efektif. Beberapa teori menyebutkan bahwa pohon ini memiliki sistem penyerapan udara yang kompleks dan mengandung zat alami yang berfungsi seperti karbon aktif dalam menyaring bau. Namun, hingga kini, belum ada penelitian ilmiah yang dapat membuktikan secara pasti bagaimana pohon ini bekerja.

Usia dan Keberadaan Pohon Tarumenyan

Pohon Tarumenyan yang ada di Desa Trunyan dipercaya telah berusia ratusan tahun. Pohon ini tumbuh besar dan kokoh, menjulang tinggi dengan daun yang rimbun. Menurut cerita masyarakat setempat, pohon ini tidak pernah mengalami kerusakan besar, bahkan tetap berdiri meskipun terjadi gempa atau bencana alam lainnya.

Pohon ini juga diyakini hanya tumbuh di Desa Trunyan dan tidak ditemukan di daerah lain, baik di Bali maupun di Indonesia. Beberapa upaya menanam pohon sejenis di luar wilayah Trunyan dikabarkan gagal, memperkuat kepercayaan masyarakat bahwa pohon ini hanya bisa hidup di tanah leluhur mereka.

Mitos dan Kepercayaan Masyarakat Trunyan

Selain keajaibannya dalam menetralisir bau, pohon Tarumenyan juga dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Ada berbagai mitos yang berkembang di sekitar pohon ini, di antaranya:

  1. Dilarang Menebang atau Merusak
    Pohon ini dipercaya memiliki kekuatan gaib. Jika seseorang mencoba menebang atau merusaknya, maka ia akan mengalami kesialan atau kejadian buruk dalam hidupnya.

  2. Pohon yang Menandakan Keberadaan Leluhur
    Masyarakat Trunyan percaya bahwa pohon ini merupakan tempat bersemayamnya roh leluhur mereka. Oleh karena itu, mereka sangat menghormatinya dan menganggapnya sebagai bagian dari tradisi sakral.

  3. Tempat yang Dikeramatkan
    Area sekitar pohon dianggap sebagai tempat suci. Tidak sembarang orang boleh memasuki wilayah pemakaman Sema Wayah tanpa izin dan ritual tertentu.

Wisata Budaya dan Tantangan Pelestarian

Tradisi unik Desa Trunyan telah menarik perhatian wisatawan dari berbagai belahan dunia. Banyak orang penasaran ingin melihat langsung bagaimana jenazah dibiarkan begitu saja tanpa mengeluarkan bau busuk. Namun, tingginya jumlah wisatawan juga menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat setempat dalam menjaga kesucian dan kelestarian tradisi ini.

Beberapa tantangan yang dihadapi antara lain:

  • Sampah wisatawan – Wisatawan yang datang terkadang tidak menghormati adat setempat dan meninggalkan sampah di sekitar area pemakaman.

  • Eksploitasi budaya – Ada kekhawatiran bahwa semakin banyak wisatawan yang datang, tradisi ini akan berubah menjadi sekadar tontonan wisata tanpa penghormatan terhadap nilai budaya aslinya.

  • Pohon Tarumenyan terancam – Meski masih berdiri kokoh, usia pohon yang sudah sangat tua menjadi perhatian. Upaya pelestarian pohon ini masih minim, sehingga dikhawatirkan suatu saat pohon ini bisa mati tanpa ada regenerasi yang jelas.

Tradisi pemakaman di Desa Trunyan bukan hanya mencerminkan budaya yang unik tetapi juga mengandung nilai spiritual yang tinggi. Pohon Tarumenyan sebagai pusat dari tradisi ini menjadi fenomena alam yang masih menyimpan misteri. Hingga kini, belum ada pohon serupa yang ditemukan di tempat lain, menjadikannya satu-satunya di Bali bahkan di Indonesia.

Keajaiban pohon ini dalam menyerap bau jenazah tetap menjadi teka-teki yang belum sepenuhnya terpecahkan secara ilmiah. Namun, bagi masyarakat Trunyan, pohon ini bukan sekadar tumbuhan biasa, melainkan bagian dari warisan leluhur yang harus dijaga dan dihormati selamanya.

Baca juga artikel lainnya :

https://eksplora.id/desa-cemenggaon-bali-sukses-mengolah-80-sampah-dengan-kearifan-lokal