India Ciptakan Pembalut Biodegradable Dari serat bambu, serat pisang, dan pati jagung
India menghadapi krisis lingkungan akibat meningkatnya limbah dari pembalut sekali pakai. Dengan jutaan perempuan menggunakan pembalut non-biodegradable setiap bulan, negara ini menumpuk ribuan ton sampah plastik setiap tahunnya.

Eksplora.id - India menghadapi krisis lingkungan akibat meningkatnya limbah dari pembalut sekali pakai. Dengan jutaan perempuan menggunakan pembalut non-biodegradable setiap bulan, negara ini menumpuk ribuan ton sampah plastik setiap tahunnya. Namun, kini hadir solusi ramah lingkungan melalui pembalut biodegradable yang dapat membantu mengurangi masalah ini.
Masalah dengan Pembalut Konvensional
Sebagian besar pembalut komersial mengandung hingga 90% plastik, yang membuatnya sulit terurai. Satu pembalut saja bisa memakan waktu 500 hingga 800 tahun untuk terdekomposisi, sehingga berkontribusi pada penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir dan pencemaran laut. Selain itu, metode pembuangan yang tidak tepat, seperti pembakaran, melepaskan bahan kimia beracun ke udara, yang berisiko bagi kesehatan manusia.
Munculnya Alternatif Biodegradable
Untuk mengatasi masalah ini, beberapa perusahaan rintisan dan organisasi di India telah mengembangkan pembalut biodegradable yang terbuat dari bahan alami seperti serat bambu, serat pisang, dan pati jagung. Pembalut ini dapat terurai dalam waktu enam bulan, sehingga mengurangi beban sampah secara drastis. Tidak seperti pembalut berbasis plastik, alternatif ini bebas dari bahan kimia berbahaya, sehingga lebih aman bagi pengguna dan lingkungan.
Merek-Merek yang Berkontribusi
Beberapa perusahaan seperti Saathi, Carmesi, dan Anandi telah menjadi pelopor dalam produksi pembalut biodegradable di India. Saathi, misalnya, menggunakan serat pisang—limbah pertanian yang sangat menyerap dan dapat terkomposisi dengan cepat. Sementara itu, Carmesi dan Anandi memanfaatkan bahan baku berkelanjutan untuk menciptakan produk yang lebih ramah lingkungan bagi konsumen yang sadar akan dampak lingkungan.
Tantangan dan Langkah ke Depan
Meskipun memiliki banyak manfaat, pembalut biodegradable masih menghadapi tantangan seperti biaya produksi yang lebih tinggi dan kurangnya kesadaran masyarakat. Banyak orang masih memilih pembalut konvensional karena lebih murah dan mudah didapat. Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari pemerintah dan sektor swasta untuk memberikan subsidi, meningkatkan edukasi, serta memperluas akses terhadap produk ramah lingkungan ini.
Masa Depan yang Berkelanjutan
Beralih ke pembalut biodegradable dapat menjadi langkah besar dalam mengurangi limbah menstruasi di India. Dengan meningkatnya kesadaran, dukungan kebijakan, dan permintaan pasar, penggunaan produk kebersihan menstruasi yang berkelanjutan bisa menjadi kebiasaan baru, yang pada akhirnya melindungi lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Dengan membuat pilihan yang lebih bijak, para perempuan di India dapat berkontribusi pada masa depan yang lebih bersih dan sehat—satu pembalut biodegradable dalam satu waktu.
Baca juga artikel lainnya :
jepang temukan plastik ramah lingkungan yang cepat terurai di laut dan tanah