Kisah Dokter yang Namanya Diabadikan Jadi RS Terbesar di Indonesia
Kisah dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, dokter STOVIA yang dikenal rebel dan humanis, yang namanya diabadikan menjadi RSCM. Perjuangannya saat wabah pes 1911 di Malang jadi bukti dedikasi untuk kemanusiaan.
Eksplora.id - Banyak orang mengenal RSCM sebagai rumah sakit rujukan nasional terbesar dan paling bergengsi di Indonesia. Namun tidak semua tahu siapa sosok di balik nama besar itu. RSCM adalah singkatan dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, diambil dari nama seorang dokter sekaligus pejuang kemerdekaan: dr. Tjipto Mangoenkoesoemo.
Namanya bukan sekadar plakat di dinding rumah sakit. Ia adalah simbol keberanian, kemanusiaan, dan perlawanan terhadap ketidakadilan di masa kolonial.
Dokter STOVIA yang “Rebel” di Zamannya
dr. Tjipto Mangoenkoesoemo lahir pada 4 Maret 1886 di Ambarawa. Ia menempuh pendidikan kedokteran di STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) di Batavia, sekolah kedokteran untuk pribumi pada masa Hindia Belanda.
Sejak muda, Cipto dikenal keras kepala dalam arti positif. Ia menolak tunduk pada budaya feodalisme yang kuat saat itu. Meski memiliki gelar kebangsawanan Jawa “Raden Mas”, ia memilih tidak menggunakannya. Baginya, derajat manusia tidak ditentukan oleh gelar, tetapi oleh tindakan dan integritas.
Ia juga vokal mengkritik pemerintah kolonial Belanda. Bersama Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara, ia mendirikan Indische Partij pada 1912, partai politik pertama yang secara terang-terangan menyerukan kemerdekaan Hindia Belanda. Karena sikapnya yang keras dan tanpa kompromi, ia beberapa kali diasingkan oleh pemerintah kolonial.
Namun di balik jiwa pemberontaknya, Cipto tetap seorang dokter sejati.
Momen Paling Berani: Wabah Pes di Malang 1911
Tahun 1911, wabah pes (plague) melanda wilayah Malang dan sekitarnya. Penyakit mematikan ini membuat banyak orang ketakutan. Banyak tenaga medis enggan masuk ke desa-desa yang menjadi zona merah karena risiko tertular sangat tinggi.
Di saat itulah karakter asli dr. Cipto terlihat.
Ia justru masuk ke wilayah terdampak, merawat pasien secara langsung, dan membantu warga yang terisolasi. Ia tidak hanya datang sebagai dokter, tetapi juga sebagai manusia yang peduli.
Salah satu kisah paling menyentuh adalah ketika ia menemukan seorang bayi yang kedua orang tuanya meninggal akibat pes. Bayi itu yatim piatu di tengah situasi wabah. Cipto tidak tega meninggalkannya. Ia mengangkat bayi tersebut sebagai anaknya sendiri dan memberinya nama “Pesjah” — nama yang mengingatkan pada tragedi sekaligus perjuangan melawan wabah.
Tindakan itu bukan pencitraan. Itu adalah cerminan keyakinannya bahwa profesi dokter adalah panggilan kemanusiaan.
Dokter Bukan untuk Kaya, tapi untuk Mengabdi
Bagi dr. Cipto, menjadi dokter bukan jalan untuk mengejar kekayaan atau status sosial. Ia percaya ilmu kedokteran harus digunakan untuk membela yang lemah dan tertindas.
Ia kerap mengkritik sistem kesehatan kolonial yang diskriminatif terhadap pribumi. Ia menolak mentalitas tunduk pada kekuasaan jika itu merugikan rakyat. Sikapnya yang tegas membuatnya dicap sebagai sosok “radikal” oleh pemerintah Belanda.
Namun justru karena ketegasannya itulah ia dihormati sebagai tokoh pergerakan nasional. Ia membuktikan bahwa seorang dokter bisa sekaligus menjadi intelektual, aktivis, dan pejuang kemerdekaan.
Semangat itulah yang kemudian diwariskan lewat namanya.
Namanya Diabadikan untuk Menginspirasi
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Jakarta kini menjadi pusat rujukan nasional dan rumah sakit pendidikan utama bagi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ribuan dokter spesialis, subspesialis, dan tenaga kesehatan ditempa di sana setiap tahun.
Nama Cipto tidak dipilih sembarangan. Ia diabadikan agar setiap tenaga medis yang melangkah di koridor rumah sakit itu mengingat satu hal: profesi ini adalah tentang pengabdian.
Di tengah dunia medis modern yang semakin kompleks, kisah dr. Tjipto Mangoenkoesoemo menjadi pengingat bahwa inti dari kedokteran tetap sama — menyelamatkan nyawa tanpa memandang latar belakang, status, atau risiko pribadi.
Warisan terbesar Cipto bukan hanya rumah sakit megah yang menyandang namanya. Warisan itu adalah keberanian untuk berdiri di sisi kemanusiaan, bahkan ketika situasi menakutkan dan tidak populer.
Karena itulah, setiap kali kita mendengar nama RSCM, sebenarnya kita sedang menyebut nama seorang dokter yang pernah masuk ke desa wabah, mengangkat bayi yatim piatu, dan menolak tunduk pada ketidakadilan.
Dan mungkin, itulah alasan mengapa namanya layak dikenang sepanjang masa.**DS
Baca juga artikel lainnya :
negara-negara-eropa-butuh-jutaan-tenaga-kerja-asal-indonesia-di-sektor-jasa

