Kenapa Kita Lebih Mudah Marah ke Orang Terdekat? Ini Penjelasan Psikologinya
Mengapa kita lebih mudah marah kepada orang terdekat? Artikel ini membahas konsep emotional disinhibition dan harapan tersembunyi dalam psikologi, serta cara mengelola emosi agar tidak melukai orang yang kita sayangi.
Eksplora.id - Pernah sadar tidak, kita bisa sangat sabar menghadapi rekan kerja, atasan, atau bahkan orang asing, tetapi justru lebih mudah tersulut emosi ketika berbicara dengan pasangan, orang tua, atau sahabat? Hal ini bukan kebetulan. Dalam psikologi, ada penjelasan yang cukup jelas mengapa kemarahan sering kali muncul justru kepada orang-orang yang paling kita cintai.
Orang terdekat sering menjadi “zona aman” secara emosional. Kita merasa diterima apa adanya. Kita percaya mereka tidak akan pergi hanya karena satu ledakan emosi. Perasaan aman ini membuat kita tanpa sadar menurunkan filter. Kita tidak lagi menahan diri seketat saat berinteraksi dengan orang luar.
Di luar rumah atau lingkaran intim, kita cenderung menjaga citra. Kita mengontrol nada suara, memilih kata dengan hati-hati, dan menahan respons impulsif. Namun ketika bersama orang terdekat, kontrol itu sering melemah. Bukan karena kita tidak menghargai mereka, tetapi karena kita merasa cukup aman untuk menjadi “apa adanya”, termasuk saat sedang lelah, kesal, atau kecewa.
Emotional Disinhibition: Ketika Rem Emosi Melemah
Dalam psikologi, fenomena ini berkaitan dengan konsep emotional disinhibition. Istilah ini merujuk pada berkurangnya penghambatan atau kontrol terhadap ekspresi emosi, terutama di lingkungan yang dianggap aman.
Saat merasa aman, otak tidak terlalu aktif mengaktifkan sistem kontrol sosial. Kita tidak merasa perlu menyensor emosi secara ketat. Akibatnya, frustrasi kecil bisa keluar dalam bentuk nada tinggi, sindiran, atau bahkan kemarahan yang sebenarnya berlebihan dibanding pemicunya.
Menariknya, ini bukan berarti kita lebih membenci orang terdekat. Justru sebaliknya. Kita cukup percaya bahwa hubungan itu kuat. Kita yakin mereka akan tetap ada. Sayangnya, keyakinan ini kadang membuat kita lupa bahwa mereka juga manusia dengan perasaan yang bisa terluka.
Harapan Tinggi yang Tidak Disadari
Selain emotional disinhibition, faktor lain yang berperan adalah harapan yang tinggi. Kita cenderung memiliki ekspektasi lebih besar kepada orang-orang yang dekat dengan kita. Kita berharap mereka lebih mengerti, lebih peka, lebih peduli, bahkan tanpa perlu dijelaskan.
Ketika harapan itu tidak terpenuhi, kekecewaan terasa lebih dalam. Contohnya, kita mungkin tidak terlalu tersinggung jika rekan kerja lupa mengucapkan selamat ulang tahun. Namun jika pasangan atau sahabat dekat melakukan hal yang sama, rasanya bisa jauh lebih menyakitkan.
Masalahnya, banyak harapan ini tidak pernah diucapkan secara jelas. Kita menganggap mereka “seharusnya tahu”. Ketika realitas tidak sesuai dengan ekspektasi, emosi muncul dengan cepat. Kemarahan sering kali sebenarnya adalah wajah lain dari rasa kecewa dan rasa tidak dipahami.
Tekanan yang Terkumpul dan Salah Sasaran
Ada juga faktor akumulasi stres. Sepanjang hari kita mungkin menahan diri di kantor, di jalan, atau dalam situasi sosial. Kita menekan rasa kesal demi menjaga profesionalitas atau sopan santun. Namun emosi yang ditekan tidak benar-benar hilang. Ia hanya menunggu tempat untuk keluar.
Saat pulang ke rumah atau bertemu orang terdekat, tekanan itu menemukan ruang pelampiasan. Tanpa sadar, orang yang paling kita cintai justru menjadi “penampung” emosi yang tidak ada hubungannya dengan mereka. Sebuah komentar kecil bisa memicu ledakan, bukan karena peristiwa itu besar, tetapi karena emosi sudah menumpuk.
Inilah yang membuat konflik di hubungan dekat sering terasa intens. Bukan semata karena masalahnya besar, tetapi karena membawa beban emosional yang lebih luas.
Belajar Mengelola Emosi Tanpa Melukai
Memahami bahwa kemarahan kepada orang terdekat sering berasal dari rasa aman dan harapan tinggi adalah langkah awal untuk berubah. Kesadaran ini membantu kita berhenti menyalahkan sepenuhnya dan mulai bertanggung jawab atas emosi sendiri.
Pertama, penting untuk menyadari sinyal tubuh saat emosi mulai meningkat. Napas yang lebih cepat, suara meninggi, atau pikiran yang mulai menyerang adalah tanda untuk berhenti sejenak. Memberi jarak beberapa menit bisa mencegah kata-kata yang sulit ditarik kembali.
Kedua, belajar mengomunikasikan harapan secara jelas. Jangan mengandalkan asumsi bahwa orang lain pasti mengerti. Mengungkapkan kebutuhan dengan tenang jauh lebih efektif daripada melampiaskannya dalam bentuk kemarahan.
Ketiga, sadari bahwa rasa aman dalam hubungan bukan berarti bebas menyakiti. Justru karena hubungan itu berharga, ia perlu dijaga dengan kesadaran dan empati.
Mengubah Zona Aman Menjadi Zona Tumbuh
Orang terdekat seharusnya bukan tempat pelampiasan, tetapi tempat bertumbuh bersama. Ketika kita mulai memahami pola emotional disinhibition dan ekspektasi tersembunyi, kita bisa lebih berhati-hati dalam bereaksi.
Kemarahan memang bagian dari emosi manusia yang wajar. Namun cara kita mengekspresikannya menentukan kualitas hubungan. Dengan empati dan pengelolaan emosi yang lebih sehat, kita bisa tetap jujur terhadap perasaan tanpa melukai orang yang paling kita sayangi.
Pada akhirnya, kedekatan bukan hanya tentang merasa aman untuk menjadi diri sendiri, tetapi juga tentang belajar bertanggung jawab atas versi diri yang kita tampilkan kepada mereka.**DS
Baca juga artikel lainnya :

