Intel Gugat Mantan Insinyur atas Dugaan Pembocoran Ribuan File Rahasia Perusahaan
Intel mengambil langkah hukum terhadap mantan insinyurnya yang diduga membawa kabur sekitar 18.000 file rahasia perusahaan, menyoroti isu keamanan data di tengah PHK massal industri teknologi.
Eksplora.id - Perusahaan teknologi raksasa Intel mengambil langkah hukum terhadap mantan insinyur perangkat lunaknya, Jinfeng Luo, yang diduga membawa kabur sekitar 18.000 file rahasia dari sistem internal perusahaan. Gugatan ini mencuat ke publik dan langsung menjadi sorotan karena menyangkut keamanan data strategis di tengah ketatnya persaingan industri semikonduktor global.
Jinfeng Luo diketahui telah bergabung dengan Intel selama lebih dari satu dekade dan bekerja dari kantor Intel di Seattle. Dugaan pelanggaran ini muncul setelah yang bersangkutan menerima pemberitahuan pemutusan hubungan kerja (PHK). Intel menilai akses dan pengunduhan file dalam jumlah besar tersebut dilakukan tanpa otorisasi yang sah dan berpotensi merugikan perusahaan.
Dugaan Pengambilan Data Sensitif
Menurut dokumen hukum yang beredar, ribuan file yang diduga dibawa Luo berisi informasi sensitif perusahaan, termasuk dokumen teknis, riset internal, hingga data strategis yang berkaitan dengan pengembangan produk. Intel menegaskan bahwa data tersebut merupakan aset penting yang dilindungi oleh kebijakan internal serta perjanjian kerja yang mengikat setiap karyawan.
Perusahaan menyatakan bahwa tindakan tersebut terjadi dalam rentang waktu setelah pemberitahuan PHK diterima, namun sebelum masa kerja resmi berakhir. Hal inilah yang memperkuat dugaan bahwa pengambilan data dilakukan secara sengaja dan terencana.
Latar Belakang PHK Massal Intel
Kasus ini terjadi di tengah gelombang restrukturisasi besar-besaran yang dilakukan Intel. Perusahaan semikonduktor asal Amerika Serikat tersebut memang tengah melakukan efisiensi global yang berdampak pada lebih dari 15.000 karyawan di berbagai negara. Langkah ini diambil sebagai bagian dari penyesuaian strategi bisnis dan tekanan kompetisi industri chip yang semakin ketat.
PHK dalam skala besar sering kali menjadi periode rawan bagi perusahaan, terutama terkait keamanan data dan kepemilikan intelektual. Banyak perusahaan teknologi kini memperketat pengawasan akses sistem internal ketika proses pemutusan hubungan kerja berlangsung.
Isu Keamanan Data Jadi Perhatian Serius
Gugatan Intel terhadap mantan karyawannya ini menegaskan bahwa perlindungan data dan rahasia dagang menjadi isu krusial di era digital. Di industri teknologi, kebocoran informasi internal tidak hanya berisiko menimbulkan kerugian finansial, tetapi juga dapat melemahkan posisi kompetitif perusahaan di pasar global.
Kasus ini juga menjadi pengingat bagi perusahaan lain untuk memperkuat sistem keamanan siber, audit akses data, serta prosedur offboarding karyawan. Sementara bagi pekerja profesional, peristiwa ini menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap etika kerja dan perjanjian kerahasiaan yang berlaku, bahkan setelah hubungan kerja berakhir.
Dampak Hukum dan Reputasi
Jika terbukti bersalah, kasus ini berpotensi berujung pada sanksi hukum serius bagi pihak yang bersangkutan. Di sisi lain, Intel ingin mengirimkan pesan tegas bahwa perusahaan tidak akan mentoleransi pelanggaran terhadap keamanan data dan kekayaan intelektualnya.
Perkembangan perkara ini diperkirakan akan terus dipantau, mengingat dampaknya yang luas terhadap praktik ketenagakerjaan, keamanan data, serta tata kelola perusahaan di industri teknologi global.**DS
Baca juga artikel lainnya :
sonic-blast-inovasi-anak-lampung-untuk-dorong-umkm-naik-kelas-di-era-digital

