Dampak Buruk Konsumsi Rokok di Indonesia: Antara Kesehatan dan Ekonomi
Indonesia mencatat jumlah perokok yang sangat tinggi, dengan lebih dari 65 juta perokok aktif pada tahun 2023. Ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan konsumsi tembakau terbesar ketiga di dunia setelah India dan China.

Eksplora.id - Indonesia mencatat jumlah perokok yang sangat tinggi, dengan lebih dari 65 juta perokok aktif pada tahun 2023. Ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan konsumsi tembakau terbesar ketiga di dunia setelah India dan China. Salah satu fenomena yang mengkhawatirkan adalah banyaknya perokok dari kalangan ekonomi rendah yang lebih memilih membeli rokok daripada makanan sehat dan bergizi. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2023 mencatat bahwa sekitar 7,8 juta perokok dari kelompok ini lebih mengutamakan rokok dibandingkan kebutuhan nutrisi yang lebih baik untuk kesehatannya.
Rokok sebagai Pengeluaran Rumah Tangga
Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa rokok menjadi pengeluaran rumah tangga terbesar kedua setelah beras, dengan persentase mencapai 11,9% di daerah perkotaan dan 11,2% di daerah pedesaan. Artinya, dalam banyak kasus, keluarga lebih banyak mengalokasikan anggaran mereka untuk membeli rokok daripada memenuhi kebutuhan makanan bergizi, yang pada akhirnya berdampak negatif pada kesehatan mereka.
Dampak Ekonomi dari Konsumsi Rokok
Selain risiko kesehatan yang ditimbulkan, kebiasaan merokok juga membawa dampak ekonomi yang besar. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkirakan kerugian ekonomi akibat rokok mencapai Rp 17,9 hingga 20 triliun per tahun. Data ini berasal dari laporan riset kesehatan yang mencakup biaya pengobatan penyakit akibat rokok serta kehilangan produktivitas tenaga kerja. Dengan beban ekonomi yang besar ini, kebiasaan merokok bukan hanya merugikan individu, tetapi juga keluarga dan masyarakat secara luas.
Solusi untuk Mengurangi Konsumsi Rokok
Tingginya konsumsi rokok di Indonesia menuntut perhatian lebih dari berbagai pihak. Upaya pengendalian tembakau melalui regulasi yang lebih ketat, edukasi tentang bahaya merokok, serta kampanye hidup sehat harus semakin digencarkan agar dampak negatif dari konsumsi rokok ini bisa diminimalkan.
Kesadaran akan pentingnya kesehatan dan alokasi anggaran yang lebih bijak untuk kebutuhan gizi bisa menjadi langkah awal dalam mengurangi kebiasaan merokok di kalangan masyarakat, khususnya dari kelompok ekonomi rendah. Dengan langkah konkret, diharapkan angka perokok di Indonesia bisa berkurang, sehingga masyarakat dapat menikmati kehidupan yang lebih sehat dan produktif.
Baca juga artikel lainnya :