Harga Beras di Jepang Melonjak: Enam Bulan Pasca "Reiwa Rice Riots"

Harga beras di Jepang terus mengalami kenaikan signifikan sejak insiden "Reiwa Rice Riots" hampir enam bulan lalu. Di Prefektur Saitama, pemilik toko beras mengeluhkan pasokan yang menumpuk, namun harga tetap tinggi.

Feb 28, 2025 - 00:00
 0  10
Harga Beras di Jepang Melonjak: Enam Bulan Pasca "Reiwa Rice Riots"
sumber foto : gg

Eksplora.id - Harga beras di Jepang terus mengalami kenaikan signifikan sejak insiden "Reiwa Rice Riots" hampir enam bulan lalu. Di Prefektur Saitama, pemilik toko beras mengeluhkan pasokan yang menumpuk, namun harga tetap tinggi. Seorang warga Indonesia di Okubo juga mengonfirmasi bahwa harga beras masih bertahan di atas ¥3.000 per 5 kg.

Pemerintah Jepang Berupaya Stabilkan Harga Beras

Pemerintah Jepang telah mengumumkan rencana melepas stok cadangan beras guna menekan lonjakan harga yang kini mencapai ¥4.185 per 5 kg, melonjak drastis dari ¥2.000 sebelumnya.

Kenaikan harga ini diduga akibat hilangnya sekitar 210.000 ton beras dari jalur distribusi utama. Spekulasi beredar bahwa beras tersebut ditimbun oleh pedagang atau diekspor secara ilegal. Sejumlah petani juga mengungkapkan bahwa mereka menerima banyak permintaan langsung dari pembeli di luar jalur resmi, yang semakin memperumit distribusi.

Pro dan Kontra Mengenai Dampak Pelepasan Stok

Para ahli masih berbeda pendapat mengenai efektivitas pelepasan stok cadangan beras oleh pemerintah. Sebagian menilai langkah ini tidak akan berdampak besar karena pedagang masih menahan stok mereka. Sementara itu, beberapa ekonom optimistis bahwa harga dapat turun jika pemerintah melepas cadangan dalam jumlah besar.

Selain itu, faktor lain seperti meningkatnya permintaan menjelang Osaka-Kansai Expo diperkirakan turut mempengaruhi fluktuasi harga beras ke depannya. Dengan berbagai faktor yang memengaruhi pasar, masyarakat dan pelaku usaha berharap kebijakan pemerintah dapat memberikan solusi konkret terhadap lonjakan harga beras di Jepang.

Konsumen Beradaptasi dengan Harga Tinggi

Kenaikan harga beras yang terus berlanjut memaksa masyarakat untuk menyesuaikan pola konsumsi mereka. Beberapa keluarga mulai beralih ke alternatif makanan yang lebih terjangkau, seperti mi instan dan roti, sementara restoran dan bisnis makanan mulai mencari cara untuk mengurangi penggunaan beras dalam menu mereka tanpa mengorbankan kualitas.

Para pengamat pasar memperingatkan bahwa jika masalah ini tidak segera ditangani, harga bahan pokok lainnya juga dapat ikut melonjak, menyebabkan dampak yang lebih luas terhadap ekonomi domestik. Oleh karena itu, tekanan semakin besar bagi pemerintah untuk mengambil langkah lebih agresif dalam menstabilkan harga dan memastikan pasokan tetap aman.

Baca juga artikel lainnya :

thailand raja pertanian di asia tenggara apa rahasianya