Bayangkan Kamu Berpuasa Hanya Satu Jam: Fenomena Unik Ramadhan di Murmansk, Rusia
Murmansk, kota dekat Kutub Utara, mengalami polar night dengan durasi siang sangat singkat. Bagaimana umat Muslim berpuasa dan menentukan waktu salat di wilayah ekstrem ini? Simak penjelasannya.
Eksplora.id - Bayangkan kamu berpuasa hanya satu jam. Bukan karena sakit. Bukan karena keringanan tertentu. Tapi karena matahari memang hampir tidak muncul sepanjang hari. Inilah realitas yang bisa terjadi di Kota Murmansk, Rusia—sebuah kota besar di barat laut Rusia yang terletak sangat dekat dengan Kutub Utara.
Letak geografis Murmansk membuat kota ini mengalami fenomena alam yang ekstrem dan tidak biasa, terutama saat musim dingin. Di periode tertentu, kota ini masuk dalam fase yang disebut polar night—kondisi ketika matahari sama sekali tidak terbit selama berminggu-minggu.
Bagi sebagian orang, ini terdengar seperti cerita fiksi. Namun bagi warga Murmansk, ini adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.
Murmansk dan Fenomena Polar Night
Murmansk berada di atas Lingkar Arktik, wilayah yang dikenal dengan fenomena ekstrem akibat kemiringan sumbu bumi.
Saat musim dingin tiba, posisi matahari tidak cukup tinggi untuk muncul di atas horizon. Akibatnya, kota ini bisa mengalami kegelapan total selama sekitar 40 hari, biasanya dari awal Desember hingga pertengahan Januari.
Sebaliknya, pada musim panas, Murmansk justru mengalami midnight sun—matahari bersinar hampir 24 jam tanpa benar-benar tenggelam.
Perubahan drastis ini memengaruhi ritme hidup masyarakat, mulai dari jam kerja, kesehatan mental, hingga aktivitas sosial. Namun ada satu aspek yang juga terdampak signifikan: jadwal ibadah umat Muslim.
Ketika Zuhur dan Magrib Hanya Terpaut Satu Jam
Dalam kondisi tertentu, terutama saat peralihan musim, durasi siang hari di Murmansk bisa sangat singkat. Ada masa ketika jarak antara waktu Zuhur dan Magrib hanya sekitar satu jam. Artinya, secara astronomis, waktu puasa bisa berlangsung sangat pendek.
Namun ada juga kondisi sebaliknya. Saat musim panas, matahari hampir tidak tenggelam, sehingga waktu antara Subuh dan Magrib bisa berlangsung lebih dari 20 jam.
Pertanyaannya, bagaimana umat Muslim menjalankan ibadah puasa dalam kondisi ekstrem seperti ini?
Penyesuaian Waktu Puasa di Wilayah Ekstrem
Dalam praktiknya, komunitas Muslim di Murmansk tidak serta-merta mengikuti hitungan astronomis mentah. Otoritas keagamaan setempat, termasuk dewan fatwa dan ulama Rusia, biasanya mengeluarkan pedoman khusus untuk wilayah yang mengalami fenomena siang atau malam ekstrem.
Ada beberapa metode yang biasa digunakan.
Pertama, mengikuti jadwal kota terdekat yang memiliki siklus siang-malam normal. Kedua, mengikuti jadwal Makkah atau Madinah sebagai rujukan universal. Ketiga, menggunakan standar waktu tertentu yang disepakati komunitas Muslim setempat agar ibadah tetap berjalan proporsional dan tidak membahayakan kesehatan.
Pendekatan ini didasarkan pada prinsip kemudahan dalam Islam. Dalam kondisi geografis yang tidak normal, syariat memberikan ruang fleksibilitas agar ibadah tetap bisa dijalankan secara wajar.
Dengan kata lain, meskipun secara teori waktu antara Zuhur dan Magrib bisa hanya satu jam, praktik puasa biasanya tidak sesingkat itu. Ada penyesuaian agar tetap sesuai dengan nilai keadilan dan kemaslahatan.
Tantangan Spiritual di Ujung Dunia
Menjalankan ibadah di Murmansk bukan hanya soal hitungan jam. Lingkungan dengan suhu sangat dingin, minim cahaya matahari, dan ritme biologis yang terganggu juga menjadi tantangan tersendiri.
Kurangnya sinar matahari dalam jangka panjang bisa memengaruhi suasana hati dan energi tubuh. Namun bagi komunitas Muslim di sana, Ramadhan justru menjadi momen memperkuat solidaritas dan spiritualitas.
Masjid-masjid di Murmansk dan wilayah sekitarnya tetap mengadakan salat berjamaah, buka puasa bersama, dan kajian keagamaan. Di tengah gelapnya polar night, cahaya kebersamaan menjadi penguat utama.
Pelajaran dari Murmansk
Fenomena Murmansk mengajarkan satu hal penting: ibadah bukan sekadar rutinitas teknis, tetapi juga tentang adaptasi, niat, dan kebijaksanaan.
Bagi kita yang tinggal di wilayah tropis dengan durasi siang-malam relatif stabil, mungkin sulit membayangkan bagaimana rasanya berpuasa di tempat di mana matahari hampir tidak muncul. Namun di belahan bumi lain, realitas itu benar-benar ada.
Murmansk membuktikan bahwa kondisi geografis tidak menghalangi spiritualitas. Justru di tempat-tempat paling ekstrem, nilai fleksibilitas dan rahmat dalam ajaran agama menjadi semakin terasa.
Jadi, ketika kita mengeluh tentang panasnya siang atau lamanya waktu puasa, mungkin ada baiknya mengingat bahwa di ujung utara dunia, ada orang-orang yang menjalankan ibadah dengan tantangan yang jauh berbeda—dan tetap penuh keyakinan.**DS
Baca juga artikel lainnya :
museum-eksekusianomali-rusia-fakta-sejarah-kelam-dan-fenomena-dark-tourism

