Jejak Awal Cornelis de Houtman di Nusantara
Sebelum dikenal mendarat di Banten, rombongan Cornelis de Houtman ternyata lebih dulu singgah di Lampung. Simak fakta sejarah yang jarang diangkat ini dan bagaimana Lampung menjadi pintu awal Belanda mengenal Nusantara.
Eksplora.id - Selama ini, banyak buku sejarah di Indonesia menyebut bahwa kedatangan pertama bangsa Belanda ke Nusantara terjadi di Banten. Nama Cornelis de Houtman selalu dikaitkan dengan pelabuhan Banten pada tahun 1596 sebagai awal mula kolonialisme Belanda di tanah air. Namun, jika menelusuri catatan pelayaran aslinya, ada fakta menarik yang jarang diangkat: sebelum tiba di Banten, rombongan Belanda ternyata lebih dulu singgah di Lampung.
Fakta ini tercatat dalam jurnal pelayaran Cornelis de Houtman dan dirangkum dalam tulisan Arman Arifin Zainal (Arman AZ). Sayangnya, bagian tentang Lampung kerap luput dari narasi sejarah arus utama.
Lampung: Persinggahan Awal yang Terlupakan
Pada akhir abad ke-16, Belanda tengah berlomba mencari jalur langsung ke sumber rempah-rempah di Asia, tanpa bergantung pada Portugis dan Spanyol. Ekspedisi Cornelis de Houtman menjadi salah satu pelayaran penting yang membuka jalan bagi kehadiran Belanda di Nusantara.
Dalam perjalanan menuju Jawa, kapal-kapal Belanda tersebut lebih dulu berlabuh di wilayah yang kini dikenal sebagai Lampung, di ujung selatan Pulau Sumatra. Di sana, mereka tidak hanya singgah sebentar. Mereka berinteraksi dengan penduduk setempat, mengamati komoditas perdagangan, serta mencatat kehidupan sosial masyarakat pesisir.
Lampung saat itu bukan wilayah sembarangan. Daerah ini dikenal sebagai salah satu penghasil lada terbaik di kawasan Selat Sunda. Lada merupakan komoditas yang sangat bernilai di pasar Eropa, bahkan sering disebut sebagai “emas hitam” pada masanya.
Keberadaan lada inilah yang menjadi magnet utama bagi bangsa-bangsa Eropa untuk datang ke Nusantara.
Interaksi Awal: Lada, Nira, dan Rumah Pesisir
Dalam catatan pelayaran tersebut, rombongan Belanda mencatat berbagai hal tentang Lampung. Mereka melihat tanaman lada yang tumbuh subur, menyaksikan proses pengolahan nira, serta memperhatikan bentuk rumah-rumah masyarakat pesisir yang berbeda dari arsitektur Eropa.
Pengamatan ini bukan sekadar rasa ingin tahu. Bagi para pedagang dan pelaut Eropa, informasi semacam ini sangat penting. Mereka sedang memetakan potensi ekonomi, jalur perdagangan, serta karakter masyarakat setempat.
Dari Lampung pula, mereka mulai mendapatkan gambaran mengenai Banten sebagai pusat perdagangan besar di Jawa. Informasi tentang Banten kemungkinan diperoleh melalui jaringan perdagangan lokal yang sudah terhubung erat di kawasan Selat Sunda.
Dengan kata lain, Lampung bisa dianggap sebagai pintu awal Belanda memahami peta niaga Nusantara sebelum akhirnya berlayar menuju Banten.
Mengapa Banten Lebih Populer dalam Narasi Sejarah?
Lalu mengapa dalam sejarah yang diajarkan di sekolah, Banten selalu disebut sebagai titik awal kedatangan Belanda?
Jawabannya kemungkinan terletak pada dampak politik dan ekonomi yang terjadi setelahnya. Di Banten, interaksi antara Belanda dan penguasa lokal berkembang menjadi hubungan dagang yang lebih intens, meskipun penuh ketegangan. Dari sanalah kemudian lahir rangkaian peristiwa yang membuka jalan bagi VOC dan kolonialisme Belanda di Indonesia.
Banten menjadi simbol awal perubahan besar dalam sejarah Nusantara. Sementara Lampung, yang “hanya” menjadi tempat singgah awal, perlahan tenggelam dari sorotan.
Padahal, jika mengikuti kronologi pelayaran, Lampung memiliki posisi penting sebagai lokasi pertama Belanda benar-benar menginjakkan kaki dan berinteraksi langsung dengan masyarakat Nusantara dalam ekspedisi tersebut.
Pentingnya Membaca Ulang Sejarah
Fakta bahwa Lampung menjadi persinggahan awal Belanda mengingatkan kita bahwa sejarah tidak selalu sesederhana satu kalimat dalam buku pelajaran. Ada detail-detail kecil yang sering terlewat, padahal justru memperkaya pemahaman kita tentang masa lalu.
Sejarah bukan hanya tentang peristiwa besar, tetapi juga tentang titik-titik awal yang membentuk arah perjalanan berikutnya. Dalam konteks ini, Lampung bukan sekadar wilayah singgah, melainkan bagian dari bab pertama interaksi Belanda dengan Nusantara.
Membaca ulang catatan pelayaran seperti milik Cornelis de Houtman membantu kita melihat sejarah dengan perspektif yang lebih utuh. Bahwa sebelum Banten menjadi panggung utama, ada Lampung yang lebih dulu menyambut kedatangan kapal-kapal dari Eropa.
Dan mungkin, sudah saatnya kisah ini mendapatkan tempat yang lebih layak dalam narasi sejarah Indonesia.**DS
Baca juga artikel lainnya :
teluk-hantu-lampung-surga-tersembunyi-dengan-cerita-mistis-dan-keindahan-alami

