Bali Rela Kehilangan Rp6,3 Triliun Demi Keheningan Suci Nyepi

Di penghujung Maret 2025, Pulau Bali kembali memeluk keheningan total dalam perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1947.

Apr 4, 2025 - 23:14
 0  12
Bali Rela Kehilangan Rp6,3 Triliun Demi Keheningan Suci Nyepi
sumber foto : pixabay

Eksplora.id - Di penghujung Maret 2025, Pulau Bali kembali memeluk keheningan total dalam perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1947. Selama 24 jam, seluruh aktivitas kehidupan di Bali berhenti total. Bandara ditutup, jalanan kosong, internet dipadamkan, dan pariwisata pun terhenti. Momen suci ini menyebabkan potensi kerugian ekonomi hingga Rp6,3 triliun. Namun, masyarakat Bali justru merasa mendapatkan lebih dari sekadar materi.

24 Jam Bali Berhenti Total

Hari Raya Nyepi bukan sekadar perayaan tahun baru bagi umat Hindu, tetapi merupakan waktu untuk refleksi diri dan menyucikan alam. Empat pantangan yang dijalankan saat Nyepi, dikenal sebagai Catur Brata Penyepian, yaitu:

  • Amati Geni: tidak menyalakan api/listrik

  • Amati Karya: tidak bekerja

  • Amati Lelungan: tidak bepergian

  • Amati Lelanguan: tidak menikmati hiburan

Efek dari pelaksanaan Nyepi ini begitu luar biasa: Bali benar-benar hening. Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai tutup selama 24 jam. Lalu lintas darat dan laut dihentikan. Aktivitas ekonomi dan pariwisata berhenti total. Bahkan, layanan internet di banyak wilayah Bali dipadamkan untuk mendukung kekhusyukan.

Potensi Kerugian Ekonomi Mencapai Rp6,3 Triliun

Menurut perhitungan para pengamat ekonomi dan pelaku usaha pariwisata, kerugian ekonomi selama satu hari Nyepi di Bali bisa mencapai Rp6,3 triliun. Angka ini berasal dari berbagai sektor seperti penerbangan, hotel, restoran, transportasi, perdagangan, dan kegiatan wisata lainnya.

Namun, bagi masyarakat Bali, nilai spiritual Nyepi jauh lebih besar dibanding kerugian materi. Nyepi dianggap sebagai bentuk sedekah energi dan waktu untuk alam, serta momen penting untuk menjaga keseimbangan hidup.

“Nyepi bukan tentang kerugian, tapi tentang membersihkan jiwa dan menghormati alam semesta. Ini saatnya berhenti sejenak agar kita bisa melangkah lebih bijak ke depan,” ujar salah satu tokoh adat di Denpasar.

Wisatawan Ikut Menghormati Tradisi Nyepi

Menariknya, wisatawan mancanegara dan domestik yang berada di Bali juga ikut mematuhi aturan Nyepi. Mereka tetap berada di hotel, tidak bepergian, dan menikmati keheningan yang jarang bisa ditemukan di belahan dunia lain.

Banyak dari mereka mengaku takjub dengan fenomena ini. Bahkan, beberapa wisatawan menyebut Nyepi sebagai pengalaman spiritual yang unik dan damai.

Pesan Damai dari Bali untuk Dunia

Hari Raya Nyepi menjadikan Bali sebagai satu-satunya wilayah di dunia yang benar-benar 'beristirahat' selama sehari penuh. Tidak ada lalu lintas, tidak ada polusi suara dan cahaya, dan langit Bali pun terlihat lebih cerah di malam hari.

Momentum ini memberikan pesan kuat kepada dunia: di tengah laju kehidupan yang semakin cepat dan bising, sesekali kita perlu berhenti, menenangkan diri, dan kembali menyatu dengan alam.

Baca juga artikel lainnya :

tingginya toleransi di bali salat tarawih tetap berjalan saat nyepi