Tingginya Toleransi di Bali: Salat Tarawih Tetap Berjalan Saat Nyepi

Bali dikenal sebagai pulau dengan toleransi tinggi dalam keberagaman. Pada tahun 2025, Hari Raya Nyepi yang jatuh pada 29 Maret bertepatan dengan bulan suci Ramadan.

Mar 29, 2025 - 23:59
Mar 30, 2025 - 00:01
 0  11
Tingginya Toleransi di Bali: Salat Tarawih Tetap Berjalan Saat Nyepi
sumber foto : gg

Eksplora.id - Bali dikenal sebagai pulau dengan toleransi tinggi dalam keberagaman. Pada tahun 2025, Hari Raya Nyepi yang jatuh pada 29 Maret bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Meski Nyepi identik dengan suasana hening dan tanpa aktivitas, umat Islam di Bali tetap dapat melaksanakan salat tarawih dengan aturan khusus yang menghormati tradisi Hindu.

Kesepakatan Antarumat Beragama untuk Ibadah yang Harmonis

Untuk memastikan ibadah Nyepi dan Ramadan berjalan lancar, tokoh lintas agama, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), serta pemerintah daerah Bali telah mencapai kesepakatan. Umat Islam diperbolehkan melaksanakan salat tarawih di masjid atau musala terdekat dengan beberapa ketentuan:

  • Tidak menggunakan pengeras suara untuk menghormati suasana hening Nyepi.

  • Jamaah harus berjalan kaki menuju tempat ibadah, tanpa kendaraan bermotor.

  • Pembatasan penggunaan lampu penerangan agar tetap selaras dengan aturan Nyepi.

  • Waktu salat tarawih disepakati antara pukul 20.00 hingga 21.30 WITA.

Aturan ini menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat Bali mengedepankan harmoni dan saling menghormati dalam kehidupan beragama.

Imbauan Kemenag: Salat Tarawih di Rumah untuk Menghormati Nyepi

Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Bali mengimbau umat Muslim untuk melaksanakan salat tarawih dan iktikaf di rumah selama Nyepi. Langkah ini bertujuan untuk menjaga ketenangan sekaligus menghormati umat Hindu yang menjalankan Catur Brata Penyepian.

Imbauan ini mencerminkan sikap toleransi dan gotong royong antaragama di Bali. Keputusan ini juga didukung oleh berbagai organisasi Islam di Bali, yang memahami pentingnya menjaga hubungan harmonis di tengah masyarakat multikultural.

Penutupan Pelabuhan: Bentuk Penghormatan terhadap Nyepi

Selain penyesuaian ibadah bagi umat Islam, toleransi juga ditunjukkan dengan penutupan sementara Pelabuhan ASDP Ketapang Banyuwangi selama dua malam saat Nyepi. Keputusan ini memberikan kesempatan bagi umat Hindu untuk menjalankan ibadahnya dengan khusyuk, meskipun bertepatan dengan periode mudik Lebaran.

Penutupan pelabuhan ini merupakan salah satu bentuk nyata bagaimana berbagai pihak turut serta dalam menjaga harmoni dan keberagaman di Bali.

Komunikasi Antaragama: Kunci Harmoni di Bali

Komunikasi yang baik antarumat beragama menjadi faktor utama dalam menjaga kedamaian di Bali. Dialog terbuka antara pemimpin agama dan masyarakat memungkinkan terciptanya kesepakatan yang saling menghormati.

Dengan keterbukaan dan sikap saling memahami, Bali menjadi contoh bagaimana keberagaman bisa dikelola dengan damai. Hal ini memperkuat citra Bali sebagai daerah dengan tingkat toleransi tinggi, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia.

Perayaan Nyepi yang bertepatan dengan bulan Ramadan di Bali menjadi bukti bahwa keberagaman bisa berjalan beriringan dengan harmoni. Melalui komunikasi yang baik, saling pengertian, dan penghormatan terhadap perbedaan, masyarakat Bali berhasil menjaga kerukunan dan memperkuat persatuan dalam keberagaman.

Bali kembali menunjukkan bahwa toleransi bukan sekadar konsep, tetapi sebuah praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga artikel lainnya :

desa cemenggaon bali sukses mengolah 80 sampah dengan kearifan lokal