Willem Bosch dan Awal Penjinakan Wabah Cacar di Jawa: Cikal Bakal Pendidikan Dokter Bumiputra

Willem Bosch, Kepala Dinas Kesehatan Militer Hindia Belanda abad ke-19, berperan penting dalam penanggulangan wabah cacar di Jawa. Gagasannya merekrut juru vaksin pribumi menjadi cikal bakal lahirnya STOVIA dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Feb 6, 2026 - 23:42
 0  0
Willem Bosch dan Awal Penjinakan Wabah Cacar di Jawa: Cikal Bakal Pendidikan Dokter Bumiputra
sumber foto : gg

Eksplora.id - Pada abad ke-19, Pulau Jawa menghadapi ancaman kesehatan serius yang merenggut ribuan nyawa: wabah cacar. Penyakit menular ini menyebar cepat di tengah kepadatan penduduk, minimnya akses layanan kesehatan, serta rendahnya pemahaman masyarakat tentang pencegahan penyakit. Di tengah kondisi tersebut, muncul satu nama yang kelak dikenang sebagai tokoh kunci dalam sejarah kesehatan di Hindia Belanda, Willem Bosch.

Bosch bukan sekadar pejabat kolonial biasa. Ia adalah Kepala Dinas Kesehatan Militer Hindia Belanda yang dikenal memiliki pandangan progresif pada masanya, terutama dalam membela nasib kesehatan penduduk pribumi. Di saat kebijakan kesehatan masih sangat berpusat pada kepentingan militer dan orang Eropa, Bosch justru mendorong pendekatan yang melibatkan masyarakat lokal secara aktif.


Wabah Cacar dan Krisis Kesehatan di Jawa Abad ke-19

Cacar merupakan salah satu penyakit paling mematikan pada abad ke-18 dan ke-19. Di Jawa, wabah ini tidak hanya menyebabkan kematian massal, tetapi juga meninggalkan cacat permanen pada banyak penyintas. Program vaksinasi sebenarnya sudah dikenal di Eropa sejak akhir abad ke-18, namun penerapannya di Hindia Belanda menghadapi banyak kendala.

Kurangnya tenaga medis, jarak geografis yang luas, serta ketidakpercayaan masyarakat terhadap otoritas kolonial membuat upaya vaksinasi berjalan lambat. Di sinilah Bosch melihat bahwa pendekatan top-down ala kolonial tidak akan efektif jika tidak melibatkan orang pribumi sendiri.


Gagasan Revolusioner: Juru Vaksin dari Kalangan Pribumi

Willem Bosch mengajukan gagasan yang terbilang radikal pada zamannya: merekrut dan melatih juru vaksin dari kalangan pribumi, yang kemudian dikenal sebagai mantri cacar. Menurut Bosch, penduduk lokal akan lebih percaya dan menerima vaksinasi jika dilakukan oleh sesama pribumi yang memahami bahasa, budaya, dan kebiasaan setempat.

Para mantri cacar ini bertugas mengoptimalkan program vaksinasi di desa-desa, menjangkau wilayah yang tidak tersentuh dokter Eropa, sekaligus memberikan edukasi kesehatan dasar. Strategi ini terbukti efektif dalam memperluas cakupan vaksinasi dan secara perlahan membangun daya kebal masyarakat terhadap cacar.

Pendekatan Bosch mencerminkan pemahaman awal tentang pentingnya kesehatan masyarakat dan peran komunitas, jauh sebelum konsep tersebut menjadi arus utama dalam dunia kedokteran modern.


Lahirnya Lembaga Pendidikan Juru Vaksin Pribumi

Untuk mendukung program ini secara berkelanjutan, Bosch mendorong pembentukan lembaga pendidikan khusus bagi juru vaksin pribumi. Pada tahun 1851, sebuah sekolah didirikan di Rumah Sakit Militer Weltevreden, yang kini dikenal sebagai RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

Lembaga ini menjadi tempat pelatihan tenaga kesehatan pribumi agar memiliki keterampilan medis dasar, terutama dalam vaksinasi dan penanganan penyakit menular. Keberadaan sekolah ini menandai langkah awal institusionalisasi pendidikan kedokteran bagi penduduk lokal di Hindia Belanda.


Dari Sekolah Dokter Jawa ke STOVIA

Dua tahun kemudian, lembaga tersebut berkembang dan berubah menjadi Sekolah Dokter Jawa. Perkembangan ini menunjukkan meningkatnya kebutuhan tenaga medis terlatih dari kalangan pribumi, seiring dengan kesadaran bahwa kesehatan penduduk berpengaruh langsung pada stabilitas sosial dan ekonomi kolonial.

Pada tahun 1898, sekolah ini resmi bernama School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputra. STOVIA menjadi institusi bergengsi yang melahirkan banyak tokoh penting, tidak hanya di bidang kesehatan, tetapi juga dalam pergerakan nasional Indonesia.

Seiring waktu, istilah Inlandsche (Bumiputra) kemudian diubah menjadi Indische (Hindia), karena STOVIA mulai terbuka bagi berbagai kelompok masyarakat di Hindia Belanda, termasuk pelajar Eropa dan Tionghoa. Perubahan ini menandai pergeseran fungsi sekolah dari instrumen kolonial menjadi lembaga pendidikan medis yang lebih inklusif.


Warisan Willem Bosch bagi Dunia Kedokteran Indonesia

Sekolah yang berawal dari gagasan Willem Bosch inilah yang kelak menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI). Dari upaya menanggulangi wabah cacar, lahir sistem pendidikan dokter yang berperan besar dalam sejarah kesehatan dan kebangsaan Indonesia.

Meski Bosch adalah bagian dari pemerintahan kolonial, kontribusinya menunjukkan bahwa kebijakan kesehatan berbasis kemanusiaan dapat membawa dampak jangka panjang. Ia membuktikan bahwa melibatkan masyarakat lokal bukan hanya efektif secara medis, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya kaum terdidik pribumi.


Dari Wabah ke Peradaban

Kisah Willem Bosch dan penjinakan wabah cacar di Jawa memperlihatkan bahwa krisis kesehatan dapat menjadi titik balik peradaban. Dari ancaman penyakit mematikan, lahir lembaga pendidikan yang mencetak dokter-dokter pribumi, intelektual, dan pemimpin masa depan.

Sejarah ini menjadi pengingat bahwa kesehatan bukan sekadar urusan medis, melainkan fondasi penting bagi kemajuan sebuah bangsa.**DS

Baca juga artikel lainnya :

marie-thomas-dokter-perempuan-pertama-di-indonesia-asli-minahasa