Wakil Bupati Subang Dampingi Menteri Koperasi RI Lepas Ekspor 96 Ton Kopi ke Aljazair

Wakil Bupati Subang dampingi Menteri Koperasi RI lepas ekspor 96 ton kopi Koperasi GLB ke Aljazair, bukti koperasi lokal mampu bersaing di pasar global.

Jan 20, 2026 - 19:02
 0  2
Wakil Bupati Subang Dampingi Menteri Koperasi RI Lepas Ekspor 96 Ton Kopi ke Aljazair
sumber foto : gg

Eksplora.id - Koperasi kembali menunjukkan perannya sebagai penggerak ekonomi daerah dan pemain serius di pasar internasional. Wakil Bupati Subang mendampingi Menteri Koperasi dan UKM Republik Indonesia dalam kegiatan pelepasan ekspor kopi Koperasi Produsen Gunung Luhur Berkah (GLB) sebanyak 96 ton ke Aljazair. Momentum ini menjadi tonggak penting bagi koperasi berbasis petani yang mampu menembus pasar global secara berkelanjutan.

Ekspor tersebut sekaligus menegaskan bahwa koperasi tidak lagi identik dengan skala kecil dan pasar lokal, melainkan dapat menjadi kekuatan ekonomi yang kompetitif di tingkat internasional.


Koperasi GLB, Dari Subang Menuju Pasar Dunia

Koperasi Produsen Gunung Luhur Berkah (GLB) berdiri sejak 2016 dan mulai memperoleh lisensi ekspor pada 2020. Sejak saat itu, koperasi ini aktif memperluas jaringan pemasaran ke berbagai negara. Saat ini, sekitar 90 persen produksi kopi GLB ditujukan untuk pasar ekspor, sementara sisanya memenuhi kebutuhan domestik.

Konsistensi kualitas, manajemen produksi yang rapi, serta kepastian pasokan menjadi faktor utama yang membuat kopi GLB diterima di pasar internasional, termasuk Afrika Utara seperti Aljazair.


Skema Lahan Dua Hektare untuk Skala Ekonomi Optimal

Salah satu kunci keberhasilan GLB terletak pada model pengelolaan anggotanya. Koperasi ini menerapkan skema penguasaan lahan dua hektare per anggota. Pola ini dirancang untuk mencapai skala ekonomi yang optimal, sehingga produksi lebih efisien dan pendapatan petani dapat meningkat secara signifikan.

Dengan sistem tersebut, GLB menargetkan pendapatan anggota koperasi bisa mencapai hingga Rp150 juta per tahun. Target ini bukan sekadar angka, tetapi bagian dari upaya nyata meningkatkan kesejahteraan petani kopi dan menjadikan koperasi sebagai alat distribusi nilai yang adil.


Bukti Koperasi Mampu Bersaing Secara Global

Pemerintah daerah Subang dan Kementerian Koperasi menilai ekspor kopi GLB sebagai bukti konkret bahwa koperasi mampu bersaing di tingkat internasional. Koperasi tidak hanya berperan sebagai wadah produksi, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi daerah yang menciptakan nilai tambah dari hulu hingga hilir.

Keberhasilan ini mematahkan anggapan bahwa ekspor hanya bisa dilakukan oleh perusahaan besar. Dengan tata kelola yang baik dan dukungan kebijakan yang tepat, koperasi petani justru memiliki daya saing kuat karena berbasis produksi riil dan komunitas.


Dukungan Pemerintah: Produksi, Pasar, dan Kelembagaan

Ke depan, dukungan pemerintah difokuskan pada beberapa aspek utama, mulai dari penguatan kapasitas produksi, perluasan pasar ekspor, hingga penguatan kelembagaan koperasi. Salah satu langkah strategis yang didorong adalah transformasi kelompok perhutanan sosial menjadi koperasi usaha kehutanan sosial.

Transformasi ini diharapkan mampu membuka lapangan kerja lokal, meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan, serta memperkuat peran koperasi dalam rantai produksi, distribusi, hingga pembiayaan.


Koperasi sebagai Pilar Ekonomi Daerah

Ekspor 96 ton kopi ke Aljazair bukan hanya capaian bisnis, tetapi juga simbol kebangkitan koperasi sebagai pilar ekonomi daerah. Ketika koperasi dikelola secara profesional, terhubung dengan pasar global, dan didukung kebijakan yang tepat, maka kesejahteraan petani dan pembangunan daerah dapat berjalan beriringan.

Kisah Koperasi GLB menjadi contoh bahwa ekonomi berbasis kebersamaan mampu tumbuh, bersaing, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.**DS

Baca juga artikel lainnya :

bebas-deforestasi-jadi-syarat-baru-ekspor