Transformasi Besar Banyumas dalam Pengelolaan Sampah
Banyumas yang dulu darurat sampah kini menjadi daerah dengan pengolahan sampah terbaik di Asia Tenggara berkat teknologi RDF dan bank sampah.

Eksplora.id - Tahun 2018, Banyumas menghadapi krisis sampah yang sangat parah. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) penuh, sampah menumpuk di jalanan, dan pencemaran lingkungan semakin memburuk. Bahkan, status "darurat sampah" sempat diberlakukan. Banyumas saat itu dapat menghasilkan sampah sebanyak 600 ton per hari. Namun, kini Banyumas berhasil bangkit dan menjadi salah satu daerah dengan pengolahan sampah terbaik di Asia Tenggara. Saat ini, Banyumas telah mampu mengolah sampah sebanyak 80% dari total produksi harian.
Inovasi Banyumas dalam Pengelolaan Sampah
Keberhasilan Banyumas tidak lepas dari berbagai inovasi dan kebijakan yang diterapkan pemerintah daerah serta keterlibatan aktif masyarakat. Berikut adalah beberapa langkah utama yang membawa perubahan besar:
1. Program Sumpah Beruang (Sulap Sampah Berubah Uang)
Dinas Lingkungan Hidup Banyumas menggagas program Sumpah Beruang, yang mendorong masyarakat untuk mengelola sampah menjadi sumber pendapatan. Saat ini, sampah rumah tangga di Banyumas tidak lagi diangkut oleh pemerintah, tetapi oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Tugas KSM tidak hanya mengangkut sampah tetapi juga mengolahnya dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Saat ini, terdapat sekitar 1.500 pekerja dalam program ini.
2. Teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF) dan TPST Kedungrandu
Banyumas memiliki 23 Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), salah satunya adalah TPST Kedungrandu. Di sini, sampah organik dan anorganik dipisahkan. Sampah yang dikelola per hari rata-rata mencapai 15 ton dan tidak menghasilkan residu karena sisa residu dibakar menggunakan mesin pirolisis. Salah satu produk unggulan dari pengolahan ini adalah bata plastik, pupuk organik, magot untuk pakan ternak, serta RDF (Refuse-Derived Fuel) sebagai bahan pengganti batu bara.
3. Pemanfaatan Aplikasi SALINMAS dan JEKNYONG
Warga Banyumas dapat menjual sampah mereka melalui aplikasi SALINMAS dan JEKNYONG, sehingga sampah yang sebelumnya menjadi masalah kini berubah menjadi pemasukan bagi masyarakat. Sampah plastik dihargai sekitar Rp6.000 per kilogram, sedangkan sampah organik dihargai Rp400 per kilogram. Hal ini semakin meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah mereka sendiri.
Dampak Positif Transformasi Pengelolaan Sampah di Banyumas
Transformasi ini memberikan dampak besar bagi lingkungan dan masyarakat Banyumas:
- Volume sampah di TPA berkurang hingga 40%.
- Polusi udara dan pencemaran tanah akibat sampah berkurang drastis.
- Masyarakat mendapatkan penghasilan tambahan dari daur ulang.
- Banjir akibat sampah berkurang hingga 35%.
- Banyumas meraih penghargaan ASEAN ESC Award 2023 sebagai daerah dengan sistem pengelolaan sampah terbaik di Asia Tenggara.
Banyumas Sebagai Contoh bagi Daerah Lain
Keberhasilan Banyumas membuktikan bahwa dengan inovasi, kebijakan yang tepat, dan partisipasi aktif masyarakat, masalah sampah bisa diatasi. Kota dan daerah lain di Indonesia dapat meniru langkah Banyumas dalam menerapkan teknologi RDF, memperkuat ekonomi sirkular, dan membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah.
Dari status darurat sampah pada tahun 2018, Banyumas kini telah bertransformasi menjadi contoh pengelolaan sampah terbaik di Asia Tenggara. Inovasi seperti teknologi RDF, program Sumpah Beruang, dan pemanfaatan aplikasi digital menjadi kunci keberhasilannya. Dengan komitmen yang terus berlanjut, Banyumas dapat menjadi inspirasi bagi kota lain dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Bagaimana menurut Anda? Haruskah kota lain menerapkan sistem seperti Banyumas?