Shoji Morimoto: Membangun Karier “Tidak Melakukan Apa-apa”

Eksplora.id - Ketika Shoji Morimoto dipecat dari pekerjaannya pada tahun 2018 karena dianggap tidak menunjukkan inisiatif dan "tidak melakukan apa-apa" yang bernilai bagi perusahaan, banyak yang mungkin menganggap kariernya telah usai. Namun, siapa sangka, kritik tersebut justru menjadi awal dari perjalanan suksesnya. Kini, Morimoto, 41 tahun, dikenal luas di Jepang sebagai "orang sewa" untuk tidak melakukan apa-apa, sebuah profesi unik yang memanfaatkan permintaan akan kehadiran sederhana di tengah masyarakat yang semakin individualis.
Karier yang Berakar dari "Tidak Melakukan Apa-apa"
Morimoto memulai layanan ini dengan sederhana: menyewakan dirinya untuk menemani orang tanpa menawarkan keahlian khusus atau tugas tertentu. Ia hanya menawarkan keberadaannya, siap untuk mendengarkan, menemani, atau sekadar berada di dekat kliennya. Permintaan terhadap jasanya pun sangat beragam, mulai dari menunggu pelari maraton di garis akhir, hingga menemani klien yang ingin mendekorasi ulang atau membersihkan rumah sambil berbincang santai. Kehadiran Morimoto menjadi semacam oase bagi individu-individu di Jepang yang mengalami isolasi sosial atau sekadar membutuhkan keberadaan orang lain di sekitarnya. Jasanya tidak berfokus pada menyelesaikan masalah besar, melainkan memenuhi kebutuhan kecil yang sering kali terabaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Cerminan Masyarakat Jepang yang Berubah
Fenomena Morimoto tidak dapat dilepaskan dari karakteristik masyarakat Jepang saat ini. Studi menunjukkan bahwa semakin banyak orang Jepang yang memilih untuk hidup sendiri, tidak menikah, atau bahkan menghindari relasi sosial yang mendalam. Alasan di balik tren ini beragam, termasuk tekanan sosial, budaya kerja yang intens, dan meningkatnya preferensi untuk menjalani kehidupan independen. Namun, di sisi lain, kebutuhan akan interaksi manusia tidak sepenuhnya hilang. Banyak orang mencari hubungan sementara yang tidak mengikat—seperti makan bersama, berbicara, atau sekadar berbagi ruang dengan orang lain. Di sinilah Morimoto menemukan perannya. Ia menawarkan solusi yang tidak invasif bagi mereka yang ingin merasakan kehadiran seseorang tanpa harus membangun komitmen emosional atau sosial.
Sebuah Paradoks Sosial
Pekerjaan Morimoto mungkin terdengar unik, bahkan aneh, di telinga sebagian orang. Namun, di balik itu terdapat refleksi mendalam tentang bagaimana masyarakat Jepang menghadapi dinamika kehidupan modern. Teknologi, urbanisasi, dan budaya kerja yang menuntut telah menciptakan jarak sosial di antara individu. Ironisnya, di saat hubungan tradisional seperti pernikahan atau persahabatan semakin berkurang, kebutuhan akan interaksi manusia justru menjadi lebih mendesak.
Inspirasi dari Morimoto
Shoji Morimoto adalah contoh nyata bagaimana kritik bisa berubah menjadi peluang. Dengan memahami kebutuhan emosional dan sosial masyarakat di sekitarnya, ia berhasil membangun karier dari hal yang tampaknya sederhana namun sangat bermakna. Bagi banyak orang di Jepang, keberadaan Morimoto bukan hanya sebagai "orang sewa," tetapi juga pengingat bahwa terkadang, keberadaan seseorang saja sudah cukup untuk membuat perbedaan dalam hidup kita.