Sejarah Martabak Manis: Dari Tiongkok ke Indonesia

Dec 28, 2024 - 11:19
 0  9
Sejarah Martabak Manis: Dari Tiongkok ke Indonesia

Eksplora.id - Martabak manis, salah satu camilan paling populer di Indonesia, ternyata memiliki sejarah panjang yang berasal dari Tiongkok. Di negara asalnya, camilan ini dikenal dengan nama "Manjian Bing" (满煎饼), yang secara harfiah berarti "panekuk isi". Perjalanan manjian bing hingga menjadi martabak manis di Indonesia mencerminkan bagaimana budaya kuliner dapat melintasi batas geografis dan waktu.

Asal Usul Manjian Bing

Manjian Bing adalah camilan tradisional Tiongkok yang terbuat dari adonan tepung yang dipanggang di atas wajan datar. Isian khasnya adalah bahan-bahan manis seperti pasta kacang merah, gula, atau wijen. Tekstur manjian bing yang lembut di dalam dan renyah di luar menjadikannya favorit di berbagai kalangan, dari petani hingga pedagang. Dalam budaya Tiongkok, manjian bing sering tersaji sebagai camilan pasar atau makanan jalanan. Kadang, camilan ini juga hadir dalam perayaan sederhana atau disuguhkan untuk tamu sebagai bentuk penghormatan.

Masuk ke Indonesia

Para sejarawan memperkirakan manjian bing masuk ke Indonesia oleh imigran Tionghoa pada abad ke-18 hingga ke-19 melalui jalur perdagangan maritim. Resep asli manjian bing yang awal mulanya dominasi rasa asin, kemudian beradaptasi dengan bahan lokal yang ada. Isian kacang merah khas Tiongkok berganti dengan kacang tanah atau gula aren, sementara teknik memasak berubah menggunakan cetakan khusus yang menghasilkan tekstur tebal dan empuk. Adaptasi ini membuat martabak manis lebih cocok dengan cita rasa masyarakat Indonesia. Perubahan bahan dan teknik ini juga menjadi awal berkembangnya variasi martabak manis yang kita kenal saat ini.

Evolusi Nama dan Variasi Rasa

Nama "martabak manis" kemungkinan berasal dari adaptasi lidah lokal terhadap istilah martabak yang awalnya merujuk pada hidangan Timur Tengah. Meskipun berbeda secara signifikan dari martabak telur, martabak manis tetap mempertahankan daya tariknya sebagai camilan sederhana namun memuaskan. Seiring waktu, penjual martabak di Indonesia mulai menambahkan berbagai variasi rasa untuk menarik lebih banyak pelanggan. Topping seperti cokelat, keju, dan susu kental manis menjadi standar. Dalam beberapa tahun terakhir, inovasi modern seperti rasa matcha, red velvet, dan Oreo turut menambah popularitas martabak manis, terutama di kalangan generasi muda. Beberapa daerah, menjual martabak manis dengan nama lain, seperti "terang bulan" atau "martabak bangka". Hal ini menunjukkan bagaimana camilan ini telah terintegrasi ke dalam tradisi lokal dan menjadi bagian penting dari budaya kuliner Indonesia.

Keberlanjutan dalam Budaya Kuliner

Saat ini, berbagai tempat kuliner memudahkan kita menemukan martabak manis, mulai dari gerobak kaki lima hingga restoran premium. Beberapa pengusaha bahkan berhasil membawa martabak manis ke kancah internasional, memperkenalkan cita rasa Indonesia ke dunia. Meskipun banyak inovasi, martabak manis tetap mempertahankan esensinya sebagai camilan rakyat yang sederhana, murah, dan mengenyangkan. Popularitasnya yang terus bertahan menunjukkan daya tarik universal dari makanan ini.

Martabak manis adalah contoh sempurna bagaimana makanan mampu melintasi batas geografis dan budaya. Dari manjian bing di Tiongkok hingga martabak manis di Indonesia, perjalanan camilan ini tidak hanya memperkaya rasa tetapi juga menyatukan tradisi dalam satu gigitan. Keberadaan martabak manis di setiap sudut Indonesia adalah bukti nyata bagaimana kuliner dapat menjadi jembatan budaya yang menghubungkan masa lalu, sekarang, dan masa depan.