Rimpi Pisang dari Tapin, Kudapan Tradisional yang Diabadikan Lewat Lagu Ampar-Ampar Pisang

Rimpi pisang adalah kudapan tradisional khas Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, yang dikenal luas lewat lagu daerah “Ampar-Ampar Pisang”. Kuliner ini menyimpan sejarah, budaya, dan filosofi masyarakat Banjar.

Feb 4, 2026 - 01:34
 0  3
Rimpi Pisang dari Tapin, Kudapan Tradisional yang Diabadikan Lewat Lagu Ampar-Ampar Pisang
sumber foto : gg

Eksplora.id - Di balik kepopuleran lagu daerah “Ampar-Ampar Pisang”, tersimpan kisah tentang sebuah kuliner tradisional khas Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, yang hingga kini masih lestari: rimpi pisang. Kudapan sederhana berbahan dasar pisang ini bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Banjar yang diwariskan lintas generasi.

Lagu Ampar-Ampar Pisang yang dikenal hampir di seluruh Indonesia sejatinya merujuk langsung pada proses pembuatan rimpi pisang. Kata ampar-ampar berarti dijemur atau dihamparkan, sementara pisang yang dimaksud adalah pisang yang diolah menjadi rimpi.

Apa Itu Rimpi Pisang?

Rimpi pisang adalah olahan pisang yang dikeringkan, biasanya berasal dari pisang kepok atau pisang lokal khas Kalimantan. Pisang yang sudah matang dikupas, dipipihkan, lalu dijemur di bawah sinar matahari hingga kadar airnya berkurang. Setelah itu, rimpi pisang dapat langsung dikonsumsi atau digoreng kembali agar lebih renyah.

Teksturnya unik—tidak selembut pisang goreng, namun juga tidak sekeras keripik. Rasanya manis alami dengan aroma khas pisang yang kuat, menjadikannya camilan favorit masyarakat Tapin sejak dahulu.

Asal-Usul dalam Lagu Ampar-Ampar Pisang

Lagu Ampar-Ampar Pisang bukan sekadar lagu anak-anak. Liriknya menggambarkan proses pengolahan rimpi pisang yang dijemur di halaman rumah. Dalam bait lagu juga disebutkan “masak sabigi”, yang merujuk pada pisang yang hampir matang dan harus segera diolah agar tidak busuk.

Selain itu, kehadiran tokoh “Hampalau” dalam lagu sering ditafsirkan sebagai simbol gangguan, seperti binatang atau anak-anak yang berebut rimpi pisang saat dijemur. Lagu ini menjadi potret kehidupan masyarakat Banjar tempo dulu, di mana makanan, alam, dan aktivitas harian menyatu dalam budaya lisan.

Kuliner Sederhana, Nilai Budaya Tinggi

Bagi masyarakat Tapin, rimpi pisang bukan hanya camilan pengganjal lapar. Kudapan ini kerap hadir dalam acara keluarga, hajatan, hingga suguhan tamu. Proses pembuatannya yang sederhana mencerminkan nilai kebersamaan, karena biasanya dilakukan bersama-sama oleh anggota keluarga.

Di masa lalu, rimpi pisang juga menjadi cara masyarakat mengawetkan hasil panen pisang, agar bisa dinikmati lebih lama tanpa teknologi modern.

Upaya Pelestarian di Tengah Modernisasi

Seiring masuknya makanan modern dan camilan pabrikan, keberadaan rimpi pisang sempat terpinggirkan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kudapan ini kembali mendapat perhatian, terutama sebagai kuliner khas daerah Tapin yang memiliki nilai sejarah dan budaya.

Pemerintah daerah dan pelaku UMKM mulai mengemas rimpi pisang secara lebih modern tanpa menghilangkan cita rasa aslinya. Rimpi pisang kini tak hanya dijual di pasar tradisional, tetapi juga menjadi oleh-oleh khas Kalimantan Selatan.

Identitas Tapin yang Melekat dalam Budaya Nasional

Popularitas lagu Ampar-Ampar Pisang membuat rimpi pisang dikenal hingga ke luar Kalimantan. Lagu tersebut kerap diajarkan di sekolah sebagai bagian dari pendidikan budaya, menjadikan rimpi pisang sebagai kuliner daerah yang hidup dalam ingatan kolektif bangsa.

Di tengah arus globalisasi, rimpi pisang dari Tapin menjadi pengingat bahwa makanan tradisional bukan sekadar rasa, melainkan cerita, sejarah, dan jati diri suatu daerah.**DS

Baca juga artikel lainnya :

manfaat-makanan-kombinasi-saat-dua-bahan-sederhana-bekerja-lebih-efektif-untuk-kesehatan