Pulau Onrust: Dari Persinggahan Kapal hingga Saksi Kelam Penjara dan Kekerasan Kolonial

Pulau Onrust di Kepulauan Seribu menyimpan sejarah kelam masa kolonial Belanda, dari pusat persinggahan kapal hingga penjara dan tempat kekerasan terhadap tahanan.

Feb 6, 2026 - 23:15
 0  1
Pulau Onrust: Dari Persinggahan Kapal hingga Saksi Kelam Penjara dan Kekerasan Kolonial
sumber foto : wikipedia

Eksplora.id - Pulau Onrust merupakan salah satu pulau bersejarah yang berada di wilayah Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, dengan posisi strategis berdekatan dengan Pulau Bidadari. Di balik panorama lautnya yang tenang, pulau kecil ini menyimpan lapisan sejarah panjang, mulai dari pusat aktivitas pelayaran kolonial hingga menjadi tempat yang merekam sisi kelam penindasan di masa Hindia Belanda.

Pada masa kolonial, masyarakat sekitar lebih mengenal Pulau Onrust dengan sebutan Pulau Kapal. Julukan tersebut muncul karena pulau ini kerap disinggahi kapal-kapal Belanda sebelum melanjutkan perjalanan ke Batavia, pusat pemerintahan kolonial. Letaknya yang dekat dengan pelabuhan utama menjadikan Onrust sebagai titik transit penting, baik untuk pengisian logistik, perbaikan kapal, maupun pengaturan armada laut.

Asal-usul Nama Onrust dan Jejak Kolonial

Nama Onrust berasal dari bahasa Belanda yang berarti “tidak pernah beristirahat”. Sebutan ini dianggap mencerminkan kondisi pulau yang nyaris selalu sibuk oleh aktivitas pelayaran dan militer. Namun, terdapat pula sumber lain yang menyebutkan bahwa nama Onrust berasal dari Baas Onrust Cornelis van der Walck, seorang keturunan bangsawan Belanda yang pernah tinggal di pulau tersebut.

Seiring waktu, Pulau Onrust berkembang bukan hanya sebagai pusat logistik, tetapi juga sebagai wilayah strategis pertahanan kolonial. Berbagai bangunan peninggalan Belanda masih dapat dijumpai hingga kini, mulai dari sisa benteng, barak, hingga gudang. Salah satu bangunan yang masih berdiri utuh kemudian dialihfungsikan menjadi Museum Pulau Onrust, yang menyimpan artefak serta dokumentasi sejarah pulau tersebut.

Pulau Onrust sebagai Penjara dan Tempat Pengasingan

Di balik fungsi militernya, Pulau Onrust juga memiliki sejarah kelam sebagai lokasi penjara dan pengasingan. Pada abad ke-18 hingga awal abad ke-20, pemerintah kolonial Belanda memanfaatkan pulau ini sebagai tempat menahan para tahanan, baik kriminal, pelaut yang dianggap membangkang, hingga tokoh-tokoh yang dinilai mengancam stabilitas kekuasaan kolonial.

Letaknya yang terisolasi membuat Pulau Onrust dianggap ideal untuk memutus hubungan tahanan dengan dunia luar. Para tahanan hidup dalam kondisi terbatas, dengan pengawasan ketat dan fasilitas yang minim. Catatan sejarah menyebutkan bahwa penyakit, kekerasan, dan tekanan mental kerap mewarnai kehidupan di pulau ini, menjadikannya simbol kerasnya sistem penjara kolonial.

Kisah Adu Tahanan dan Kekerasan Terselubung

Salah satu cerita yang kerap beredar dari masa lalu Pulau Onrust adalah adanya praktik kekerasan antartahanan, termasuk kisah tentang adu tahanan. Meski tidak seluruhnya terdokumentasi secara resmi, sejumlah penuturan sejarah lisan dan arsip kolonial menunjukkan bahwa kekerasan kerap dibiarkan, bahkan dijadikan alat kontrol oleh penguasa kolonial.

Adu tahanan ini tidak selalu berbentuk pertarungan terbuka, tetapi lebih sering berupa adu fisik, tekanan, dan perlakuan tidak manusiawi yang sengaja dibiarkan untuk melemahkan mental para tahanan. Praktik semacam ini mencerminkan wajah kelam kolonialisme, di mana manusia kerap diperlakukan sekadar sebagai objek kekuasaan.

Dari Pulau Penindasan ke Situs Edukasi Sejarah

Pasca kemerdekaan Indonesia, Pulau Onrust mengalami perubahan fungsi. Statusnya sebagai wilayah militer dan penjara berangsur ditinggalkan, digantikan dengan peran baru sebagai situs cagar budaya dan destinasi wisata sejarah. Pemerintah kemudian menetapkan Pulau Onrust sebagai kawasan pelestarian peninggalan kolonial, sekaligus ruang edukasi bagi masyarakat.

Museum Pulau Onrust kini menjadi pusat informasi sejarah yang memperlihatkan dua sisi pulau ini: sebagai pusat aktivitas maritim dan sebagai tempat yang merekam kisah penindasan serta penderitaan manusia. Melalui artefak, foto, dan narasi sejarah, pengunjung diajak memahami bahwa keindahan alam pulau ini tidak terlepas dari luka masa lalu.

Mengingat Sejarah agar Tak Terulang

Pulau Onrust bukan sekadar pulau kecil di utara Jakarta. Ia adalah saksi bisu perjalanan kolonialisme, dari kejayaan armada laut Belanda hingga praktik kekerasan yang dialami para tahanan. Mengunjungi dan mempelajari Pulau Onrust berarti membuka ruang refleksi tentang pentingnya kemanusiaan, keadilan, dan ingatan kolektif.

Di tengah geliat pariwisata Kepulauan Seribu, Pulau Onrust mengingatkan bahwa sejarah tidak selalu indah, namun perlu dipelajari agar tidak terulang kembali. Pulau ini berdiri sebagai pengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini lahir dari perjalanan panjang, termasuk dari tempat-tempat sunyi yang pernah menyimpan penderitaan manusia.**DS

Baca juga artikel lainnya :

pulau-kecil-di-yunani-tawarkan-tinggal-gratis-bagi-relawan-perawat-kucing-liar