Penjualan Miras Anjlok di Awal 2026, Gaya Hidup Berubah Jadi Faktor Utama
Penjualan miras anjlok hingga USD 830 miliar pada Januari 2026 akibat melemahnya daya beli, perubahan gaya hidup sehat, tren kopi dan matcha, serta dampak pandemi yang mengubah pola konsumsi generasi muda.
Eksplora.id - Tingkat pembelian minuman beralkohol (miras) dilaporkan anjlok hingga USD 830 miliar pada Januari 2026. Penurunan tajam ini mencerminkan melemahnya daya beli konsumen yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari tekanan ekonomi global, inflasi berkepanjangan, hingga perubahan pola konsumsi masyarakat.
Kondisi ini menandai pergeseran besar dalam industri miras yang selama puluhan tahun dianggap sebagai salah satu sektor konsumsi paling stabil.
Kopi Gula Aren Jadi Awal Pergeseran Tren
Perubahan sebenarnya sudah mulai terasa sejak 2019, ketika tren kopi gula aren meledak di kalangan anak muda. Minuman ini bukan sekadar kopi, tetapi menjadi alternatif “candu” baru yang lebih terjangkau, mudah diakses, dan bisa dinikmati tanpa stigma sosial seperti konsumsi miras.
Kafe-kafe lokal tumbuh pesat, menciptakan ruang sosial baru yang perlahan menggeser kebiasaan nongkrong sambil minum alkohol.
Pandemi Jadi Titik Balik Besar
Puncak penurunan terjadi pada era pandemi COVID-19 tahun 2021. Penutupan tempat hiburan malam, pembatasan aktivitas sosial, serta perubahan prioritas hidup membuat konsumsi miras turun drastis.
Industri miras pun terdampak serius, dengan banyak perusahaan melakukan PHK massal dan efisiensi besar-besaran untuk bertahan.
Gaya Hidup Sehat Makin Menguat
Di periode yang sama, gaya hidup sehat mulai menguat. Bersepeda, lari, gym, hingga olahraga yang kini sedang naik daun seperti padel, menjadi bagian dari identitas baru generasi muda. Media sosial berperan besar dalam mempopulerkan narasi hidup sehat, produktif, dan bebas dari alkohol.
Konten-konten kebugaran, mental health, dan wellness secara tidak langsung menggeser persepsi bahwa miras adalah bagian dari gaya hidup modern.
Harga Naik, Anak Muda Cari Alternatif
Kenaikan harga miras dari tahun ke tahun juga membuat generasi muda berpikir ulang. Dengan kondisi ekonomi yang makin ketat, mereka cenderung mencari alternatif yang lebih ramah di kantong.
Minuman seperti matcha, kopi spesialti, hingga berbagai minuman herbal dan fungsional kini menjadi pilihan baru—bukan hanya karena tren, tetapi juga karena dianggap lebih selaras dengan gaya hidup sehat.
Industri di Persimpangan Jalan
Penurunan pembelian miras bukan sekadar dampak ekonomi sesaat, melainkan sinyal perubahan struktural dalam pola konsumsi global. Industri miras kini berada di persimpangan: beradaptasi dengan tren baru atau terus tergerus oleh perubahan gaya hidup generasi muda.**DS
Baca juga artikel lainnya :

