Patung Gajah di Depan Museum Nasional: Dibayar Mahal dengan Arca Borobudur dan Prambanan

Patung gajah perunggu di depan Museum Nasional Jakarta ternyata “dibayar mahal” dengan puluhan arca dan relief dari Candi Borobudur dan Prambanan, terkait kunjungan Raja Siam ke Jawa pada abad ke-19.

Feb 4, 2026 - 02:11
 0  4
Patung Gajah di Depan Museum Nasional: Dibayar Mahal dengan Arca Borobudur dan Prambanan
Sumber foto : Instagram

Eksplora.id - Patung gajah perunggu yang berdiri kokoh di halaman depan Museum Nasional Indonesia, Jakarta, selama ini dikenal sebagai salah satu ikon kawasan Medan Merdeka Barat. Namun di balik kemegahannya, tersimpan kisah sejarah yang jarang diketahui publik. Patung tersebut bukan sekadar hadiah persahabatan, melainkan memiliki “harga” yang sangat mahal bagi Indonesia: puluhan arca dan relief dari Candi Borobudur serta beberapa artefak dari Candi Prambanan.

Kisah ini bermula dari kunjungan Raja Siam Chulalongkorn (Rama V) ke Jawa pada tahun 1896, ketika wilayah Nusantara masih berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Kunjungan tersebut menjadi peristiwa penting dalam hubungan diplomatik dan kebudayaan antara Kerajaan Siam dan pemerintah kolonial.

Kunjungan Raja Siam ke Jawa

Raja Chulalongkorn dikenal sebagai pemimpin modern yang aktif melakukan perjalanan ke luar negeri. Tujuannya bukan sekadar kunjungan kenegaraan, tetapi juga mempelajari sistem pemerintahan, kebudayaan, dan peninggalan sejarah bangsa lain.

Saat berada di Jawa, sang raja mengunjungi sejumlah situs penting, termasuk Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Ketertarikannya pada seni dan arkeologi Jawa sangat besar. Relief, arca Buddha, serta unsur estetika candi-candi di Jawa dinilai memiliki nilai spiritual dan artistik tinggi.

Dalam konteks zaman itu, praktik pertukaran artefak masih dianggap wajar, terutama dalam hubungan antarkerajaan dan kolonial. Belanda, sebagai penguasa wilayah, memiliki kendali atas banyak peninggalan tersebut.

Patung Gajah sebagai Hadiah Diplomatik

Sebagai simbol persahabatan dan kenangan kunjungan, Raja Chulalongkorn menghadiahkan patung gajah perunggu kepada pemerintah Hindia Belanda. Gajah merupakan simbol penting dalam kebudayaan Siam, melambangkan kekuatan, kebijaksanaan, dan kemakmuran.

Patung tersebut kemudian ditempatkan di depan Gedung Museum Nasional, yang kala itu dikenal sebagai Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Hingga kini, patung gajah itu menjadi penanda ikonik museum dan sering dijadikan titik foto pengunjung.

Namun, hadiah tersebut ternyata bukan satu arah.

Harga yang Harus Dibayar Nusantara

Sebagai bagian dari hubungan diplomatik dan penghormatan kepada Raja Siam, pemerintah kolonial Belanda memberikan puluhan artefak asli Nusantara kepada sang raja. Catatan sejarah menyebutkan, artefak itu terdiri dari sekitar sembilan gerobak penuh arca dan relief, sebagian besar berasal dari Candi Borobudur, serta beberapa dari Candi Prambanan.

Artefak-artefak tersebut kemudian dibawa ke Thailand dan hingga kini sebagian masih tersimpan serta dipamerkan di museum-museum di Bangkok. Beberapa relief dan arca Buddha dari Jawa bahkan menjadi koleksi penting yang menegaskan hubungan sejarah Thailand dengan Nusantara.

Bagi Indonesia masa kini, pertukaran tersebut kerap dipandang sebagai kehilangan besar warisan budaya, meski pada masanya dilakukan dalam konteks politik dan diplomasi kolonial.

Jejak Borobudur dan Prambanan di Thailand

Hingga sekarang, pengunjung museum di Thailand masih dapat menemukan arca dan relief bergaya Jawa yang berasal dari Borobudur dan Prambanan. Keberadaan artefak tersebut sering memicu diskusi panjang tentang repatriasi benda cagar budaya dan hak kepemilikan warisan sejarah.

Di sisi lain, artefak itu juga menjadi bukti kuat betapa tingginya pengaruh dan daya tarik kebudayaan Jawa di mata dunia sejak lebih dari seabad lalu.

Simbol Persahabatan yang Menyisakan Pertanyaan

Patung gajah di depan Museum Nasional kini tidak hanya berdiri sebagai simbol persahabatan Indonesia–Thailand, tetapi juga sebagai pengingat kompleksitas sejarah kolonial, diplomasi budaya, dan pertukaran warisan leluhur.

Bagi sebagian sejarawan, patung ini adalah monumen hubungan internasional. Bagi yang lain, ia menjadi simbol mahalnya harga yang harus dibayar Nusantara di masa lalu.

Refleksi Sejarah untuk Generasi Kini

Kisah patung gajah ini mengajak masyarakat melihat museum bukan sekadar tempat pameran, melainkan ruang refleksi sejarah. Artefak yang hilang, hadiah yang diterima, dan keputusan politik masa lalu semuanya membentuk narasi besar perjalanan bangsa.

Di tengah upaya Indonesia memperkuat perlindungan dan pemulangan benda cagar budaya, patung gajah di Museum Nasional tetap berdiri sebagai saksi bisu: bahwa satu patung perunggu pernah ditukar dengan warisan peradaban yang tak ternilai harganya.**DS

Baca juga artikel lainnya :

air-suci-di-banke-bihari-temple-ternyata-hanya-air-kondensasi-ac