Mengenal Shrinkflation: Fenomena Produk Mengecil, Harga Tetap

Dec 4, 2024 - 16:26
 0  4
Mengenal Shrinkflation: Fenomena Produk Mengecil, Harga Tetap

Eksplora.id - Dalam beberapa tahun terakhir, konsumen di seluruh dunia mungkin telah menyadari bahwa ukuran produk tertentu semakin kecil, namun harga tetap sama atau bahkan meningkat. Fenomena ini dikenal dengan istilah shrinkflation. Istilah ini berasal dari gabungan kata "shrink" (menyusut) dan "inflation" (inflasi) dan telah menjadi strategi yang sering digunakan oleh produsen di tengah tekanan ekonomi global.

Apa Itu Shrinkflation?

Shrinkflation adalah praktik di mana perusahaan mengurangi ukuran, berat, atau jumlah isi produk tanpa mengubah harga jualnya. Ini adalah cara yang dilakukan produsen untuk mengimbangi kenaikan biaya produksi, seperti bahan baku, energi, dan transportasi, tanpa menaikkan harga secara langsung. Dengan begitu, konsumen mungkin tidak langsung menyadari bahwa mereka sebenarnya mendapatkan lebih sedikit untuk uang yang mereka keluarkan.  

Mengapa Shrinkflation Terjadi?

Shrinkflation biasanya terjadi dalam situasi berikut:

  1. Kenaikan Biaya Produksi: Produsen menghadapi kenaikan harga bahan baku, energi, atau transportasi. Untuk mempertahankan margin keuntungan tanpa menaikkan harga yang dapat mengganggu permintaan, mereka mengurangi jumlah isi produk.
  2. Inflasi Global: Ketika inflasi meningkat, daya beli konsumen cenderung menurun. Dengan shrinkflation, produsen dapat menjaga harga produk tetap terlihat stabil.
  3. Tekanan Kompetitif: Dalam pasar yang kompetitif, menaikkan harga langsung dapat menyebabkan kehilangan pelanggan. Shrinkflation menjadi solusi agar produk tetap terlihat menarik.

Contoh Kasus Shrinkflation

Shrinkflation terjadi pada berbagai merek terkenal di dalam dan luar negeri, di antaranya:

  • Momogi: Di Indonesia, Momogi kerap menjadi contoh fenomena shrinkflation. Konsumen mengeluhkan ukuran camilan ini semakin kecil dari tahun ke tahun, meskipun harga tetap sama. Hal ini ramai dibicarakan di media sosial.
  • Toblerone: Pada 2016, Toblerone mengurangi jumlah segitiga dalam cokelat batangannya di Inggris. Perubahan ini memicu kekecewaan karena konsumen merasa kehilangan nilai produk yang sudah mereka sukai.
  • Lay’s: Produk keripik kentang Lay’s di Amerika Serikat mengurangi berat isinya dari 200 gram menjadi 170 gram per kemasan, sementara harga tetap tidak berubah.
  • Coca-Cola: Botol soda Coca-Cola pernah dikurangi volumenya dari 2 liter menjadi 1,75 liter di beberapa pasar, tanpa mengurangi harga jual.

Bagaimana Konsumen Bisa Menghadapinya?

Untuk menghindari efek shrinkflation, konsumen dapat mengambil langkah-langkah berikut:

  1. Perhatikan Label: Baca dengan cermat informasi berat atau volume produk pada kemasan.
  2. Bandingkan Nilai: Bandingkan harga per gram atau mililiter untuk memastikan Anda mendapatkan nilai terbaik.
  3. Gunakan Alternatif: Jika satu merek terlihat terlalu mahal untuk ukurannya, pertimbangkan untuk mencoba merek lain.
  4. Beli dalam Jumlah Besar: Dalam beberapa kasus, membeli produk dalam kemasan besar dapat memberikan nilai lebih baik.

Pandangan Produsen Tentang Shrinkflation

Produsen sering membela praktik shrinkflation sebagai cara untuk tetap bertahan di tengah kenaikan biaya tanpa harus memberatkan konsumen dengan kenaikan harga yang drastis. Namun, transparansi menjadi kunci. Beberapa produsen memilih untuk memberikan pemberitahuan tentang perubahan ukuran pada kemasan, meskipun tidak semua melakukannya. Fenomena shrinkflation, baik pada produk lokal seperti Momogi maupun merek global seperti Toblerone dan Lay’s, menunjukkan betapa tekanan ekonomi dapat memengaruhi strategi bisnis produsen. Dengan menjadi konsumen yang cermat dan memperhatikan detail pada kemasan, Anda dapat menghindari efek negatif dari shrinkflation dan tetap mendapatkan nilai terbaik untuk uang Anda.