Mengenal Buah Betadine yang membuat Lima Anak di Cianjur Keracunan
Lima anak di Desa Hegarmanah, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, mengalami keracunan setelah mengonsumsi buah dari tanaman yang dikenal sebagai "pohon betadine" oleh masyarakat setempat.

Eksplora.id - Lima anak di Desa Hegarmanah, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, mengalami keracunan setelah mengonsumsi buah dari tanaman yang dikenal sebagai "pohon betadine" oleh masyarakat setempat. Peristiwa ini mengakibatkan tiga anak harus dirawat di RSUD Sayang Cianjur, sementara dua lainnya menjalani perawatan di puskesmas sebelum diperbolehkan pulang.
Kronologi Kejadian
Menurut informasi dari warga setempat, kejadian bermula ketika anak-anak tersebut bermain di sekitar perkebunan desa dan menemukan buah yang mereka sebut sebagai "buah betadine". Tanpa mengetahui dampaknya, mereka memakan buah tersebut secara langsung. Tak lama setelah mengonsumsinya, mereka mulai mengalami gejala seperti mual, muntah, sakit perut, dan pusing.
Orang tua yang mengetahui kondisi anak-anak mereka segera melarikannya ke fasilitas kesehatan terdekat. Dua anak mendapatkan perawatan medis di puskesmas dan diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik, sementara tiga lainnya dirujuk ke RSUD Sayang Cianjur untuk penanganan lebih lanjut.
Apa Itu Buah Betadine?
Tanaman yang disebut sebagai "pohon betadine" oleh masyarakat sebenarnya adalah Jatropha multifida, atau dikenal juga sebagai jarak gurita. Tanaman ini sering ditemukan di berbagai daerah dan banyak dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Daunnya kerap digunakan sebagai antiseptik alami untuk mengobati luka, karena mengandung senyawa yang dipercaya memiliki sifat antibakteri.
Namun, tidak semua bagian dari tanaman ini aman untuk dikonsumsi. Buahnya mengandung zat beracun yang dapat menyebabkan efek samping serius jika dimakan dalam jumlah tertentu. Racun dalam buah ini dapat menyebabkan iritasi saluran pencernaan, mual, muntah, diare, dan dalam kasus yang lebih parah, bisa mengakibatkan gangguan sistem saraf.
Tanggapan dan Imbauan dari Pihak Berwenang
Menanggapi kejadian ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap tanaman liar yang tumbuh di sekitar lingkungan mereka. Kepala Dinas Kesehatan Cianjur, dr. Haryanto, menyatakan bahwa edukasi mengenai tanaman beracun perlu ditingkatkan untuk menghindari kasus serupa di masa mendatang.
“Kami mengimbau agar masyarakat, terutama orang tua, lebih berhati-hati dan mengawasi anak-anak mereka agar tidak sembarangan mengonsumsi buah atau tanaman yang tidak dikenali. Kami juga akan melakukan sosialisasi terkait tanaman beracun yang ada di sekitar lingkungan,” ujar dr. Haryanto.
Selain itu, pihak desa berencana memasang papan peringatan di sekitar lokasi kejadian dan melakukan penyuluhan kepada warga mengenai bahaya tanaman beracun.
Pentingnya Edukasi Mengenai Tanaman Beracun
Kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya edukasi tentang tanaman yang berpotensi beracun. Banyak tanaman yang memiliki manfaat kesehatan tetapi juga mengandung zat berbahaya jika dikonsumsi secara tidak tepat.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat disarankan untuk mengenali tanaman yang tumbuh di sekitar mereka, terutama yang berpotensi beracun. Jika menemukan tanaman yang belum diketahui keamanannya, sebaiknya tidak dikonsumsi sebelum mendapatkan informasi yang jelas dari ahli botani atau tenaga medis.
Kasus ini menjadi pembelajaran penting bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar dan meningkatkan kesadaran akan bahaya tanaman liar. Dengan edukasi yang tepat, kejadian serupa dapat dicegah di masa depan.
Baca juga artikel lainnya :
luo han guo pemanis alami 300 kali lebih manis dari gula tebu dan rendah kalori