Lansia Masih Bekerja di Jepang: Antara Kebutuhan, Pilihan, dan Tantangan

Jepang dikenal sebagai salah satu negara dengan angka harapan hidup tertinggi di dunia, dengan rata-rata usia penduduk mencapai lebih dari 84 tahun.

Mar 26, 2025 - 23:46
 0  8
Lansia Masih Bekerja di Jepang: Antara Kebutuhan, Pilihan, dan Tantangan
Sumber foto : Istock

Eksplora.id - Jepang dikenal sebagai salah satu negara dengan angka harapan hidup tertinggi di dunia, dengan rata-rata usia penduduk mencapai lebih dari 84 tahun. Namun, populasi yang menua juga membawa tantangan besar dalam dunia ketenagakerjaan. Untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja dan memastikan kesejahteraan lansia, Jepang mendorong masyarakat usia lanjut untuk tetap aktif bekerja.

Fenomena lansia yang masih bekerja di Jepang bukan hanya didorong oleh kebutuhan finansial, tetapi juga oleh pola pikir dan gaya hidup yang menempatkan kerja sebagai bagian dari keseharian mereka. Dengan berbagai kebijakan pemerintah serta perubahan sosial, lansia Jepang tetap produktif di berbagai sektor.

Faktor yang Mendorong Lansia Tetap Bekerja

1. Kebutuhan Finansial

Meskipun Jepang memiliki sistem pensiun nasional, tidak semua lansia memiliki dana yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka setelah pensiun. Beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi finansial mereka antara lain:

  • Beban biaya hidup yang tinggi – Jepang, terutama kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka, memiliki biaya hidup yang cukup mahal, sehingga banyak lansia yang memilih untuk tetap bekerja agar tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

  • Dampak perubahan sistem pensiun – Pemerintah Jepang telah menaikkan usia pensiun bertahap dari 60 menjadi 65 tahun, yang berarti mereka harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan dana pensiun penuh.

  • Kurangnya tabungan pribadi – Tidak semua lansia memiliki tabungan yang cukup untuk hidup nyaman setelah pensiun, terutama mereka yang bekerja di sektor nonformal atau tidak memiliki program pensiun perusahaan.

2. Dukungan Pemerintah dan Perusahaan

Untuk mengatasi tantangan demografi dan kekurangan tenaga kerja, pemerintah Jepang telah menerapkan beberapa kebijakan yang memungkinkan lansia untuk tetap bekerja, seperti:

  • Undang-Undang Perpanjangan Usia Kerja – Perusahaan didorong untuk memperpanjang usia kerja hingga 70 tahun, baik melalui kontrak tetap, perpanjangan kontrak, atau sistem rekrutmen ulang bagi karyawan yang sudah pensiun.

  • Subsidi dan insentif bagi perusahaan – Pemerintah memberikan insentif kepada perusahaan yang mempekerjakan lansia, termasuk keringanan pajak dan bantuan dalam menyediakan lingkungan kerja yang ramah lansia.

  • Program pelatihan dan penyesuaian pekerjaan – Lansia diberikan pelatihan keterampilan agar dapat menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi dan kebutuhan industri.

3. Gaya Hidup dan Budaya Kerja di Jepang

Bekerja tidak hanya dianggap sebagai kewajiban ekonomi, tetapi juga bagian dari identitas seseorang dalam masyarakat Jepang. Beberapa alasan budaya yang membuat lansia tetap ingin bekerja adalah:

  • Etos kerja yang kuat – Budaya kerja di Jepang menanamkan nilai bahwa bekerja adalah bagian dari kontribusi sosial dan harga diri seseorang.

  • Menghindari perasaan kesepian – Banyak lansia yang merasa lebih bahagia ketika masih memiliki rutinitas kerja karena bisa berinteraksi dengan orang lain.

  • Menjaga kesehatan mental dan fisik – Bekerja memberikan stimulasi mental dan aktivitas fisik yang dapat membantu mencegah penyakit seperti demensia dan depresi.

Jenis Pekerjaan yang Banyak Dilakukan oleh Lansia

Lansia di Jepang biasanya bekerja di sektor-sektor yang tidak membutuhkan tenaga fisik berlebih, namun tetap memberikan kontribusi bagi masyarakat. Beberapa pekerjaan yang umum dilakukan oleh lansia antara lain:

  1. Pekerjaan di sektor ritel – Seperti kasir, penjaga toko, atau staf kebersihan di supermarket dan minimarket.

  2. Petugas keamanan dan kebersihan – Lansia sering bekerja sebagai satpam di gedung perkantoran, apartemen, atau sekolah.

  3. Pengemudi taksi dan bus kecil – Banyak lansia yang tetap bekerja sebagai sopir taksi atau angkutan umum dengan jam kerja yang fleksibel.

  4. Pekerjaan di bidang manufaktur ringan – Lansia masih bisa bekerja di pabrik kecil dengan tugas ringan seperti merakit komponen atau melakukan pengepakan barang.

  5. Instruktur atau mentor – Banyak pensiunan profesional bekerja sebagai instruktur, dosen tamu, atau mentor di perusahaan dan institusi pendidikan.

  6. Usaha mandiri – Beberapa lansia memilih untuk menjalankan usaha kecil seperti membuka warung makan, berkebun, atau membuat kerajinan tangan.

Dampak Positif Lansia yang Masih Bekerja

Tetap bekerja di usia lanjut membawa banyak manfaat, baik bagi individu maupun bagi perekonomian negara.

1. Bagi Lansia Itu Sendiri

  • Meningkatkan kesejahteraan mental – Lansia yang tetap bekerja cenderung lebih bahagia dan memiliki tingkat stres yang lebih rendah.

  • Menjaga kesehatan fisik – Aktivitas sehari-hari membantu mereka tetap bugar dan mengurangi risiko penyakit akibat gaya hidup pasif.

  • Meningkatkan stabilitas finansial – Penghasilan tambahan membantu mereka memenuhi kebutuhan hidup tanpa harus sepenuhnya bergantung pada dana pensiun.

2. Bagi Ekonomi Jepang

  • Mengurangi beban sistem pensiun – Dengan lebih banyak lansia yang bekerja, tekanan terhadap sistem dana pensiun dapat berkurang.

  • Mengisi kekurangan tenaga kerja – Lansia membantu mengisi kekosongan di berbagai sektor yang kekurangan tenaga kerja akibat menurunnya populasi usia produktif.

  • Mempertahankan daya beli masyarakat – Dengan lebih banyak lansia yang memiliki penghasilan, konsumsi rumah tangga tetap stabil dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Tantangan yang Dihadapi Lansia dalam Bekerja

Meskipun banyak manfaatnya, ada beberapa tantangan yang dihadapi lansia saat tetap bekerja di usia senja, antara lain:

  1. Masalah kesehatan – Tidak semua lansia memiliki kondisi fisik yang memungkinkan mereka untuk tetap bekerja dalam jangka panjang.

  2. Diskriminasi usia – Beberapa perusahaan masih enggan mempekerjakan lansia karena dianggap kurang produktif atau sulit beradaptasi dengan teknologi baru.

  3. Kesenjangan teknologi – Lansia sering menghadapi kesulitan dalam beradaptasi dengan perkembangan teknologi di tempat kerja.

  4. Jam kerja yang panjang – Beberapa lansia bekerja dengan jam kerja panjang yang bisa berdampak negatif pada kesehatan mereka.

Fenomena lansia yang masih bekerja di Jepang mencerminkan perubahan besar dalam dinamika tenaga kerja di negara tersebut. Faktor ekonomi, budaya, dan kebijakan pemerintah berperan dalam mendorong lansia untuk tetap bekerja di usia senja.

Meskipun ada tantangan, banyak lansia yang menikmati pekerjaan mereka karena memberi mereka tujuan hidup, kesejahteraan mental, dan stabilitas finansial. Dengan semakin berkembangnya kebijakan yang mendukung tenaga kerja senior, Jepang bisa menjadi contoh bagi negara lain dalam mengelola populasi lansia secara produktif dan berkelanjutan.

Baca juga artikel lainnya :

perusahaan di jepang berlomba menaikkan gaji karyawan pada 2025