Inflasi Indonesia Tahun 2024 Tembus Angka Terendah Sejak 1958

Eksplora.id - Pada tahun 2024, Indonesia mencatatkan sejarah baru dalam perekonomiannya dengan tingkat inflasi sebesar 1,57 persen, angka terendah sejak 1958. Capaian ini diungkapkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai salah satu pencapaian yang mencerminkan stabilitas harga dalam negeri. Namun, di balik angka yang tampaknya menggembirakan ini, terdapat berbagai dinamika yang patut disoroti.
Faktor Penyebab Penurunan Inflasi
1. Penurunan Harga Bahan Pokok Salah satu faktor utama yang menekan inflasi adalah turunnya harga sejumlah bahan pokok. Hal ini dipengaruhi oleh hasil panen yang melimpah di beberapa daerah sentra produksi, ditambah dengan upaya pemerintah dalam menjaga pasokan dan distribusi komoditas strategis. Harga bahan pangan seperti beras, cabai, dan minyak goreng mengalami penurunan yang signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. 2. Lesunya Permintaan Domestik Meskipun harga bahan pokok stabil atau menurun, permintaan domestik justru mengalami pelemahan. Kondisi ini tercermin dari menurunnya tingkat konsumsi rumah tangga, yang merupakan salah satu pilar utama dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB). Penurunan daya beli masyarakat menjadi tantangan yang harus dihadapi pemerintah dalam menjaga pertumbuhan ekonomi yang inklusif. 3. Kebijakan Moneter yang Ketat Bank Indonesia menerapkan kebijakan moneter yang ketat dengan menjaga suku bunga acuan pada tingkat yang relatif tinggi. Langkah ini berhasil mengendalikan laju inflasi inti, terutama yang berasal dari sektor non-pangan dan non-energi. Stabilitas nilai tukar rupiah juga memberikan kontribusi positif dalam menjaga harga barang impor tetap terkendali.
Dampak Inflasi Rendah terhadap Ekonomi
Seringnya anggapan bahwa Inflasi yang rendah sebagai indikator positif karena menunjukkan stabilitas harga barang dan jasa. Namun, dalam konteks ini, rendahnya inflasi juga menjadi cerminan dari lesunya aktivitas ekonomi dalam negeri. Penurunan Daya Beli Masyarakat Daya beli masyarakat yang melemah menjadi salah satu tantangan besar. Hal ini tidak hanya berdampak pada konsumsi rumah tangga, tetapi juga pada sektor usaha kecil dan menengah (UMKM), yang sangat bergantung pada permintaan domestik. Jika membiarkan situasi ini, harapan akan pertumbuhan ekonomi dapat melambat. Peluang untuk Kebijakan Proaktif Pemerintah memiliki peluang untuk mengambil langkah-langkah proaktif guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Misalnya, dengan memberikan stimulus fiskal berupa bantuan langsung tunai atau insentif pajak bagi sektor-sektor yang terdampak. Selain itu, kebijakan untuk meningkatkan ekspor dan investasi juga menjadi strategi penting dalam menjaga momentum pertumbuhan.
Prospek Ekonomi Indonesia ke Depan
Dengan inflasi yang terkendali, Indonesia memiliki peluang untuk memanfaatkan stabilitas harga ini sebagai pijakan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, pemerintah perlu lebih fokus pada upaya meningkatkan daya beli masyarakat dan memperkuat sektor produktif. Penguatan kebijakan fiskal dan moneter yang saling mendukung menjadi kunci untuk mengatasi tantangan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Selain itu, upaya diversifikasi ekonomi juga harus terus gencar, terutama dengan memperkuat sektor-sektor berbasis teknologi dan inovasi. Dengan langkah-langkah strategis ini, pemerintah berharap Indonesia tidak hanya mampu mempertahankan stabilitas ekonominya tetapi juga mewujudkan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Tingkat inflasi 2024 yang menjadi rekor terendah ini memberikan pelajaran penting bahwa stabilitas harga perlu seimbang dengan kebijakan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Harapan ke depan Pemerintah dan para pemangku kebijakan dapat terus menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan pertumbuhan inklusif demi kemajuan bangsa.