Indonesia Bidik 5GW Energi Angin pada 2030 untuk Diversifikasi Energi

Indonesia menargetkan kapasitas energi angin sebesar 5GW pada 2030 sebagai bagian dari upaya diversifikasi energi dan pengurangan emisi karbon. Dengan potensi angin mencapai 154,6GW, pemerintah terus mendorong investasi, memperkuat kebijakan, serta mengembangkan infrastruktur dan teknologi. Namun, ada sejumlah tantangan seperti biaya investasi tinggi dan regulasi yang kompleks. Artikel ini membahas strategi pemerintah, tantangan yang dihadapi, serta manfaat energi angin bagi masa depan Indonesia.

Feb 11, 2025 - 17:55
Feb 11, 2025 - 18:03
 0  16

Eksplora.id - Indonesia semakin serius dalam mengembangkan energi terbarukan, salah satunya melalui pemanfaatan energi angin. Pemerintah menargetkan kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) mencapai 5 gigawatt (GW) pada 2030. Langkah ini merupakan bagian dari upaya diversifikasi energi serta pengurangan emisi karbon, sejalan dengan target net zero emission pada 2060.
Potensi Besar Energi Angin di Indonesia
Dengan potensi angin yang diperkirakan mencapai 154,6 GW, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan energi ini, terutama di wilayah-wilayah dengan kecepatan angin tinggi seperti Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, dan pesisir Jawa. Namun, hingga 2024, pemanfaatannya masih tergolong kecil, yakni sekitar 152,3 megawatt (MW). Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong investasi dan teknologi untuk mempercepat pengembangannya.
Menurut Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, pemerintah tengah menyusun Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2035 serta Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN). Dalam rancangan tersebut, ditetapkan target tambahan kapasitas PLTB sebesar 5GW hingga 2030.
“Saat ini RUKN sedang dibahas, selanjutnya dibuat RUPTL baru dan di dalamnya target lima tahun ke depan. Kita sudah tahu langkahnya, jadi sampai dengan tahun 2030 kita butuh tambahan 5 GW dari energi angin,” ujar Eniya.
Strategi Pemerintah dalam Mencapai Target 5GW
Untuk mencapai target ambisius ini, pemerintah menerapkan beberapa strategi utama:
1. Penguatan Kebijakan dan Insentif
Pemerintah telah memperbarui regulasi terkait energi terbarukan, termasuk pemberian insentif bagi investor di sektor ini. Selain itu, tarif listrik energi terbarukan diatur agar lebih kompetitif, sehingga menarik lebih banyak minat dari sektor swasta.
2. Kemitraan dengan Investor dan Swasta
Kolaborasi dengan pihak swasta dan internasional menjadi kunci dalam pengembangan PLTB. Sejumlah proyek besar tengah dikembangkan, seperti PLTB Sidrap di Sulawesi Selatan dan PLTB Tanah Laut di Kalimantan Selatan.
3. Penguatan Infrastruktur dan Teknologi
Pemerintah juga berupaya mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung, termasuk jaringan transmisi dan sistem penyimpanan energi. Teknologi turbin angin modern dengan efisiensi tinggi diharapkan dapat meningkatkan keandalan energi angin di Indonesia.
Tantangan dalam Pengembangan Energi Angin
Meskipun memiliki potensi besar, pengembangan energi angin di Indonesia masih menghadapi beberapa tantangan, seperti:
• Biaya investasi yang tinggi, termasuk kebutuhan impor peralatan dan teknologi.
• Proses perizinan yang kompleks, yang kerap menghambat investor.
• Variabilitas kecepatan angin, yang menuntut solusi seperti integrasi dengan sumber energi lain atau penggunaan sistem penyimpanan energi.
Dampak Positif bagi Indonesia
Jika target 5GW energi angin tercapai, manfaatnya bagi Indonesia sangat besar, di antaranya:
• Diversifikasi sumber energi, sehingga tidak lagi bergantung pada batu bara dan gas.
• Pengurangan emisi karbon, mendukung target Indonesia dalam mengatasi perubahan iklim.
• Peluang ekonomi dan lapangan kerja, terutama dalam sektor konstruksi, operasional, dan pemeliharaan PLTB.
Pemerintah optimis bahwa target 5GW energi angin pada 2030 dapat tercapai dengan dukungan kebijakan yang tepat, investasi yang kuat, serta penerapan teknologi modern. Selain mendukung ketahanan energi nasional, langkah ini juga menjadikan Indonesia lebih kompetitif dalam pemanfaatan energi terbarukan di kawasan Asia Tenggara.