Self-Serving Bias: "Penyakit" yang Mengakar di Indonesia?

Feb 3, 2025 - 19:14
Feb 3, 2025 - 19:14
 0  11
Self-Serving Bias: "Penyakit" yang Mengakar di Indonesia?

Eksplora.id - Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, kita sering menjumpai orang yang cenderung menyalahkan faktor eksternal ketika mengalami kegagalan, tetapi dengan cepat mengklaim keberhasilan sebagai hasil dari usaha dan kemampuan sendiri. Fenomena ini terkenal sebagai self-serving bias, suatu kecenderungan psikologis yang membuat seseorang melihat dirinya lebih baik dari kenyataan sebenarnya.

Self-Serving Bias dalam Budaya Masyarakat Indonesia

Self-serving bias tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga pada berbagai belahan dunia. Studi psikologi sosial menunjukkan bahwa bias ini terdapat pada berbagai budaya, meskipun tingkatnya dapat bervariasi. Misalnya, penelitian oleh Heine dan kolega (1999) menemukan bahwa self-serving bias lebih kuat pada budaya individualistik seperti Amerika Serikat daripada dengan budaya kolektivistik seperti Jepang. Namun, di Indonesia, fenomena ini tampaknya lebih mengakar karena dipengaruhi oleh budaya kolektivisme, hierarki sosial, dan kebiasaan mencari "kambing hitam" dalam berbagai aspek kehidupan. Beberapa contoh penerapan self-serving bias dalam budaya Indonesia antara lain dalam bidang pendidikan, dunia kerja, politik, media sosial, olahraga, dan kehidupan keluarga:

  1. Dunia Pendidikan
    • Jika seorang siswa mendapat nilai bagus, ia akan mengatakan bahwa itu berkat kerja kerasnya belajar. Namun, jika nilainya buruk, ia mungkin akan menyalahkan guru yang tidak menjelaskan dengan baik atau sistem pendidikan yang dianggap tidak adil.
  2. Dunia Kerja
    • Karyawan yang mendapat promosi sering mengklaim bahwa itu adalah hasil dari keuletan dan kemampuannya. Sebaliknya, jika tidak naik jabatan, mereka akan menyalahkan atasan yang pilih kasih atau rekan kerja yang menjegal mereka.
  3. Politik dan Pemerintahan
    • Ketika kebijakan pemerintah berhasil, banyak pejabat yang mengklaim bahwa itu adalah hasil dari kepemimpinan dan visi mereka. Namun, ketika terjadi kegagalan atau masalah, mereka sering menyalahkan faktor eksternal seperti pandemi, kondisi global, atau bahkan pemerintahan sebelumnya.
  4. Media Sosial
    • Pada era digital, masyarakat semakin mudah menampilkan citra diri. Ketika mendapat pujian atau viral karena sesuatu yang positif, individu atau kelompok akan mengklaim bahwa itu berkat usaha mereka. Namun, jika mendapat kritik atau serangan warganet, mereka cenderung menyalahkan "netizen toxic" atau algoritma media sosial.

Dampak Self-Serving Bias

Self-serving bias dapat berdampak negatif jika tidak disadari dan dikendalikan, antara lain:

  • Menghambat Pertumbuhan Diri: Orang yang selalu menyalahkan faktor luar tidak akan pernah benar-benar belajar dari kesalahan dan sulit berkembang.
  • Menurunkan Akuntabilitas: Dalam dunia kerja dan pemerintahan, kebiasaan ini bisa menyebabkan rendahnya rasa tanggung jawab dan transparansi.
  • Memperburuk Relasi Sosial: Individu yang terlalu sering membanggakan diri sendiri dan menyalahkan orang lain akan sulit mendapatkan kepercayaan dari lingkungan sekitarnya.

Mengatasi Self-Serving Bias Masyarakat

Agar tidak terjebak dalam self-serving bias, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  1. Refleksi Diri – Jujurlah terhadap diri sendiri mengenai keberhasilan dan kegagalan.
  2. Terbuka Terhadap Kritik – Jangan langsung defensif ketika mendapat masukan negatif, tetapi gunakan sebagai bahan evaluasi.
  3. Mengembangkan Growth Mindset – Percaya bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar, bukan sekadar hasil dari faktor luar.
  4. Meningkatkan Akuntabilitas – Biasakan untuk bertanggung jawab atas mengambil keputusan dan tindakan.

Self-serving bias memang sulit dihindari karena merupakan bagian dari naluri manusia. Secara psikologis, bias ini muncul sebagai mekanisme pertahanan diri untuk menjaga harga diri dan kesejahteraan emosional. Menurut teori atribusi, individu cenderung menghubungkan keberhasilan dengan faktor internal untuk meningkatkan rasa percaya diri, sementara kegagalan terkait dengan faktor eksternal guna menghindari perasaan negatif seperti malu atau rendah diri. Namun, jika membiarkan tanpa sadar, kecenderungan ini bisa menjadi "penyakit" yang menghambat kemajuan individu maupun bangsa. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mulai membangun kesadaran diri dan mengedepankan sikap yang lebih objektif dalam menilai keberhasilan maupun kegagalan.