Fenomena Orang yang Tetap Fit Meski Tidur Singkat

Sebagian orang tetap bugar meski hanya tidur 5 jam. Studi ilmiah mengungkap peran mutasi gen langka, namun bagi kebanyakan orang, tidur cukup tetap krusial bagi kesehatan.

Jan 4, 2026 - 22:56
 0  4
Fenomena Orang yang Tetap Fit Meski Tidur Singkat
Sumber foto : Istock

Eksplora.id - Tidak sedikit orang yang mengaku hanya tidur sekitar lima jam setiap malam, tetapi tetap mampu beraktivitas normal keesokan harinya. Mereka terlihat segar, fokus, dan produktif, seolah-olah tidak mengalami kurang tidur. Fenomena ini sering memunculkan pertanyaan: apakah tidur singkat sebenarnya tidak berbahaya bagi semua orang?

Dalam dunia medis dan ilmiah, kondisi ini ternyata pernah menjadi bahan penelitian. Para ilmuwan menemukan bahwa kemampuan bertahan dengan durasi tidur yang sangat singkat bukanlah sekadar kebiasaan atau hasil latihan tubuh, melainkan bisa berkaitan dengan faktor biologis tertentu.

Peran Mutasi Gen Langka dalam Pola Tidur

Sejumlah studi menunjukkan bahwa sebagian kecil manusia memiliki mutasi gen langka yang memengaruhi cara tubuh mengatur tidur dan pemulihan. Mutasi ini membuat tubuh mereka bekerja lebih efisien saat tidur, sehingga waktu tidur yang lebih singkat sudah cukup untuk memulihkan energi, fungsi otak, dan kondisi fisik.

Orang dengan kondisi ini sering disebut sebagai “short sleeper alami”. Mereka tidak perlu tidur selama tujuh hingga delapan jam seperti kebanyakan orang untuk merasa segar. Bahkan, tidur lebih lama justru bisa membuat mereka merasa tidak nyaman atau lesu.

Bukan Sekadar Terbiasa Kurang Tidur

Penting untuk dipahami bahwa kondisi ini berbeda dengan orang yang terbiasa kurang tidur karena tuntutan pekerjaan atau gaya hidup. Pada kelompok short sleeper alami, tubuh memang secara genetik dirancang untuk membutuhkan waktu tidur lebih sedikit.

Sebaliknya, pada orang yang memaksakan diri tidur hanya lima jam, tubuh sebenarnya tetap mengalami kekurangan istirahat. Meski rasa kantuk bisa berkurang seiring waktu, fungsi biologis di dalam tubuh tidak sepenuhnya pulih. Inilah yang sering disalahartikan sebagai “sudah terbiasa”.

Mayoritas Orang Tetap Membutuhkan Tidur Cukup

Para peneliti menegaskan bahwa kasus tidur singkat yang aman secara alami sangat jarang terjadi dan tidak berlaku untuk sebagian besar populasi. Pada mayoritas orang, tidur kurang dari kebutuhan ideal justru berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif, seperti konsentrasi menurun, daya ingat terganggu, dan reaksi yang melambat.

Dalam jangka panjang, kurang tidur juga dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk gangguan metabolisme, penurunan daya tahan tubuh, hingga peningkatan risiko penyakit jantung dan gangguan mental. Yang membuat kondisi ini berbahaya adalah efeknya sering tidak langsung terasa.

Tubuh Bisa Terbiasa, tapi Kerusakan Tetap Terjadi

Salah satu kesalahpahaman paling umum adalah anggapan bahwa tubuh bisa sepenuhnya beradaptasi dengan tidur singkat. Faktanya, tubuh memang bisa menekan rasa kantuk, tetapi tidak menghilangkan dampak biologis dari kurang tidur.

Otak dan organ tubuh tetap mengalami defisit pemulihan, meskipun seseorang merasa “baik-baik saja”. Dalam banyak kasus, dampak baru terasa setelah bertahun-tahun dalam bentuk kelelahan kronis atau penurunan kesehatan secara perlahan.

Tidur Cukup Bukan Gaya Hidup, tapi Kebutuhan Dasar

Kesimpulannya, tidur lima jam memang bisa cukup bagi segelintir orang karena faktor genetik yang sangat spesifik. Namun bagi sebagian besar orang, tidur cukup dan berkualitas tetap merupakan kebutuhan dasar tubuh, bukan pilihan gaya hidup atau simbol produktivitas.

Alih-alih membandingkan diri dengan orang lain yang tampak kuat dengan tidur singkat, penting untuk mengenali kebutuhan tubuh sendiri. Tidur yang cukup bukan tanda kemalasan, melainkan investasi jangka panjang untuk kesehatan fisik, mental, dan kualitas hidup.

Pada akhirnya, tubuh selalu memberi sinyal. Tinggal apakah kita mau mendengarkannya atau terus mengabaikannya.**DS

Baca juga artikel lainnya :

kotoran-mata-bukan-sekadar-kotoran-tak-berguna