Banjir Bandang Bandar Lampung, Ekonomi Lokal Terpukul

Jan 20, 2025 - 21:40
 0  5
Banjir Bandang Bandar Lampung, Ekonomi Lokal Terpukul

Eksplora.id - Banjir bandang melanda Kota Bandar Lampung pada 17-18 Januari 2025, mengakibatkan kerusakan signifikan di berbagai wilayah. Berdasarkan data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung, sebanyak 14.160 rumah warga terdampak di 79 kelurahan yang tersebar di 16 kecamatan. Dampak terparah terjadi di Kecamatan Panjang, Teluk Betung Selatan, Teluk Betung Timur, dan Bumi Waras. Kepala BPBD Provinsi Lampung, Rudy Syawal Sugiarto, mengungkapkan bahwa jumlah tersebut masih bersifat sementara. “Proses asesmen dari BPBD Kota Bandar Lampung masih berlangsung,” ujar Rudy dalam konferensi pers, Minggu (19/1).

Dampak Kerusakan Akibat Banjir Bandang

Bencana ini memengaruhi 518 kepala keluarga (KK) dan 11.223 jiwa. Kerusakan terbesar tercatat di Kecamatan Bumi Waras dengan 2.989 rumah terdampak, diikuti Kecamatan Panjang (2.880 rumah), Teluk Betung Timur (2.193 rumah), dan Teluk Betung Selatan (1.904 rumah). Kecamatan lainnya, seperti Teluk Betung Barat, Tanjung Seneng, dan Sukarame, juga melaporkan kerusakan rumah dalam jumlah signifikan. “Banjir ini tergolong banjir bandang. Air datang dalam volume besar secara tiba-tiba dan surut dengan cepat, tetapi dampaknya sangat luas,” tambah Rudy. Ia juga menyebut banjir kali ini sebagai yang terburuk dalam 10 tahun terakhir sejak kejadian serupa pada 2015.

Dampak Ekonomi yang Terasa Luas

Banjir tidak hanya merusak rumah warga tetapi juga memberikan pukulan berat bagi perekonomian lokal. Beberapa sektor yang terdampak meliputi:

  1. Usaha Mikro dan Pedagang Kecil Banyak pedagang kecil harus menghentikan operasional mereka akibat kerusakan barang dagangan dan tempat usaha. Warung makan, toko kelontong, dan pedagang pasar tradisional di wilayah terdampak kehilangan penghasilan harian mereka.
  2. Gangguan Logistik dan Distribusi Infrastruktur jalan yang terendam banjir menyebabkan keterlambatan distribusi barang kebutuhan pokok. Hal ini memicu kenaikan harga barang, seperti beras dan minyak goreng, di beberapa pasar lokal.
  3. Kerusakan Pertanian dan Perikanan Lahan pertanian dan kolam ikan di wilayah Bumi Waras dan Panjang turut terdampak. Akibatnya, para petani dan nelayan kehilangan sumber penghasilan utama mereka.
  4. Sektor Pariwisata dan Jasa Tempat wisata lokal di Teluk Betung yang biasanya ramai pengunjung harus tutup sementara. Beberapa hotel dan restoran melaporkan kerugian akibat kerusakan fasilitas dan penurunan jumlah wisatawan.
  5. Biaya Pemulihan yang Tinggi Proses pemulihan pascabanjir membutuhkan biaya besar, baik untuk membersihkan rumah maupun memperbaiki infrastruktur. Banyak warga yang terdampak menghadapi beban finansial tambahan, sementara bantuan yang diterima baru mencakup kebutuhan darurat.

Upaya Pemulihan dan Langkah Pencegahan

Saat ini, BPBD bekerja sama dengan relawan, instansi pemerintah, dan masyarakat setempat untuk mempercepat proses pembersihan dan pemulihan. Bantuan darurat berupa makanan, perlengkapan tidur, serta dana renovasi sementara telah disalurkan. Pemerintah Kota Bandar Lampung juga mulai merancang langkah mitigasi jangka panjang untuk mencegah kejadian serupa. Rencana tersebut mencakup:

  • Peningkatan sistem drainase.
  • Pembangunan infrastruktur tahan bencana.
  • Edukasi masyarakat tentang mitigasi bencana.

“Kami mengimbau warga untuk tetap waspada, karena hujan deras disertai angin kencang diperkirakan masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan,” kata Rudy. Banjir bandang yang melanda Bandar Lampung menunjukkan perlunya koordinasi yang lebih baik dalam penanganan bencana. Kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta sangat penting untuk mempercepat pemulihan dan meminimalkan dampak ekonomi. Dengan langkah-langkah pencegahan yang tepat, diharapkan bencana serupa dapat dihindari di masa depan.