Prof. Rhenald Kasali : Dunia Sedang Alami Shifting, Bencana atau Peluang?

Opini , eksplora.id - Dunia sedang mengalami pergeseran besar. Bukan sekadar resesi, tetapi perubahan mendasar dalam pola hidup dan ekonomi akibat teknologi disruptif, demikian diungkapkan Prof. Rhenald Kasali, guru besar bidang Ilmu manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Melalui Tulisannya, Kasali menyebut Fenomena ini sebagai ‘shifting’ yang menuntut pelaku usaha tradisional beradaptasi atau menghadapi ancaman tenggelam." "Dunia sedang mengalami perubahan paradigma akibat teknologi, bukan resesi atau krisis ekonomi. Perubahan ini menciptakan platform, pola konsumsi, dan model bisnis baru yang menuntut penyesuaian di berbagai sektor" Jelas, Kasali. Meskipun demikian Kasali tidak melihat shifting ini sebagai bencana. Justru Ia mendorong agar pelaku usaha dan masyarakat mengubah pandangan mereka tentang perubahan. “Ini bukan akhir, tapi peluang baru. Kita harus mulai menerima dan menikmati proses ini,” katanya. Lebih lanjut, Kasali mengajak para pelaku bisnis untuk mendisrupsi diri sendiri, merombak struktur organisasi, dan mengundang kaum muda untuk memberikan ide-ide baru agar dapat bersaing di tengah era digital. Bahkan Menurut Kasali, perubahan ini tidak bisa dihindari. “Kita berada di pintu gerbang disruptif, di mana generasi muda sudah menjadi wirausaha digital dan meraih konsumen lewat media sosial,” Ujarnya. Contoh Kasus Shifting: Dari Transportasi ke Perbankan
- Transportasi: Kasali mencontohkan gesekan antara taksi online dan angkutan konvensional, yang pada dasarnya adalah perubahan dalam cara konsumen mengakses transportasi.
- Perbankan: Di sektor keuangan, fintech menggerus keuntungan bank tradisional karena kemudahan akses yang ditawarkan.
- Retail dan Mainan Anak: Shifting juga terlihat dari banyaknya penutupan gerai retail besar di seluruh dunia, serta penurunan penjualan mainan fisik yang kalah bersaing dengan game online.
Bencana atau Peluang? Shifting ini bukanlah bencana. Kasali membandingkannya dengan perumpamaan "Who Moved My Cheese" oleh Ken Blanchard dan Johnson, di mana perubahan perlu disikapi dengan bergerak dan mencari peluang baru, bukan menyalahkan keadaan. Ini menekankan pentingnya adaptasi. Mereka yang menolak beradaptasi, atau menganggap ini sebagai resesi, adalah seperti karakter yang terjebak dalam paradigma lama. Dampak bagi Generasi Muda Di era ini, banyak anak muda yang sudah menjadi pengusaha dengan cara-cara baru seperti berjualan di media sosial (Facebook, Instagram) dan marketplace (Tokopedia, Bukalapak), seringkali di luar pantauan regulator atau orang tua. Mereka tumbuh sebagai generasi yang mandiri dalam bisnis, bekerja di dunia siber, dan menciptakan tren konsumsi baru. Akademisi dan praktisi bisnis ini Juga menyarankan agar pelaku usaha lama tidak terjebak dalam zona nyaman, tetapi beradaptasi dengan teknologi. Beberapa langkah yang ia sarankan adalah:
- Mendisrupsi diri sendiri: Berani mengubah bisnis agar sesuai dengan perkembangan zaman.
- Meremajakan struktur organisasi: Mengundang kaum muda untuk membantu transformasi perusahaan.
- Menghindari kolaborasi dengan regulator: Melainkan mendorong bisnis untuk mengimbangi inovasi.
Shifting yang dibahas oleh Kasali ini mengajak kita untuk memandang perubahan sebagai peluang, bukan bencana. Dunia terus bergerak dan bergeser ke arah yang sulit dipahami oleh mereka yang terjebak di masa lalu. Prof. Kasali menyarankan untuk menikmati dan menyesuaikan diri dengan proses shifting ini sebagai bagian dari perjalanan untuk menghadapi masa depan. (redaksi)