Monkey See, Monkey Do: Fenomena Copy-Paste dalam Tren Bisnis dan Marketing di Indonesia
Di dunia bisnis dan marketing, ada satu pola yang terus berulang: begitu satu brand sukses dengan strategi tertentu, brand lain buru-buru mengikuti tanpa banyak pertimbangan. Fenomena ini dikenal dengan istilah “Monkey See, Monkey Do”, yang menggambarkan bagaimana orang atau bisnis meniru sesuatu tanpa benar-benar memahami esensinya.

Eksplora.id - Di dunia bisnis dan marketing, ada satu pola yang terus berulang: begitu satu brand sukses dengan strategi tertentu, brand lain buru-buru mengikuti tanpa banyak pertimbangan. Fenomena ini dikenal dengan istilah “Monkey See, Monkey Do”, yang menggambarkan bagaimana orang atau bisnis meniru sesuatu tanpa benar-benar memahami esensinya.
Fenomena yang Terjadi di Indonesia
1. Booming Bisnis Kuliner yang Cepat Jenuh
Beberapa tahun terakhir, tren kuliner di Indonesia berkembang pesat. Kita bisa lihat bagaimana tren minuman boba, kopi susu, atau es kopi literan begitu meledak. Begitu satu brand sukses, ratusan brand lain bermunculan dengan konsep serupa, bahkan dengan nama dan branding yang mirip. Namun, hanya segelintir yang bertahan, sementara sisanya gulung tikar karena mereka sekadar meniru tanpa diferensiasi yang kuat.
2. Tren Digital Marketing: Semua Mau Jadi Viral
Di era TikTok dan Instagram Reels, banyak bisnis ingin “viral” dengan meniru konten-konten yang sudah populer. Misalnya, ketika tren video “POV customer service toxic” booming, banyak brand ikut-ikutan membuat versi mereka, tanpa memastikan apakah strategi ini sesuai dengan karakter brand mereka. Akibatnya, engagement memang naik sebentar, tapi loyalitas audiens tidak terbentuk karena branding yang tidak konsisten.
3. Model Bisnis "Bisnis Makanan Sehat" Dadakan
Seiring meningkatnya kesadaran hidup sehat, bisnis makanan sehat seperti rice bowl rendah kalori dan diet catering bermunculan. Sayangnya, banyak yang hanya menjual konsep tanpa pemahaman nutrisi yang benar. Akibatnya, ketika pelanggan mulai menyadari produk yang ditawarkan tidak sesuai ekspektasi (misalnya, tetap tinggi kalori meskipun diklaim “sehat”), kepercayaan pun turun.
4. Industri Travel: Paket Wisata Copy-Paste
Di dunia travel, tren serupa juga terjadi. Misalnya, saat open trip ke Labuan Bajo mulai populer, banyak agen wisata langsung membuat paket serupa tanpa inovasi. Mereka hanya menyalin itinerary dari kompetitor tanpa memahami pengalaman yang benar-benar diinginkan pelanggan. Akibatnya, pasar menjadi jenuh, harga perang diskon, dan ujung-ujungnya kualitas layanan yang dikorbankan.
Mengapa "Monkey See, Monkey Do" Tidak Selalu Efektif?
- Kurang Diferensiasi → Meniru tanpa inovasi membuat bisnis sulit bertahan dalam jangka panjang.
- Tidak Sesuai dengan Audiens Sendiri → Apa yang berhasil untuk satu brand belum tentu cocok untuk brand lain.
- Cepat Jenuh → Tren bisa berubah dalam sekejap, bisnis yang hanya ikut-ikutan sulit beradaptasi jika tidak memiliki strategi fundamental.
- Lupa dengan Nilai Inti → Ketika terlalu fokus meniru, brand bisa kehilangan identitasnya sendiri.
Bagaimana Menghindari Perangkap "Monkey See, Monkey Do"?
1. Lakukan Riset Mendalam
Jangan hanya melihat kompetitor sukses, tapi pahami mengapa strategi mereka berhasil. Apakah karena audiens yang spesifik? Apakah karena kualitas produk? Jangan hanya copy tanpa memahami faktor di baliknya.
2. Temukan Unique Selling Proposition (USP)
Apa yang membedakan bisnis dari yang lain? Kalau semua jualan es kopi susu, apa yang membuat produk lebih menarik? Bisa dari kualitas bahan, pengalaman pelanggan, atau storytelling yang lebih kuat.
3. Jangan Takut Berinovasi
Tren memang bisa jadi inspirasi, tapi adaptasi jauh lebih penting daripada sekadar duplikasi. Misalnya, jika melihat tren food delivery meningkat, mungkin bisa dicoba konsep pre-order mingguan dengan menu yang lebih eksklusif dibanding sekadar ikut-ikutan jualan frozen food.
4. Bangun Brand yang Konsisten
Jangan hanya ikut tren untuk viral, tapi pikirkan apakah itu sesuai dengan identitas brand. Kalau brand-nya terkenal dengan konsep premium, lalu tiba-tiba ikut-ikutan tren “jualan murah meriah,” bisa-bisa malah merusak persepsi pelanggan.
Di Indonesia, fenomena “Monkey See, Monkey Do” masih sangat kuat dalam berbagai industri, terutama yang berbasis tren seperti kuliner, fashion, digital marketing, dan travel. Meskipun meniru bisa jadi strategi cepat untuk masuk pasar, bisnis yang hanya ikut-ikutan tanpa inovasi akan cepat jenuh dan sulit bertahan. Kunci sukses adalah memahami tren, lalu mengadaptasinya dengan karakter unik bisnis sendiri.
Jadi, daripada sekadar meniru, lebih baik bertanya: Apa yang bisa kamu lakukan lebih baik dari kompetitor?
Baca juga artikel lainnya :