Malinau, Penghasil Gaharu yang Jadi Komoditas Parfum Dunia

Kabupaten Malinau, yang terletak di Provinsi Kalimantan Utara, dikenal sebagai salah satu daerah penghasil gaharu terbaik di Indonesia.

Mar 19, 2025 - 22:38
 0  7
Malinau, Penghasil Gaharu yang Jadi Komoditas Parfum Dunia
Sumber foto : Istock

Eksplora.id - Kabupaten Malinau, yang terletak di Provinsi Kalimantan Utara, dikenal sebagai salah satu daerah penghasil gaharu terbaik di Indonesia. Gaharu (Aquilaria malaccensis) adalah kayu beraroma khas yang memiliki nilai tinggi di industri parfum, kosmetik, dupa, dan obat-obatan tradisional.

Gaharu, Komoditas Berharga Sejak Zaman Kuno

Sejak ratusan tahun lalu, gaharu telah menjadi komoditas perdagangan utama, bahkan sejak era Kerajaan Sriwijaya pada abad VII hingga XI. Kayu berharga ini banyak diekspor ke Timur Tengah, Tiongkok, dan Eropa karena aromanya yang unik dan manfaatnya dalam berbagai produk mewah.

Namun, tingginya permintaan global menyebabkan eksploitasi besar-besaran, yang membuat pohon Aquilaria malaccensis semakin langka. Saat ini, spesies ini masuk dalam daftar Appendix II CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yang berarti perdagangan dan pemanfaatannya harus dikendalikan dengan ketat untuk mencegah kepunahan.

Malinau dan Potensi Gaharu

Di Malinau, khususnya di Desa Long Pada, gaharu telah lama menjadi sumber mata pencaharian masyarakat. Sayangnya, eksploitasi liar oleh pemburu dari luar daerah menyebabkan penurunan populasi pohon gaharu di alam. Untuk mengatasi hal ini, sejak tahun 2008, masyarakat mulai membudidayakan Aquilaria malaccensis di lahan seluas 1-2 hektare per petani.

Meski gaharu hasil budidaya belum bisa menyaingi kualitas gaharu hutan yang lebih hitam pekat dan memiliki nilai jual lebih tinggi, budidaya ini tetap menjadi solusi untuk memenuhi permintaan pasar dan menjaga kelestarian pohon gaharu.

Inovasi: Mengolah Limbah Gaharu Jadi Minyak Atsiri

Untuk meningkatkan nilai ekonomi gaharu, Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi bekerja sama dengan pemerintah daerah memberikan pelatihan bagi masyarakat dalam mengolah limbah gaharu atau "totok" menjadi minyak atsiri berkualitas tinggi.

Proses penyulingan minyak gaharu meliputi beberapa tahap, yaitu:

  1. Pencincangan dan Pengeringan – Totok gaharu dikeringkan hingga siap diolah.
  2. Penggilingan dan Pengukusan – Totok yang sudah kering digiling lalu dikukus selama tiga hari.
  3. Ekstraksi Minyak – Minyak gaharu yang dihasilkan dijual dengan harga sekitar Rp150.000 per gram.

Dari 100 kg totok gaharu, masyarakat dapat menghasilkan 30-40 gram minyak, setara dengan pendapatan Rp4 juta hingga Rp6 juta per proses penyulingan. Selain itu, air bekas penyulingan dapat dijual sebagai parfum walet seharga Rp50.000 per botol, dan ampasnya dimanfaatkan sebagai dupa dengan harga Rp3.000 per kilogram.

Masa Depan Gaharu Malinau di Pasar Global

Dengan upaya pelestarian melalui budidaya dan inovasi pengolahan, Malinau semakin dikenal sebagai produsen gaharu yang berkelanjutan. Industri parfum dunia terus mencari minyak gaharu berkualitas tinggi, dan potensi ekspor dari daerah ini masih sangat besar.

Jika pengelolaan dilakukan dengan bijak, gaharu tidak hanya akan menjadi komoditas unggulan Malinau tetapi juga akan berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat dan pelestarian lingkungan.

Baca juga artikel lainnya :

memilih parfum yang tepat untuk menunjang penampilan anda