Lansia Jepang Minta Dipenjara Karena Kesepian

Eksplora.id - Jepang tengah menghadapi krisis sosial baru di tengah lonjakan populasi lansia. Fenomena ini menyoroti bagaimana kesepian dan ketidakstabilan hidup memaksa banyak lansia, terutama wanita, memilih untuk masuk penjara. Bagi mereka, penjara tidak hanya menjadi tempat hukuman, tetapi juga tempat perlindungan yang menawarkan kehidupan lebih stabil.
Kenapa Lansia Jepang Memilih Penjara?
Penjara wanita seperti Tochigi, yang merupakan lapas terbesar di Jepang, menawarkan berbagai fasilitas yang menyerupai panti jompo. Di dalamnya, para penghuni mendapatkan makanan rutin, perawatan medis gratis, dan dukungan sosial yang sulit ditemukan di luar penjara. Akiyo (81), salah satu narapidana lansia, mengaku lebih memilih tinggal di penjara daripada bertahan hidup dengan pensiun kecil dan minimnya dukungan dari keluarga. “Di sini, saya tidak perlu khawatir soal makanan atau kesehatan,” ungkapnya. Hal serupa juga dialami oleh Yoko (51), yang telah beberapa kali masuk penjara. Ia bahkan sengaja melakukan pelanggaran kecil agar bisa kembali. “Setiap kali saya kembali, penghuni di sini semakin tua. Hidup di penjara terasa lebih terjamin dibandingkan di luar,” katanya.
Krisis Lansia di Luar Penjara
Fenomena ini mencerminkan masalah serius yang dihadapi para lansia di Jepang. Data dari National Institute of Population and Social Security Research menunjukkan bahwa hampir 28% populasi Jepang adalah lansia. Urbanisasi yang pesat dan perubahan struktur keluarga menyebabkan banyak lansia hidup sendirian, tanpa dukungan keluarga. Selain itu, pensiun yang kecil membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan, tempat tinggal, dan perawatan kesehatan. Isolasi sosial dan kesepian juga menjadi masalah besar, yang berdampak pada kesehatan mental dan kualitas hidup mereka.
Kehidupan di Penjara: Lebih Baik dari Dunia Luar?
Penjara di Jepang kini menghadapi lonjakan populasi lansia. Lapas seperti Tochigi telah menyesuaikan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan lansia. Para penghuni menikmati makanan bergizi, layanan kesehatan yang memadai, serta berbagai aktivitas sosial seperti olahraga ringan dan kegiatan seni. Bagi sebagian lansia, penjara menjadi tempat terakhir untuk merasakan kenyamanan dan perhatian. Namun, kondisi ini juga memunculkan tantangan bagi sistem hukum Jepang. Dengan meningkatnya jumlah lansia di penjara, pemerintah harus menghadapi lonjakan anggaran dan kebutuhan fasilitas yang semakin kompleks.
Apakah Fenomena Ini Hanya Terjadi di Jepang?
Fenomena ini juga terjadi di negara-negara lain dengan populasi lansia tinggi, seperti Korea Selatan, Italia, dan Jerman. Namun, negara-negara tersebut memiliki pendekatan yang berbeda dalam menangani isu lansia.
- Di Jerman, program dukungan komunitas dan subsidi kesejahteraan membantu mencegah isolasi sosial.
- Di Korea Selatan, pemerintah menyediakan layanan panti jompo modern dan program kerja paruh waktu untuk lansia.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa kebijakan sosial yang proaktif dapat mencegah lansia dari memilih jalur kriminal untuk bertahan hidup.
Solusi untuk Krisis Lansia di Jepang
Fenomena ini adalah tanda jelas bahwa Jepang harus segera memperkuat sistem kesejahteraan sosial. Beberapa langkah yang dapat diambil, antara lain:
- Membuka pusat aktivitas sosial khusus lansia untuk mengurangi isolasi.
- Meningkatkan jumlah dan kualitas layanan subsidi kesehatan dan perumahan.
- Memberikan akses pekerjaan paruh waktu yang sesuai dengan kemampuan lansia.
Bagi masyarakat, fenomena ini menjadi pengingat untuk lebih peduli terhadap lansia di sekitar mereka. Dukungan sederhana, seperti mengunjungi tetangga lanjut usia atau memastikan mereka tidak merasa sendirian, bisa berdampak besar pada kesejahteraan mereka.
Jangan Biarkan Penjara Jadi Solusi
Bagi Akiyo dan Yoko, penjara telah menjadi tempat perlindungan terakhir di tengah kehidupan yang serba sulit. Namun, penjara bukanlah solusi ideal. Fenomena ini mencerminkan tantangan besar bagi Jepang dalam mengatasi isolasi sosial dan kemiskinan lansia. Dengan populasi lansia yang terus meningkat, Jepang harus segera mengambil langkah konkret untuk memastikan bahwa setiap orang dapat menjalani masa tua dengan aman dan bermartabat—tanpa perlu menjadikan penjara sebagai tempat berlindung.