Strategi Branding Kopi Tuku: Menambahkan Nama di Stasiun MRT Cipete Raya

Kopi Tuku mengambil langkah besar dengan mengakuisisi hak penamaan Stasiun MRT Cipete Raya. Simak sejarah, strategi, serta keuntungan dan tantangan dari langkah inovatif ini!

Feb 8, 2025 - 10:14
Feb 8, 2025 - 10:15
 0  16
Strategi Branding Kopi Tuku: Menambahkan Nama di Stasiun MRT Cipete Raya
Strategi Branding Kopi Tuku: Menambahkan Nama di Stasiun MRT Cipete Raya

Eksplora.id - Toko Kopi Tuku, merek kopi lokal Indonesia yang terkenal dengan konsep kopi grab-and-go, telah mengambil langkah besar dalam strategi brandingnya dengan mengakuisisi hak penamaan (naming rights) Stasiun MRT Cipete Raya di Jakarta. Mulai akhir Januari 2025, stasiun ini resmi berganti nama menjadi Stasiun Cipete Raya TUKU.

Keputusan ini memiliki makna historis bagi Tuku, mengingat kedai pertama mereka berdiri di Jalan Cipete Raya pada tahun 2015. Pendiri Tuku, Andanu Prasetyo, mengungkapkan bahwa kolaborasi dengan MRT Jakarta telah menjadi impian sejak bisnis ini masih kecil. Butuh enam tahun menabung untuk mewujudkan langkah besar ini, mengingat Tuku jarang melakukan promosi besar-besaran.

Sejarah Kopi Tuku: Dari Tugas Kuliah ke Brand Besar

Tahukah kalian bahwa Tuku adalah kepanjangan dari "Tugas Kuliah"? Nama ini muncul karena sang pendiri, Andanu Prasetyo, sering menghabiskan waktunya mengerjakan tugas kuliah sambil menikmati kopi. Dari kebiasaan ini, lahirlah ide untuk menciptakan kedai kopi yang nyaman bagi mahasiswa dan pekerja yang ingin menikmati kopi dengan cara praktis.

Berawal dari kedai kecil di Cipete, Kopi Tuku berkembang pesat berkat popularitas menu Es Kopi Susu Tetangga. Bahkan, Presiden Joko Widodo pernah mampir dan menikmati kopi mereka, yang semakin melambungkan nama Tuku di industri kopi lokal.

Strategi Branding: Apa Keuntungannya?

Mengakuisisi hak penamaan stasiun MRT bukan hanya sekadar promosi, tetapi juga strategi branding jangka panjang. Berikut adalah beberapa manfaat utama bagi Kopi Tuku:

1. Meningkatkan Visibilitas Merek

Nama Tuku kini melekat pada salah satu stasiun MRT Jakarta, yang setiap harinya digunakan oleh ribuan orang. Hal ini meningkatkan eksposur merek secara signifikan tanpa perlu memasang iklan konvensional.

2. Membangun Koneksi Emosional dengan Konsumen

Dengan memilih Cipete Raya sebagai stasiun yang dinamai, Tuku menunjukkan identitas lokalnya dan memperkuat hubungan emosional dengan pelanggan setianya.

3. Mendukung Ekspansi Bisnis

Branding di stasiun MRT berpotensi meningkatkan kunjungan pelanggan ke gerai mereka, terutama dari kalangan komuter yang ingin menikmati kopi cepat saji sebelum atau sesudah perjalanan.

Dibandingkan dengan Brand Lain: Apakah Tuku Bisa Bersaing?

Kopi Tuku bukan satu-satunya merek yang mengadopsi strategi ini. Beberapa merek besar lainnya juga telah membeli hak penamaan stasiun MRT Jakarta:

  • Grab menamai Stasiun Lebak Bulus menjadi Lebak Bulus Grab, dengan biaya sekitar Rp33 miliar per tahun.
  • BNI menamai Stasiun Dukuh Atas menjadi Dukuh Atas BNI, yang kemungkinan memiliki investasi besar seperti Grab.

Namun, berbeda dari Grab dan BNI yang merupakan perusahaan dengan kapital besar, Kopi Tuku adalah merek lokal yang tumbuh secara organik. Biaya hak penamaan untuk Stasiun Cipete Raya diperkirakan berkisar antara Rp3 miliar hingga Rp5 miliar per tahun, angka yang masih cukup besar untuk usaha sekelas Tuku.

Tantangan dan Risiko yang Mungkin Dihadapi

Meskipun strategi ini menarik, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh Kopi Tuku:

1. Beban Finansial

Dengan biaya miliaran rupiah per tahun, apakah strategi ini akan menghasilkan return on investment (ROI) yang sesuai? Tanpa peningkatan signifikan dalam penjualan, ini bisa menjadi beban keuangan.

2. Efektivitas Branding

Tidak semua orang yang melihat nama Tuku di stasiun akan otomatis menjadi pelanggan. Apakah branding ini cukup kuat untuk menarik pelanggan baru atau hanya meningkatkan kesadaran merek tanpa efek langsung pada penjualan?

3. Potensi Kebingungan Publik

Perubahan nama stasiun bisa membingungkan pengguna MRT, terutama mereka yang tidak terbiasa dengan branding komersial pada fasilitas publik.

Dampak Finansial: Apakah Ini Investasi yang Menguntungkan?

Salah satu pertanyaan besar adalah apakah langkah ini benar-benar menguntungkan Kopi Tuku secara finansial. Jika dibandingkan dengan metode pemasaran lain, ada beberapa alternatif yang mungkin lebih efektif:

  • Ekspansi ke lebih banyak lokasi strategis, daripada menghabiskan dana besar untuk branding.
  • Peningkatan kampanye digital dan media sosial, yang bisa memiliki efek lebih luas dengan biaya lebih rendah.
  • Kolaborasi dengan lebih banyak layanan pengantaran online, mengingat tren konsumsi kopi sekarang banyak bergeser ke layanan antar.

Langkah Berani yang Harus Diuji Efektivitasnya

Keputusan Kopi Tuku untuk membeli hak penamaan Stasiun Cipete Raya adalah langkah berani yang mengukuhkan identitas merek mereka sebagai bagian dari gaya hidup urban di Jakarta. Namun, efektivitasnya masih harus diuji dalam jangka panjang.

Jika strategi ini bisa meningkatkan kunjungan ke gerai dan memperkuat loyalitas pelanggan, maka investasi ini bisa dikatakan berhasil. Namun, jika beban biaya terlalu tinggi tanpa dampak signifikan pada penjualan, maka Tuku perlu mempertimbangkan strategi pemasaran lain yang lebih cost-effective.

Bagaimana menurutmu? Apakah strategi ini akan sukses atau justru menjadi beban finansial bagi Kopi Tuku?

Baca juga artikel lainnya :

apa yang membuat kopi luwak mahal temukan jawabannya