Peternakan Tikus di China untuk Konsumsi, Jadi Komoditas Bernilai Ekonomi

Peternakan tikus di China menjadi fakta unik dunia kuliner. Tikus jenis tertentu diternakkan secara khusus untuk dikonsumsi dan memiliki nilai ekonomi di sejumlah wilayah.

Feb 2, 2026 - 23:10
 0  2
Peternakan Tikus di China untuk Konsumsi, Jadi Komoditas Bernilai Ekonomi
Sumber foto : Instagram

Eksplora.id - Di balik citra tikus sebagai hama, China menyimpan fakta unik yang jarang diketahui publik global. Di sejumlah wilayah, tikus justru diternakkan secara khusus untuk dikonsumsi, bahkan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Peternakan tikus ini bukan fenomena ilegal atau sembunyi-sembunyi, melainkan praktik yang telah berlangsung cukup lama dan dijalankan secara terorganisir.

Tikus yang Diternakkan Khusus

Tikus yang dibudidayakan bukanlah tikus liar dari lingkungan kotor. Jenis yang umum diternakkan adalah tikus bambu (bamboo rat), hewan pengerat berukuran besar yang hidup di area pegunungan dan hutan bambu.

Tikus bambu memiliki ciri tubuh gemuk, daging tebal, serta pertumbuhan yang relatif cepat. Hewan ini dipelihara dalam kandang khusus, diberi pakan terkontrol seperti umbi-umbian dan bambu, serta dikelola layaknya ternak pada umumnya.

Menjadi Sumber Pangan Lokal

Di beberapa wilayah selatan China, daging tikus bambu dikenal sebagai bahan makanan tradisional. Olahannya bervariasi, mulai dari digoreng, dipanggang, hingga dimasak dengan bumbu khas daerah.

Bagi masyarakat setempat, konsumsi daging tikus bukan hal ekstrem, melainkan bagian dari kebiasaan kuliner yang telah diwariskan secara turun-temurun. Persepsi “tidak lazim” lebih banyak muncul dari sudut pandang budaya luar.

Bernilai Ekonomi dan Dibudidayakan Massal

Peternakan tikus bambu sempat berkembang pesat karena dinilai menguntungkan secara ekonomi. Modal ternaknya relatif lebih kecil dibandingkan sapi atau kambing, sementara permintaan pasar lokal tetap stabil.

Di beberapa daerah, peternakan tikus bahkan dijadikan komoditas unggulan desa, dengan ratusan hingga ribuan ekor diternakkan oleh satu keluarga. Dagingnya dipasarkan ke pasar tradisional, restoran lokal, hingga rumah makan khusus yang menyajikan hidangan eksotis.

Bukan Semua Jenis Tikus Bisa Dikonsumsi

Perlu dicatat, tidak semua tikus layak atau diternakkan untuk konsumsi. Jenis seperti great bandicoot atau tikus sawah besar umumnya dikenal sebagai hama dan tidak dibudidayakan secara resmi untuk pangan.

Tikus yang dikonsumsi berasal dari jenis tertentu yang telah lama dikenal dan diterima dalam budaya kuliner setempat, dengan proses pemeliharaan yang berbeda dari tikus liar.

Perbedaan Budaya Kuliner Dunia

Fenomena peternakan tikus di China kembali menegaskan bahwa standar makanan sangat dipengaruhi oleh budaya dan lingkungan. Apa yang dianggap menjijikkan di satu negara, bisa menjadi hidangan biasa di negara lain.

Seperti halnya serangga, katak, atau hewan eksotis lain yang dikonsumsi di berbagai belahan dunia, tikus ternak di China menjadi contoh bagaimana kuliner berkembang sesuai konteks sosial dan geografis.

Fakta yang Tak Terbantahkan

Keberadaan peternakan tikus untuk konsumsi di China adalah fakta, bukan mitos atau cerita sensasional semata. Praktik ini tercatat dalam berbagai laporan media internasional dan dokumentasi lapangan, menunjukkan bahwa tikus dapat menjadi bagian dari sistem pangan tertentu jika dibudidayakan secara khusus.**DS

Baca juga artikel lainnya :

mengenal-sengis-si-kecil-yang-masih-satu-keluarga-dengan-gajah