Orang Tua di Solihull Diminta Menunda Pembelian Smartphone untuk Anak-anak
Orang tua di Solihull, Inggris, telah diminta untuk menunda pembelian smartphone untuk anak-anak mereka sebagai bagian dari inisiatif komunitas yang bertujuan mengurangi dampak negatif penggunaan teknologi pada perkembangan anak.

Eksplora.id - Orang tua di Solihull, Inggris, telah diminta untuk menunda pembelian smartphone untuk anak-anak mereka sebagai bagian dari inisiatif komunitas yang bertujuan mengurangi dampak negatif penggunaan teknologi pada perkembangan anak.
Kampanye ini, yang dikenal sebagai "Pause", mendorong orang tua untuk tidak memberikan smartphone kepada anak-anak mereka hingga mencapai usia 11 tahun. Inisiatif ini muncul sebagai respons terhadap kekhawatiran yang berkembang mengenai efek penggunaan smartphone terhadap kesehatan mental, kemampuan sosial, dan prestasi akademik anak-anak.
Dampak Negatif Penggunaan Smartphone pada Anak
Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa penggunaan smartphone yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai masalah, seperti:
- Kurangnya konsentrasi di sekolah karena sering terganggu notifikasi dan akses media sosial.
- Gangguan tidur, terutama akibat paparan cahaya biru dari layar sebelum tidur.
- Penurunan interaksi sosial tatap muka, yang dapat mempengaruhi kemampuan komunikasi dan empati anak.
Menurut sebuah studi dari University College London (UCL), anak-anak yang menghabiskan lebih dari tiga jam sehari di depan layar memiliki risiko 33% lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan mental dibandingkan mereka yang menggunakan perangkat lebih sedikit.
Bagaimana Kampanye Ini Dijalankan?
Sebagai bagian dari kampanye ini, sekolah-sekolah di Solihull mulai menerapkan kebijakan baru, seperti:
- Mendorong anak-anak menaruh smartphone di loker selama jam belajar, sehingga mereka bisa fokus tanpa gangguan.
- Mengadakan seminar edukasi bagi orang tua tentang cara mengelola penggunaan teknologi anak-anak mereka.
- Mengenalkan kegiatan offline, seperti klub olahraga dan seni, sebagai alternatif hiburan bagi anak-anak.
Beberapa orang tua juga mulai bergabung dalam komunitas "Pause", di mana mereka saling mendukung dalam menunda pembelian smartphone untuk anak-anak mereka.
Pro dan Kontra dari Kampanye "Pause"
Meskipun kampanye ini mendapat dukungan luas dari sekolah dan organisasi kesehatan, tidak semua orang tua setuju.
Pendukung kampanye ini berpendapat bahwa:
- Anak-anak lebih fokus saat belajar dan lebih aktif secara sosial.
- Risiko kecanduan media sosial dan game online bisa dikurangi.
- Masa kanak-kanak bisa lebih bebas dari tekanan digital.
Namun, ada juga kritik terhadap inisiatif ini, dengan alasan:
- Anak-anak mungkin akan merasa tertinggal dibanding teman-teman mereka yang memiliki smartphone.
- Kurangnya akses ke teknologi dapat membuat anak-anak kurang siap menghadapi dunia digital di masa depan.
- Orang tua kesulitan menghubungi anak mereka saat keadaan darurat.
Seorang ibu dari Solihull, Sarah Mitchell, mengungkapkan, "Saya setuju dengan kampanye ini karena saya ingin anak saya lebih fokus pada interaksi nyata, bukan layar. Namun, saya juga ingin ada solusi tengah, seperti smartphone dengan akses terbatas."
Di sisi lain, James Carter, seorang ayah dengan anak berusia 10 tahun, berkata, "Teknologi adalah bagian dari kehidupan modern. Jika kita tidak memperkenalkan smartphone lebih awal, mereka bisa kesulitan menyesuaikan diri nanti."
Bagaimana dengan Negara Lain?
Solihull bukan satu-satunya yang mengambil langkah ini. Beberapa negara dan kota lain juga menerapkan kebijakan serupa:
- Belanda: Sekolah-sekolah di Amsterdam melarang penggunaan smartphone di dalam kelas untuk meningkatkan fokus belajar.
- Prancis: Pemerintah telah melarang penggunaan smartphone di sekolah dasar dan menengah sejak 2018.
- Amerika Serikat: Beberapa distrik sekolah telah mulai membatasi akses smartphone selama jam sekolah.
Solusi Alternatif
Bagi orang tua yang ingin menjaga keseimbangan antara teknologi dan perkembangan anak, beberapa solusi bisa diterapkan:
- Gunakan parental control untuk mengatur waktu penggunaan dan aplikasi yang bisa diakses.
- Berikan ponsel tanpa akses internet untuk komunikasi darurat tanpa risiko distraksi.
- Dorong anak-anak untuk menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, misalnya hanya untuk belajar atau menghubungi keluarga.
Meskipun kampanye "Pause" masih menuai pro dan kontra, inisiatif ini menyoroti pentingnya menciptakan keseimbangan dalam penggunaan teknologi bagi anak-anak. Keputusan akhir tetap berada di tangan orang tua, yang memahami kebutuhan dan kesiapan anak mereka dalam menghadapi era digital.
Baca juga artikel lainnya :