Mengapa Orang di Tiongkok Enggan Menolong Orang Tenggelam?
Di berbagai belahan dunia, menyelamatkan orang yang tenggelam dianggap sebagai tindakan heroik dan kemanusiaan. Namun, muncul anggapan bahwa di Tiongkok, masyarakat enggan atau bahkan dilarang menolong orang yang tenggelam.

Eksplora.id - Di berbagai belahan dunia, menyelamatkan orang yang tenggelam dianggap sebagai tindakan heroik dan kemanusiaan. Namun, muncul anggapan bahwa di Tiongkok, masyarakat enggan atau bahkan dilarang menolong orang yang tenggelam. Benarkah demikian? Apakah ada aturan yang melarang seseorang membantu orang lain dalam situasi darurat seperti ini? Artikel ini akan mengupas mitos dan fakta terkait fenomena tersebut serta faktor-faktor yang melatarbelakanginya.
Apakah Menolong Orang Tenggelam Dilarang di Tiongkok?
Secara hukum, tidak ada aturan yang secara eksplisit melarang seseorang menyelamatkan orang tenggelam di Tiongkok. Namun, ada beberapa faktor sosial dan budaya yang membuat banyak orang ragu untuk bertindak dalam situasi darurat. Keengganan ini bukan berasal dari larangan hukum, melainkan dari pengalaman hukum masa lalu, persepsi sosial, dan ketidakpastian terhadap konsekuensi yang mungkin terjadi setelah menolong seseorang.
Faktor-Faktor yang Membuat Orang Ragu Menolong di Tiongkok
1. Kasus Hukum yang Menciptakan Efek Takut
Salah satu faktor utama yang membuat masyarakat Tiongkok ragu untuk menolong adalah adanya kasus hukum di mana orang yang membantu justru dituntut secara hukum oleh korban atau keluarganya.
Kasus paling terkenal adalah Kasus Peng Yu (2006), di mana seorang pria bernama Peng Yu membantu seorang wanita tua yang terjatuh di jalan. Namun, wanita tersebut justru menggugat Peng Yu dan menuduhnya sebagai penyebab kejatuhannya. Yang mengejutkan, pengadilan memutuskan bahwa Peng Yu bersalah dan harus membayar kompensasi. Hakim beralasan bahwa "tidak mungkin seseorang akan membantu kecuali dia merasa bersalah."
Keputusan ini menimbulkan efek ketakutan yang luas di masyarakat. Banyak orang khawatir bahwa jika mereka menolong seseorang, mereka bisa dituduh sebagai penyebab kejadian tersebut dan harus menghadapi konsekuensi hukum yang berat.
2. Kurangnya Hukum Perlindungan bagi Penolong
Di banyak negara seperti Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, ada hukum Good Samaritan Law yang melindungi individu yang membantu orang lain dalam situasi darurat dari tuntutan hukum. Namun, di Tiongkok, hukum semacam ini baru diperkenalkan pada tahun 2017.
Sebelum adanya hukum ini, masyarakat merasa tidak aman untuk bertindak karena tidak ada jaminan perlindungan dari tuntutan hukum. Meskipun saat ini aturan telah diperbarui untuk melindungi para penolong, efek psikologis dari kasus-kasus sebelumnya masih membekas dan membuat masyarakat tetap waspada.
3. Pengaruh Budaya dan Filosofi Tradisional
Dalam budaya tradisional Tiongkok, ada kepercayaan bahwa setiap orang memiliki "takdir" atau "mandat langit" (天命, tiānmìng). Meskipun tidak ada aturan eksplisit yang menyatakan bahwa menolong orang tenggelam bertentangan dengan prinsip ini, beberapa interpretasi budaya percaya bahwa ikut campur dalam kejadian tertentu bisa mengganggu keseimbangan alam.
Selain itu, ada konsep budaya "事不关己,高高挂起" (shì bù guān jǐ, gāogāo guà qǐ) yang berarti "jika bukan urusan kita, lebih baik jangan ikut campur." Filosofi ini telah menjadi bagian dari kehidupan sosial di Tiongkok, di mana banyak orang memilih untuk tidak terlibat dalam masalah yang bisa membawa risiko bagi mereka sendiri.
4. Kasus Orang Tenggelam yang Tidak Ditolong
Beberapa insiden yang terjadi di Tiongkok semakin memperkuat anggapan bahwa masyarakat enggan menolong orang yang tenggelam. Salah satu kejadian yang terkenal terjadi di Sungai Yangtze, di mana sekelompok orang melihat seseorang tenggelam tetapi tidak ada yang turun untuk menyelamatkannya. Sebaliknya, banyak orang hanya merekam kejadian tersebut dengan ponsel mereka.
Insiden lain terjadi di Provinsi Zhejiang, di mana seorang anak kecil jatuh ke sungai dan butuh pertolongan. Meskipun ada banyak orang di sekitar, hanya satu orang yang berusaha menolong, sementara yang lain tetap diam karena takut dituntut jika anak tersebut tidak selamat.
Perubahan Regulasi dan Upaya Mengatasi Masalah
Sejak tahun 2017, pemerintah Tiongkok telah menerapkan hukum Good Samaritan Law, yang melindungi individu yang menolong orang lain dalam keadaan darurat dari tuntutan hukum. Dengan adanya hukum ini, diharapkan masyarakat lebih berani bertindak dalam situasi kritis tanpa takut menghadapi konsekuensi hukum yang tidak adil.
Selain itu, pemerintah dan organisasi sosial juga telah melakukan kampanye edukasi untuk mengubah pola pikir masyarakat dan mendorong rasa kepedulian terhadap sesama. Banyak kota di Tiongkok kini memiliki program pelatihan pertolongan pertama bagi warga, termasuk cara menyelamatkan orang tenggelam dengan aman.
Meskipun tidak ada hukum di Tiongkok yang secara eksplisit melarang menyelamatkan orang tenggelam, ada berbagai faktor yang membuat masyarakat ragu untuk bertindak. Kasus hukum masa lalu, kurangnya perlindungan hukum sebelum 2017, serta pengaruh budaya dan filosofi tradisional membuat banyak orang memilih untuk tidak terlibat dalam situasi darurat.
Namun, dengan adanya perubahan regulasi dan kampanye edukasi, diharapkan stigma ini dapat berkurang dan masyarakat Tiongkok menjadi lebih aktif dalam membantu sesama tanpa rasa takut akan konsekuensi hukum. Fenomena ini menunjukkan betapa pentingnya perlindungan hukum bagi mereka yang ingin berbuat baik, serta perlunya membangun kepercayaan sosial agar tindakan kemanusiaan tidak lagi dipandang sebagai risiko.
Baca juga artikel lainnya :