Kementerian Bentuk Holder UMKM untuk Kolaborasi dan Inovasi

Eksplora.id - Dalam upaya mendukung pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia, Kementerian UMKM berencana membentuk holder UMKM sebagai wadah untuk memperkuat kolaborasi, inovasi, dan pemasaran. Pengambilan langkah ini untuk mengatasi berbagai tantangan bagi UMKM, termasuk akses pasar, pendanaan, dan transformasi digital.
UMKM Holding untuk Kolaborasi dengan Industri Besar
Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, menyatakan bahwa holder UMKM akan berfungsi sebagai pusat koordinasi antara berbagai pihak terkait, termasuk pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan, dan komunitas kreatif. "Kami ingin menciptakan ekosistem yang terintegrasi untuk mendukung UMKM agar lebih kompetitif, baik di pasar lokal maupun internasional," ujarnya dalam konferensi pers pada Kamis, 4 Januari 2025, di Jakarta. Maman menilai bahwa holding UMKM akan menjadi wadah yang menghubungkan pelaku UMKM dengan industri besar, mempermudah mereka untuk mengakses berbagai kebutuhan bisnis seperti pelatihan produksi, akses pembiayaan, perencanaan bisnis, serta dukungan rantai pasok dan investor. "Dengan terbentuknya holding ini, kami ingin menciptakan ekosistem yang saling mendukung, di mana UMKM dan industri besar tidak lagi terpisah," tambahnya.
Memperkuat Sektor UMKM Lewat Ekosistem yang Terhubung
Maman memberikan contoh sektor otomotif yang sudah sukses membangun hubungan simbiotik antara industri besar dan UMKM dalam penyediaan komponen. "Industri otomotif telah berhasil mengembangkan ekosistem antara industri besar dan UMKM yang saling mendukung. Kami berharap dapat menerapkan model ini pada sektor lainnya," ujarnya. Selain sektor otomotif, Maman berharap holder UMKM dapat membantu sektor-sektor lainnya seperti pertanian, makanan dan minuman, serta suvenir. Dengan kolaborasi yang erat, UMKM dari berbagai sektor akan mampu berkembang dan naik kelas.
Akses Pasar dan Pendanaan yang Lebih Mudah
Salah satu fokus utama dari holder UMKM adalah mempermudah akses pasar bagi pelaku usaha. Data Kemenkop UKM menunjukkan bahwa 72% UMKM di Indonesia masih bergantung pada pasar lokal, dengan tantangan utama berupa kurangnya informasi tentang jaringan distribusi. Kementerian berencana menggandeng berbagai marketplace besar seperti Tokopedia dan Shopee untuk membuka jalur distribusi baru ke pasar global. Dari sisi pendanaan, holder UMKM akan menyediakan akses ke berbagai skema pembiayaan, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga rendah dan program pendanaan berbasis syariah. Selain itu, platform ini juga akan mempermudah pelaku UMKM dalam mengajukan pendanaan secara digital.
Dorong Transformasi Digital untuk UMKM
Menghadapi era digitalisasi, Kementerian Koperasi dan UKM juga akan meluncurkan program edukasi dan pelatihan dalam holder UMKM. Pelaku UMKM akan dilatih untuk memanfaatkan teknologi digital dalam proses produksi, pemasaran, hingga manajemen keuangan. Program ini akan terlaksana dengan dukungan kolaborasi bersama perusahaan teknologi terkemuka, seperti Google dan Microsoft, yang akan menyediakan pelatihan gratis bagi pelaku UMKM berbagai daerah.
Perspektif Pelaku UMKM
Banyak pelaku UMKM yang menyambut baik inisiatif ini karena mereka berharap dapat mengatasi kesulitan pemasaran, khususnya ke luar daerah. Mereka juga menilai pentingnya pendampingan yang berkesinambungan agar program ini tidak hanya menjadi sekadar wacana. Edukasi dan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan lapangan juga penting untuk memaksimalkan manfaat program ini.
Harapan untuk Masa Depan UMKM Indonesia
Harapan ke depan, langkah ini memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan kontribusi UMKM yang mencapai 61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap 97% tenaga kerja, penguatan sektor ini sangat strategis. "Kami optimis bahwa holder UMKM ini akan menjadi solusi jangka panjang yang mendukung pemberdayaan pelaku usaha kecil di seluruh Indonesia," tambah Menteri Maman Abdurrahman. Peluncuran program ini akan secara resmi terselenggara pada Juli 2025, mulai dengan uji coba pada lima kota besar, yaitu Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, dan Yogyakarta. Keberhasilan program ini diharapkan dapat menjadi model bagi negara lain dalam pengembangan sektor UMKM. Dengan langkah ini, UMKM Indonesia diharapkan mampu bersaing di pasar global dan membawa nama Indonesia semakin dikenal di kancah internasional. .