Tari Nyambai Ugan, Warisan Sakral Suku Ogan yang Terus Dijaga Selama Ratusan Tahun

Tari Nyambai Ugan merupakan seni tari warisan Suku Ogan di Sumatera Selatan yang telah diwariskan selama ratusan tahun. Tarian sakral ini menyimpan nilai sejarah, adat, dan sopan santun yang masih dilestarikan hingga kini.

Jul 17, 2026 - 12:22
 0  4
Tari Nyambai Ugan, Warisan Sakral Suku Ogan yang Terus Dijaga Selama Ratusan Tahun
Sumber foto : Instagram

Eksplora.id - Di tengah derasnya arus modernisasi, masih ada sekelompok perempuan lanjut usia yang setia menjaga warisan budaya leluhur. Di Desa Gunung Tiga, Kecamatan Ulu Ogan, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, para nining atau kajut masih terus menarikan Tari Nyambai Ugan, sebuah tarian adat yang telah hidup di tengah masyarakat Ogan selama ratusan tahun.

Gerakan mereka mungkin tidak lagi selincah masa muda. Namun setiap langkah, setiap ayunan tangan, hingga setiap tatapan mata tetap memancarkan keanggunan yang sarat makna.

Bagi masyarakat Ogan, Tari Nyambai Ugan bukan sekadar pertunjukan seni. Ia adalah warisan leluhur yang menyimpan identitas, nilai adat, dan sejarah panjang sebuah suku.

Lebih dari Sekadar Tarian Tradisional

Keindahan Tari Nyambai Ugan tidak hanya terletak pada gerakannya yang lembut. Di balik setiap gerakan tersimpan filosofi kehidupan masyarakat Ogan, terutama tentang "ngelapani", sebuah nilai yang mengajarkan sopan santun, penghormatan, serta tata krama yang menjadi karakter perempuan Ogan sejak dahulu.

Gerakan yang sederhana namun anggun mencerminkan bagaimana masyarakat Ogan memandang kesopanan sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itulah, tarian ini memiliki nuansa sakral yang tidak mudah dipisahkan dari adat istiadat masyarakatnya.

Salah Satu Tarian Tertua di Sumatera Selatan

Dalam khazanah budaya Sumatera Selatan, Tari Nyambai Ugan termasuk salah satu tarian tradisional tertua yang masih dikenal hingga sekarang.

Keberadaannya sejajar dengan sejumlah tari adat lain yang juga memiliki nilai historis tinggi, seperti Tari Kebagh dari Besemah, Tari Andun dari Serawai, Tari Tigol dari Komering, hingga Tari Kejei dari Rejang.

Catatan sejarah bahkan menunjukkan bahwa Tari Nyambai telah dikenal sejak abad ke-19. Dalam tulisan Praetorius pada tahun 1843, tarian ini disebut sebagai bagian penting dari kehidupan adat masyarakat Ogan. Dokumentasi lain, termasuk Buku Sejarah Marga Proatin IV Suku I tahun 1946, juga mencatat bahwa kesenian ini berkembang luas, baik di wilayah Ulu maupun Ulak.

Hal tersebut menunjukkan bahwa Tari Nyambai Ugan bukan hanya bertahan melalui cerita lisan, tetapi juga memiliki jejak historis yang terdokumentasi.

Desa Gunung Tiga, Salah Satu Penjaga Tradisi

Salah satu tempat yang hingga kini masih menjaga tradisi Tari Nyambai Ugan adalah Desa Gunung Tiga di Kecamatan Ulu Ogan.

Secara historis, desa ini pernah menjadi bagian dari Marga Samikerian yang berpusat di Desa Pengandonan pada masa sistem kemargaan.

Menurut ingatan kolektif masyarakat setempat, leluhur Desa Gunung Tiga diyakini berasal dari keturunan Puyang Patih Jentire yang datang dari kawasan dataran tinggi Ranau.

Warisan sejarah tersebut masih hidup hingga kini melalui berbagai tradisi adat, termasuk pelestarian Tari Nyambai Ugan.

Pelestarian yang Membutuhkan Generasi Penerus

Di tengah perubahan zaman, keberadaan para penari senior menjadi pengingat bahwa budaya hanya akan bertahan jika terus diwariskan.

Revitalisasi Tari Nyambai Ugan bukan hanya soal mempertahankan sebuah pertunjukan tari. Yang jauh lebih penting adalah membangun kembali rasa memiliki terhadap budaya sendiri (sense of belonging), terutama di kalangan generasi muda.

Tanpa upaya tersebut, bukan tidak mungkin warisan yang telah bertahan selama ratusan tahun perlahan menghilang karena kurangnya penerus.

Menjaga Identitas Budaya Ogan

Tari Nyambai Ugan adalah bukti bahwa sebuah tarian mampu menjadi arsip hidup sebuah peradaban. Ia menyimpan cerita tentang nilai-nilai masyarakat, hubungan antargenerasi, hingga perjalanan sejarah Suku Ogan yang terus diwariskan dari masa ke masa.

Di balik setiap gerakan yang tampak sederhana, tersimpan pesan tentang penghormatan kepada leluhur, kesopanan dalam kehidupan, serta identitas budaya yang tidak ternilai.

Melestarikan Tari Nyambai Ugan berarti menjaga salah satu lembar penting sejarah Sumatera Selatan agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi Indonesia di masa depan.**DS

Baca juga artikel lainnya :

rajutan-ibu-ibu-di-spanyol-ini-bukan-sekadar-seni-tapi-juga-bikin-jalanan-lebih-sejuk