Hampir 47% Orang Indonesia Makan karena Emosi, Bukan Lapar

Sebanyak 47% orang Indonesia makan karena emosi, bukan lapar. Kenali emotional eating, penyebabnya, dan dampaknya bagi kesehatan.

Apr 20, 2026 - 23:20
 0  3
Hampir 47% Orang Indonesia Makan karena Emosi, Bukan Lapar
Sumber foto : Istock

Eksplora.id - Siapa sangka, hampir separuh masyarakat Indonesia ternyata makan bukan karena lapar. Berdasarkan survei terbaru, sekitar 47% orang Indonesia mengaku makan untuk meredam emosi seperti stres, rasa bosan, atau sekadar mengalihkan pikiran.

Fenomena ini dikenal sebagai emotional eating—yakni kondisi ketika seseorang mencari makanan bukan karena kebutuhan fisik, melainkan dorongan emosional.

Makan sebagai Pelarian Emosi

Dalam praktiknya, emotional eating sering kali terjadi tanpa disadari. Saat merasa tertekan, lelah, atau jenuh, makanan menjadi “pelarian cepat” yang memberikan rasa nyaman sesaat.

Sayangnya, yang dicari bukan nilai gizi, melainkan efek psikologis—rasa tenang, senang, atau sekadar distraksi dari masalah.

Inilah yang membuat emotional eating berbeda dari rasa lapar biasa. Tubuh mungkin tidak membutuhkan asupan energi, tetapi pikiran merasa “butuh sesuatu”.

Dipicu Stres hingga Kebiasaan

Ada beberapa faktor yang memicu kebiasaan ini, di antaranya:

  • Stres dan tekanan hidup: Beban pekerjaan, masalah pribadi, hingga tekanan sosial sering kali menjadi pemicu utama.
  • Burnout: Kelelahan mental yang berkepanjangan membuat seseorang mencari pelampiasan instan.
  • Kebiasaan sehari-hari: Misalnya, terbiasa ngemil saat menonton atau bekerja, yang lama-kelamaan menjadi pola otomatis.

Ketiganya saling berkaitan. Stres bisa memicu kebiasaan, dan kebiasaan yang berulang bisa memperkuat pola emotional eating.

Dampak yang Perlu Diwaspadai

Meski terlihat sepele, emotional eating bisa berdampak pada kesehatan jika terjadi terus-menerus. Mulai dari peningkatan berat badan, gangguan pola makan, hingga perasaan bersalah setelah makan.

Lebih jauh, kebiasaan ini juga tidak menyelesaikan akar masalah emosional, sehingga siklusnya bisa terus berulang.

Jadi, Mana yang Paling Berpengaruh?

Jika ditanya mana yang paling dominan—stres, burnout, atau kebiasaan—jawabannya bisa berbeda untuk setiap orang.

Namun secara umum, stres adalah pemicu awal, sementara kebiasaan menjadi faktor yang mempertahankan perilaku tersebut dalam jangka panjang. Burnout sendiri sering menjadi titik di mana keduanya bertemu dan semakin memperkuat dorongan untuk makan secara emosional.

Emotional eating bukanlah sesuatu yang harus disalahkan, karena ini adalah respons alami manusia terhadap tekanan. Namun, menyadarinya adalah langkah pertama untuk mengelolanya.

Karena pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan selalu makanan—kadang hanya jeda, istirahat, atau cara lain untuk berdamai dengan perasaan.**DS

Baca juga artikel lainnya :

bisnis-fnb-sering-terjebak-sejak-awal-kenali-3-jebakan-penting-ini