Harpa Mulut: Alat Musik Sederhana dengan Suara Magis yang Mendunia

Harpa mulut, alat musik sederhana dengan suara magis, kembali hidup berkat upaya Bejo Sandy. Simak sejarah, persebaran, dan pelestariannya di Indonesia.

Apr 14, 2026 - 09:51
 0  6
Harpa Mulut: Alat Musik Sederhana dengan Suara Magis yang Mendunia
Sumber foto : Instagram

Eksplora.id - Di tengah gempuran alat musik modern dan digital, ada satu instrumen kecil yang justru menyimpan pesona luar biasa: harpa mulut. Meski bentuknya sederhana dan sering kali dianggap “alat musik kampung”, harpa mulut mampu menghasilkan suara unik yang sulit ditiru oleh instrumen lain. Bahkan, di berbagai belahan dunia, alat ini telah menjadi bagian penting dari tradisi musik dan budaya lokal.

Di balik keberadaan alat musik sederhana ini, ada sosok yang berupaya menjaga suaranya tetap hidup. Salah satunya adalah Bejo Sandy, pegiat budaya yang konsisten mengenalkan harpa mulut, khususnya Rinding dari Malang, kepada generasi masa kini.

Dari Rinding Malang yang Nyaris Hilang

Perjalanan Bejo Sandy berangkat dari kegelisahan sederhana: Rinding Malang yang dulu dikenal, perlahan menghilang. Minimnya regenerasi membuat alat musik ini sempat berada di ambang kepunahan.

Alih-alih membiarkannya lenyap, Bejo memilih bergerak. Ia mulai mendokumentasikan, mempelajari kembali teknik permainan, hingga memproduksi ulang Rinding. Upaya tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih luas, termasuk memperkenalkan alat ini kepada generasi muda dan mengolaborasikannya dengan musik modern.

Langkah-langkah ini bukan sekadar pelestarian, tetapi sebuah upaya menghidupkan kembali tradisi yang sempat terputus.

Menelusuri Jejak di Seluruh Nusantara

Komitmen itu membawa Bejo Sandy melangkah lebih jauh. Bersama timnya, ia kini berkeliling Indonesia untuk meneliti sekaligus mendokumentasikan persebaran harpa mulut.

Perjalanan ini mempertemukannya dengan para pelaku seni, pengrajin, hingga komunitas lokal yang masih mempertahankan tradisi tersebut. Dari sana terungkap bahwa harpa mulut tersebar luas di berbagai pulau besar di Indonesia.

Di setiap daerah, alat ini hadir dengan nama dan karakter berbeda:

  • Jawa Barat: Karinding
  • Sumatera Utara: Hodong-hodong
  • Malang: Rinding
  • Kalimantan Selatan: Kuriding
  • Bali: Genggong
  • Papua: Pikon atau Pikonane

Keberagaman ini menunjukkan bahwa harpa mulut bukan sekadar instrumen, melainkan bagian dari identitas budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Jejak Panjang hingga Kancah Global

Meski kerap dianggap sederhana, harpa mulut memiliki sejarah panjang yang melintasi batas negara.

Berdasarkan data nomenclature per Januari 2025, terdapat setidaknya 1.178 jenis harpa mulut di seluruh dunia. Di Museum Volkenkunde Belanda, tercatat 158 nama harpa mulut dari Indonesia dengan 95 artefak yang tersimpan.

Salah satu yang tertua adalah Pikon atau Pikonane dari Papua yang berasal dari tahun 1831 Masehi, sementara yang lebih muda adalah Karinding dari tahun 1967. Data ini memperlihatkan bahwa harpa mulut telah lama menjadi bagian dari perjalanan budaya manusia.

Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari

Harpa mulut tidak hanya hadir dalam ruang pertunjukan. Dalam kehidupan masyarakat, alat ini memiliki peran yang lebih dekat dan personal.

Bejo Sandy menuturkan bahwa para petani dan penggembala kerap memainkan harpa mulut saat berada di sawah atau ladang. Selain mengisi waktu luang, aktivitas ini juga menjadi bentuk interaksi sederhana antara manusia dan lingkungan sekitarnya.

Di titik ini, harpa mulut bukan hanya dimainkan—ia menjadi bagian dari keseharian.

Menghidupkan Kembali, Bukan Sekadar Menjaga

Rinding Malang pernah berada di titik hampir hilang. Namun melalui upaya yang konsisten, alat musik ini kembali dikenal dan diproduksi.

Apa yang dilakukan Bejo Sandy tidak berhenti pada menjaga, tetapi juga membawa Rinding masuk ke ruang yang lebih luas—melalui dokumentasi, edukasi, hingga kolaborasi lintas genre.

Dengan cara ini, tradisi tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diberi ruang untuk berkembang.

Diakui sebagai Warisan Budaya

Upaya tersebut akhirnya mendapatkan pengakuan. Harpa mulut, termasuk Rinding, kini tercatat sebagai salah satu dari enam Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Kabupaten Malang yang disahkan pada tahun 2026.

Pengakuan ini menjadi langkah penting dalam memastikan bahwa tradisi ini tetap memiliki tempat di masa depan.

Suara Kecil dengan Makna Besar

Harpa mulut mungkin sering dianggap remeh karena bentuknya yang kecil dan cara memainkannya yang sederhana. Namun di balik itu, tersimpan jejak sejarah panjang, identitas budaya, dan nilai kehidupan yang tidak tergantikan.

Perjalanan Bejo Sandy menjadi pengingat bahwa menjaga tradisi bukan hanya tentang mempertahankan masa lalu, tetapi juga memberi ruang agar ia terus hidup di masa depan.

Karena ketika satu suara tradisi hilang, yang lenyap bukan hanya bunyinya—tetapi juga cerita yang menyertainya.**DS

Baca juga artikel lainnya :

indonesia-ajukan-teater-tradisional-mak-yong-sebagai-warisan-budaya-takbenda-unesco